Harbolnas 2021: Mengungkit Pemulihan Ekonomi dengan Tuah Black Friday

Ilustrasi - Freepik
11 Desember 2021 11:27 WIB Nugroho Nurcahyo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang jatuh hari ini hingga besok, menjadi momen yang ditunggu-tunggu penggila belanja daring. Momen Harbolnas diharapkan bisa mendorong penjualan produk lokal di platform lokapasar digital atau dagang-el. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Harian Jogja Nugroho Nurcahyo dari berbagai sumber.

Desi Suryanto tidak percaya dengan momen Black Friday-nya Indonesia atau Harbolnas . Menurutnya Harbolnas itu bullshit. Penuh tipu-tipu.

“Kadang ditulis diskon 70% tapi dilihat di store lain, kok harganya memang segitu dan tidak dilabeli diskon,” ujar warga Tamantirto, Kasihan, Bantul, itu. 

Desi mungkin satu dari sekian konsumen belanja online yang kelewat jeli dan teliti, tak mudah tergiur embel-embel diskon besar, potong harga habis-habisan, atau harga hancur—hancuran.

Namun tidak semua warga di negeri ini seperti Desi. Dan tak semua penjual di lokapasar elektronik menggunakan trik seperti yang pernah dialami Desi. Toh banyak pula yang menanti-nanti tanggal ajaib itu tiba. Tiap tahun, ada saja konsumen anyar yang baru kali pertama menjajal Double 12.  Bahkan pesta belanja ini juga menjadi harapan pamungkas pemangku kebijakan untuk menutup tahun dengan manis.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) memproyeksi nilai transaksi dalam Harbolnas 12.12 tahun ini naik 10% dibandingkan dengan capaian 2020. Momen Harbolnas diharapkan mendorong penjualan produk lokal di platform dagang-el (e-commerce).

Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Kemendag Nina Mora menjelaskan pelaksanaan Harbolnas pada 11—12 Desember 2020 mampu mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp11,6 triliun, sekitar Rp5,7 triliun merupakan transaksi produk lokal.

"Berkaca pada hal tersebut, pemerintah memproyeksikan Hari BBI [Bangga Buatan Indonesia] kali ini setidaknya dapat menyamai catatan transaksi Harbolnas 11—12 Desember 2020 silam atau dapat meningkat 10 persen menjadi kurang lebih Rp13 triliun," kata Nina, Selasa (7/12/2021), seperti dikutip Bisnis.com.

Penyelenggaraan Harbolnas diharapkan bisa memberi efek ganda pada perekonomian nasional. Harbolnas diharapkan tidak hanya mendorong peningkatan penjualan produk dalam negeri, tetapi juga dapat menggerakkan sektor transportasi dan logistik, khususnya pengiriman barang. "Harbolnas kami harapkan juga dapat menjadi momentum untuk lebih menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan akan produk buatan Indonesia," tambah Nina.

Program Harbolnas merupakan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri digital yang bertujuan menjaga konsumsi domestik dan mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Pada momen penutup akhir tahun ini, pemerintah dan pelaku usaha saling mendukung dan berbagi tugas menjalankan peran untuk mendorong konsumsi masyarakat, terutama di tengah kelesuan konsumsi akibat pandemi Covid-19.

Kementerian Perdagangan telah meminta para pelaku e-commerce di Indonesia agar menampilkan produk-produk Indonesia yang mendapatkan penawaran-penawaran menarik pada halaman utama platformnya.

Di sisi lain, pemerintah akan menyebarluaskan informasi mengenai program ini secara masif melalui berbagai media untuk memastikan masyarakat mengetahui program ini dan mendukung dengan membeli barang buatan dalam negeri.

Sejarah Double 12

Harbolnasl 12.12 atau Double 12 adalah hari yang dikenal sebagai Single's Day & Black Friday versi Asia Tenggara. 12.12 (12 Desember) terjadi tepat sebelum minggu Natal, sehingga pelanggan sangat membutuhkan apa pun untuk perayaan. Karena ini adalah program penjualan daring  pamungkas tahun ini, konsumen diharapkan bakal melonjak.

Bagi yang belum tahu, Double 12 adalah salah satu festival belanja terbesar di pasar belanja online Asia Selatan. Ini adalah waktu dalam setahun di mana perencanaan dan organisasi yang cerdas dapat menghasilkan manfaat yang sangat besar bagi penjual.

Dari perspektif penjual online, arti penjualan 12.12 adalah peluang untuk menginjakkan kaki yang kuat dalam bisnis eCommerce. Untuk memanfaatkan peluang ini, penting untuk mempelajari bagaimana obral 12.12 menjadi peristiwa penting untuk belanja online.

Berawal dari Lazada bersama dengan beberapa pasar lain seperti Zalora, meluncurkan revolusi belanja online pada 2014. Acara ini ternyata sukses besar, dan sejak itu, Double 12 dirayakan setiap tahun sebagai salah satu karnaval belanja online terbesar di Pasar Online Asia Selatan.

Melihat tingkat keberhasilan yang sangat besar selama bertahun-tahun, pasar lain seperti Shopee, Asos, dan Aliexpress bersatu untuk mendorong revolusi ini dalam skala global. Selama bertahun-tahun, pelanggan telah menunjukkan minat yang besar untuk berbelanja di acara 'double 12'. Ini adalah beberapa statistik luar biasa dari Techinasia, acara liburan belanja online 12.12 tahun sebelumnya.

Ada peningkatan 4-5 kali dalam lalu lintas web di situs belanja online, dibandingkan dengan hari-hari biasa. Hal ini menunjukkan kesetiaan pelanggan untuk membeli pada penjualan 12.12.

Pada 2020, total 60% pengunjung unik mengakses situs belanja online selama acara Double 12. Ini artinya banyak pelanggan bermigrasi ke belanja online melalui acara ini dari sebelumnya tak mengenal belanja online. Jadi, ini adalah kesempatan emas untuk berbisnis.

Rata-rata, setiap dua detik, pesanan diterima selama 'acara penjualan 12.12' pada 2020. Waktu yang ideal untuk pembeli selama 12.12 adalah larut malam. Pelanggan menunggu cukup lama untuk mulai berbelanja. Di kawasan Asia Pasifik seperti Malaysia, penjualan terbanyak diselesaikan antara pukul 21:00 hingga 22:00. Pelanggan lebih cenderung untuk mengejar diskon.

Harapan Tinggi

Setelah sekitar satu setengah tahun terpaku di rumah, aktivitas masyarakat dan bisnis kini mulai bergerak. Kondisi pandemi yang makin terkendali membawa angin segar dan optimisme. Roda perekonomian yang sempat melambat, lambat namun pasti mulai hangat. Salah satunya karena semakin banyak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mulai bermain ke ranah digital yang membuka akses pasar dan berbagai peluang yang lebih luas.

Digitalisasi UMKM ini difasilitasi banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan teknologi, sektor keuangan dan perbankan, hingga platform dagang-el.

Ferry Kusnowo, Executive Director di Lazada Indonesia, mengatakan mengacu hasil riset Digital Commerce Index (DCCI) 2021 yang diluncurkan Lazada awal November lalu, 76% pedagang daring di Asia Tenggara optimistis dengan prospek pertumbuhan meski kondisi ekonomi masih penuh tantangan. Angka ini naik dari indeks pada paruh pertama tahun ini, yang menunjuk angka 7%. Survei ini dilakukan terhadap 900 pelaku usaha perdagangan daring di Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Vietnam dan Thailand. Sebanyak 52% responden menyatakan bisnis mereka meningkat pada triwulan ketiga 2021.

“Optimisme ini akan memberi dampak sangat positif bagi UMKM yang mulai masuk ke ekosistem digital. Kabar baik ini perlu disebarluaskan untuk mendorong proses digitalisasi UMKM,” tulis Ferry dalam opininya yang dimuat di detik.com.

Sektor UMKM, kata dia, terbukti tangguh dan menjadi penyangga ekonomi rakyat selama pandemi karena tetap menyerap tenaga kerja dan menyediakan pendapatan bagi rakyat. Pemerintah bahkan menargetkan 30 juta UMKM dapat onboarding ke platform digital. “Kita harus ingat sekitar 97% tenaga kerja kita diserap sektor UMKM. Artinya, mendorong UMKM sama dengan mendorong perekonomian nasional,” ujar Ferry.

Data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah menunjukkan pada triwulan pertama 2021, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto sebesar 61,07% atau senilai Rp8.573,89 triliun. Ini mengindikasikan, digitalisasi UMKM bagaikan ombak-ombak kecil yang akan menjadi gelombang besar pada momentum yang tepat.

“Dalam bisnis, memahami momentum atau menciptakan momentum sangat penting. Momentum pertumbuhan perdagangan digital harus dipelihara dengan menggalang dukungan semua pihak. Sektor perdagangan digital dapat berperan penting dalam pemulihan ekonomi nasional,” ujar Ferry.

Para ekonom masih perlu menghitung efek pengganda (multiplier effect) dari bangkitnya sektor UMKM yang mengalami digitalisasi terhadap pemulihan ekonomi nasional. Mari kita menunggu tuah dari Black Friday-nya Asia Tenggara. 

 

Sumber : Bisnis.com, detik.com