Perbanyak Akses Literasi Masyarakat dengan Perpustakaan Keliling

Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo (kiri); Ketua DPR RI, Puan Maharani (tengah) dan Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando dalam penyerahan mobil perpustakaan keliling, di resto banyu Mili, Kapanewon Gamping, Sleman, Kamis (11 - 11). ist
12 November 2021 08:27 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat, Perpustakaan Nasional memperbanyak akses terhadap buku sebagai sumber literasi, salah satunya dengan pengoperasian perpustakaan keliling di sejumlah daerah.

Salah satu daerah yang mendapatkan fasilitas ini adalah Kabupaten Bantul. Perpusnas menyerahkan perpustakaan keliling kepada Pemkab Bantul dengan didampingi pula Ketua DPR RI, Puan Maharani, pada Kamis (11/11/2021), di resto Banyu Mili, Kapanewon Gamping, Sleman.

Kepala Perpusnas, Muhammad Syarif Bando, mengatakan pemberian layanan perpustakaan keliling ini sebatas sebagai stimulan saja, dengan harapan Pemkab Bantul maupun daerah sekitarnya dapat mereplikasi program serupa untuk memperbanyak akses buku bagi masyarakat.

Dalam lima tahun terakhir, sudah ada sebanyak 700 unit perpustakaan keliling yang dibagikan oleh Perpusnas di berbagai daerah. “Masih banyak daerah yang belum mereplika. Perlu perjuangan untuk memastikan perpustakaan menjadi bagian tak terpisahkan untuk meningkatkan kualitas SDM [sumber daya manusia], mengantarkan Indonesia menjadi bangsa produsen,” ujarnya.

Baca juga: Datang ke Jogja, Puan Maharani Langsung Mengajar Sejarah di SD Godean

Masyarakat perlu memperluas wawasan dengan akses yang ada tidak hanya pada ilmu yang didapat di kelas. Ilmu yang didapat mulai dari pra TK hingga doctoral menurutnya hanya 10% saja. Maka perlu dibuka ruang untuk berimprovisasi di luar pendidikan formal.

Ia memandang tingkat literasi masyarakat Indonesia harus dipandu oleh buku ilmu terapan dan life skill. “Semua orang akan mau membaca kalau valuenya menambah ekonominya. Mereka yang terdampak [pandemi] diberhentikan, perlu lapangan kerja. Berikan buku yang memungkinkan dia bisa mempraktekkan, misal tukang cukur, itu mendorong orang untuk membaca,” katana.

Selain dengan perpustakaan keliling, solusi untuk memperbanyak akses buku yakni dengan buku digital. Dengan satu buku yang digitalkan akan menembus jutaan kepala dan menumbuhkan miliaran nilai kemanusiaan baru.

Dengan budaya literasi yang kuat, diharapkan sesuai apa yang menjadi cita-cita Presiden RI, Joko Widodo, yakni Indonesia tidak sebatas menjadi pengguna teknologi tapi juga produsen teknologi. ia mencontohkan seperti handphone dan mobil sampai saat ini masyarakat masih menjadi pengguna dari produk impor, padahal tak kurang sarjana elektronik dan otomotif.

“Ini yang ditegaskan Presiden Jokowi, Indonesia tidak boleh kehilangan momentum lagi untuk memulai membangun produk mobil listrik, dengan segala potensi yang ada. Apakah swasta atau pemerintah, terserah yang penting harus produksi,” ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, Perpusnas telah memimpin perpustakaan nasional terbaik dunia dalam penyajian jurnal ilmiah internasional dan satu-satunya yang telah mengaplikasikan Digital Rate Management (DRM) yang bekerja sama legal dengan 700 penerbit di Indonesia untuk bisa melegalkan setiap buku yang terbit dibaca setiap orang di Perpusnas tanpa menjadi anggota.