Minta Ada Dialog, PKL Malioboro Menolak Direlokasi

Suasana sosialisasi relokasi PKL Malioboro yang digelar beberapa waktu lalu di Royal Malioboro Hotel - Dok. Istimewa
01 Desember 2021 16:57 WIB Yosef Leon Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Sejumlah paguyuban dan kelompok pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Malioboro menolak rencana relokasi oleh Pemda DIY dan Pemkot Jogja ke sentra jualan baru. Mereka menilai, jika alasan pemindahan adalah demi pengakuan UNESCO berkaitan dengan situs warisan dunia sumbu filosofi, mengapa penataan hanya menyasar pedagang kecil dan rakyat akar rumput.

Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo Putra menyebut, PKL di kawasan Malioboro keberatan dengan rencana relokasi yang akan dilakukan pemerintah. PKL lebih memilih untuk ditata tanpa dipindah. Dibuat indah tanpa memindah. Dia juga menegaskan, informasi soal beberapa paguyuban secara resmi dan bulat telah menyatakan menerima rencana relokasi adalah sesat.

"Justru, sebagian besar telah menyatakan keberatan. Sementara, ada pula paguyuban yang masih dalam proses menjaring aspirasi anggota," katanya, Rabu (1/12/2021).

Sujarwo mengungkapkan, keberatan itu dikarenakan dampak buruk sosial dan ekonomi yang sangat mungkin terjadi pada ribuan keluarga PKL akibat adanya relokasi. Apalagi kebijakan relokasi dinilainya diputuskan sepihak oleh pemerintah, tanpa melibatkan paguyuban PKL. Ditambah pula, putusan relokasi dilakukan dengan rentang jarak yang pendek antara sosialisasi dengan relokasi.

"Mohon bantu ditanyakan ke pemerintah, salah satu alasan merelokasi PKL adalah karena hendak mendapatkan pengakuan sebagai kawasan Situs Warisan Dunia dari Unesco. Apakah kawasan yang demikian, hanya mengakomodir, hotel, mall, pertokoan, dan usaha pemodal besar?" katanya.

PKL Minta Ada Dialog

Ketua Angkringan Malioboro, Yati Dimanto menyatakan, sejumlah komunitas dan paguyuban Malioboro telah melakukan pertemuan terkait dengan rencana relokasi pada akhir pekan lalu. Dalam pertemuan itu disepakati bahwa PKL meminta pemerintah untuk membuka lebar-lebar pintu dialog serta mengakomodir aspirasi dan harapan PKL.

"Pertemuan juga menyepakati, kami akan merembukkan langkah-langkah konkret bersama dalam memperjuangkan nasib kami. Langkah-langkah yang terukur sesuai dengan budaya Jogja yang santun dan damai," kata Yati.

BACA JUGA: Rihanna Dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Negara Ini

Sementara Ketua PKL Malioboro Tridharma, Rudiarto mengatakan, saat ini pihaknya bersama para anggota tengah menjajaki pendapat dan menjaring aspirasi untuk menentukan sikap berkaitan dengan rencana relokasi oleh pemerintah. Rudi menyebut, dalam pekan ini pihaknya memastikan bahwa suara PKL Malioboro Tridharma sudah bisa ditentukan apalah menolak atau menerima rencana relokasi.

"Belum final, ini saya baru menyosialisasikan informasi relokasi, dan sedang kami lakukan jajak pendapat. Karena anggota kami yang terbanyak 918 orang jadi kami harus menyatukan persepsi dulu," kata dia.