Parade Teater TBY Linimasa #4, Bukan Sekadar Sandiwara

Para pemain mementaskan teater Pidato Pembangunan dalam rangkaian acara parade teater Linimasa 4 di TBY beberapa waktu lalu. (ist - Bengkel Mime Theater)
16 November 2021 07:07 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Taman Budaya Yogyakarta (TBY) kembali menggelar parade teater tahunan bertajuk Linimasa #4. Digelar secara daring, enam kelompok teater akan tampil dari 15-20 November 2021 di channel Youtube Taman Budaya Yogyakarta setiap pukul 19.00 WIB.

Ada karya berjudul Bukan Samba Sembit dari kelompok teater Omah Gondhol, Pulung Ati dari Teater Embrio, Kidung Mentari dari Lumbung Artema, Detak dari Teater SAKA Yogyakarta, Pidato Pembangunan dari Bengkel Mime Theater, dan Tak dari Studio Teater Yogyakarta.

Menurut Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan TBY, Budi Supardi, Linimasa tahun ini pertama kalinya digelar secara taping (direkam untuk disiarkan daring).

“Sebelum tampil, ada presentasi dari enam kelompok terkait dengan cerita, gagasan, ide, hingga distribusi penonton, termasuk gaya pengambilan video. Kami tidak mau pengambilan video hanya dokumentasi, tetapi kami juga melihat cara mereka memperlihatkan keindahan dari teater tidak hilang meski berganti media,” kata Budi, Senin (15/11/2021).

Keenam kelompok membawakan tema yang beragam, mulai dari tema perempuan, tubuh, pikiran, pelibatan anak kecil, non-realis, sampai sajak-sajak puisi yang didramakan. Dari berbagai jenis ini, kemudian muncul tema besar Bukan Sekadar Sandiwara. “Tema ini hadir setelah para kelompok terpilih, sehingga kami menganggap ini bukan hanya sekadar sandiwara. Tidak hanya ada cerita dan konflik, namun banyak jenisnya,” kata Budi.

Sebelum terpilih enam kelompok, ada sekitar 15-20 proposal yang masuk. Lantaran masih di masa pandemi Covid-19, proses taping dilaksanakan dengan ketat. Semua pemain dan kru harus sudah vaksin. Apabila ada yang tidak sehat, maka perlu istirahat terlebih dahulu. Proses taping juga terbatas waktu untuk menghindari kerumunan. Hanya pemain dan kru saja yang boleh berada di sekitar panggung.

“Semoga teater bisa mengikuti arus digitalisasi sekarang. Harus terima dengan sistem modern, dengan cara taping atau video. Harapannya hal ini tidak mengurangi estetika teater saat penonton melihat pertunjukan,” kata Budi.

Terinspirasi Baliho

Salah satu penampilan di Linimasa #4, Pidato Pembangunan, akan menampilkan kisah-kisah yang terinspirasi dari baliho-baliho di jalan raya. Sutradara Pidato Pembangunan, Andy Sri Wahyudi mengatakan apabila para tokoh di baliho, terutama tokoh politik seperti pantomim dengan pencitraan yang berbeda-beda.

Para tokoh ini juga hanya datang saat membutuhkan dukungan entah pilkada atau sejenisnya. Setelah itu mereka akan pergi lagi. “Ini seolah memperlihatkan apabila masyarakat terbiasa selalu menjadi pendengar saja, dari segala kebijakan atau propaganda. Masyarakat seolah-olah sayur-mayur yang dikasih bumbu dengan sesuka hati dari para tokoh-tokoh itu,” kata Andy.

Dalam teater Pidato Pembangunan ada beberapa bahasan seperti wawancara Krisdayanti tentang gaji Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang sempat viral beberapa waktu lalu. Ada pula bahasan dari pidato Jokowi, Soeharto, dan lainnya.

Teater Pidato Pembangunan merupakan pentas kedua Andy di tahun 2021. Sebelumnya ada sekali pentas di 2019 dengan penonton yang terbatas. Adanya pandemi membuat banyak penyesuaian.  “Harus dilalui, beradaptasi dengan waktu, zaman, dan kondisi seperti ini. Kami perlu memahami, memaknai, dan menjalani. Serta jangan terlalu mengikuti arus juga,” kata Andy. (ADV)