Advertisement

Kasus Menurun, Warga Gunungkidul Diminta Tetap Waspadai Ancaman DBD

David Kurniawan
Rabu, 10 November 2021 - 08:27 WIB
Bernadheta Dian Saraswati
Kasus Menurun, Warga Gunungkidul Diminta Tetap Waspadai Ancaman DBD Ilustrasi - Pixabay

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Kesehatan mengklaim kasus demam berdarah di Gunungkidul menurun drastis dibandingkan kasus di 2020. Meski demikian, masyarakat diminta tetap mewasapadai ancaman DBD karena di musim hujan ada potensi kenaikan kasus.

Dari data yang ada, hingga akhir Oktober lalu, jumlah warga yang terjangkit DBD ada 70 kasus. Jumlah ini menurun sangat signifikan karena di tahun lalu warga yang terserang sebanyak 975 kasus

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, jika melihat data yang ada, kasus DBD di Bumi Handayani menurun tajam dibandingkan di 2020. Terlebih lagi di tahun ini, dari 70 kasus yang tercatat tidak ada pasien yang meninggal dunia karena gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Meski ada tren menurun, ia berpesan kepada masyarakat untuk tetap waspada karena memasuki musim hujan ada potensi serangan meningkat. Menurut dia, kewaspadaan terhadap ancaman penyakit DBD bisa dilakukan dengan terus menjalankan program hidup bersih sehat dan berolahraga.

Selain itu, gerakan untuk menutup mengubur dan menguras tempat-tempat wadah air harus tetap dilakukan. “Tentunya harus didukung dengan makanan yang bergizi. Program pemberantasan sarang nyamuk tetap harus dilakukan secara berkala melalui gerakan 3M,” katanya.

Dia menambahkan, masyarakat sudah paham berkaitan dengan upaya pencegahan. Meski demikian, harus ada upaya mengingatkan karena ancaman tidak sepenuhnya bisa dihilangkan. “Untuk pencegahan memang membutuhkan partisipasi dari masyarakat,” katanya.

Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sumitro. Menurut dia, tren serangan DBD sudah terpetakan dengan masa puncak pada Januari hingga April. Meski demikian, sambung dia, untuk tahun ini jumlah serangan lebih sedikit ketimbang kasus di 2020. “Mudah-mudahan ancaman dapat terus diturunkan,” katanya.

Secara umum, lanjut Sumitro, pola ancaman di musim hujan lebih tinggi ketimbang saat musim kemarau. Hal ini dikarenakan saat musim hujan banyak lokasi-lokasi genangan air sehingga menjadi media berkembangbiak nyamuk penyebab penyakit DBD. “Polanya memang seperti itu. Oleh karenanya, masyarakat harus waspada karena ancaman tetap ada, meski kasusnya cenderung turun,” katanya. 

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Polisi Bongkar 10 Kasus Investasi Bodong, Ini Daftarnya!

News
| Rabu, 28 September 2022, 16:57 WIB

Advertisement

alt

Suka Liburan, Yuk Patuhi 5 Etika Saat Berwisata

Wisata
| Senin, 26 September 2022, 22:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement