Kasus Menurun, Stunting Masih Menjadi Pekerjaan Rumah untuk Pemkab Sleman

Anak balita ditimbang dalam kegiatan Posyandu di Kampung Ngawen, Padukuhan Ringinsari, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, Senin (15/11/2021). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
16 November 2021 21:12 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada 2021 turun dibandingkan 2020. Meski menurun, kasus stunting di Sleman masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Cahya Purnama mengatakan prevalensi stunting pada 2020 tercatat 7,24% atau 4.014 anak. Pada tahun ini, terdapat 6,92% atau 3.445 anak yang masuk kategori stunting. "Stunting mengakibatkan perkembangan anak lebih lambat dibanding usianya," kata Cahya saat jumpa pers, Selasa (16/11/2021).

Dia mengatakan angka tersebut berdasarkan hasil pengukuran status gizi anak balita selama tahun ini. Jumlah anak balita yang disasar sebanyak 59.275 bayi dengan jumlah anak balita yang diukur antropometri sebanyak 49.765 atau 83,96%9. "Prevalensi angka stunting sebesar 6.92 persen atau 3.445 anak, sedangkan prevalensi stunting baduta atau di bawah dua tahun sebesar 6,16 persen atau 1.158 anak," katanya.

Menurut Cahya, penurunan jumlah anak balita yang dipantau dan belum optimalnya validasi data disebabkan adanya Covid-19 dan kebijakan PPKM, sehingga banyak posyandu tidak menggelar kegiatan.

Dari 86 kalurahan di 17 kapanewon di Sleman, prevalensi stunting pada anak balita semuanya di bawah 20% atau berada di batas kategori aman (≥ 20% kronis). Artinya, kasus stunting tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat, namun tetap diwaspadai.

Faktor Penyebab

Menurut Cahya, ada sejumlah penyebab tingginya angka stunting, di antaranya anak balita tidak memiliki jaminan kesehatan, anggota rumah tangga anak balita masih merokok, ibu balita sewaktu hamil kekurangan energi kronis, anak balita belum imunisasi lengkap. "Faktor determinan penyebab stunting dapat dianalisis dari tindakan atau intervensi spesifik yang dilakukan oleh Dinkes serta intervensi sensitif oleh OPD terkait," katanya.

Kabid Kesmas Dinkes Sleman, Esti Kurniasih menjelaskan di 2021 sebanyak 10 kalurahan menjadi sasaran prioritas penanganan stunting. Kalurahan ini menjadi lokus untuk penanganan stunting karena kasusnya tinggi. Kesepuluh kalurahan tersebut meliputi Sendangmulyo, Sidomulyo, Margoagung, Merdikorejo, Girikerto, Candibinangun, Glagaharjo, Widodomartani dan Sindumartani. "Tahun depan kami memperluas fokus penanganan dari 10 kalurahan menjadi 30 kalurahan," katanya.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menjelaskan stunting tertinggi di Sleman berada di daerah lumbung padi seperti di Minggir yang mencapai 13,8%. Pemkab akan melakukan penelusuran dan berusaha untuk menurunkan kasus tersebut. "Kami berusaha semaksimal mungkin melakukan berbagai gerakan untuk menurunkan stunting," katanya.