Pucuk Dicinta BPD DIY pun Tiba

Alex Kurniawan menunjukkan mesin otomatis yang mampu mencetak furnitur kamar mandi, belum lama ini. - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
16 Desember 2021 10:07 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Keberhasilan Alex Kurniawan menjadi pengusaha mebel tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak kisah yang akhirnya mengantarkan dirinya menjadi eksportir sukses. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Bernadheta Dian Saraswati.

Sebuah bangunan besar di Jl. Monumen TNI AU No 8 Dusun Donoloyo, Tamanan, Banguntapan, Bantul tampak ramai, Kamis (9/11/2021) siang. Terlihat para pria mengusung boks-boks besar untuk dimasukkan ke kontainer yang sudah terparkir di depan bangunan itu. Mereka tampak gesit. Sesekali satu sama lain saling bantu. Seorang pria berkaus hitam berada di antara mereka. Seperti sudah meyakinkan pekerjaan itu pada orang lain, ia tinggal mengawasi sembari sesekali bercengkerama dengan mereka.

Pria kaus hitam itu adalah Alex Kurniawan. Dia pemilik pabrik yang merupakan tempat produksi mebel berlabel Kayu Manis. Alex, begitu dia disapa, sudah memulai bisnisnya sejak 20 tahun lalu. Ia fokus menjual furnitur khusus kamar mandi. Di pabrik seluas 3.500 meter persegi itu, kayu jati dari Sulawesi diolah menjadi meja wastafel, rak kamar mandi, almari, dan masih banyak lagi.

Modelnya berkiblat pada arsitektur Eropa. Pria kelahiran Jogja, 18 Juli 1967 ini memang memilih pasar Eropa menjadi target jualannya. Ada Perancis, Italia, Spanyol, dan sebagian kecil Amerika. Sebulan, ia bisa mengirimkan produknya sebanyak tujuh hingga delapan kontainer, dengan ukuran paling kecil 20 feet. Kepemilikan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) sangat memudahkannya untuk mengirim barang ke luar negeri.

Sebelumnya, tak terbesit dalam pikiran bapak dua anak ini untuk menjadi tukang mebel. Sebagai lulusan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, ia sempat mengawali karir sebagai analis kredit di salah satu bank BUMN di Ibu Kota. Namun semuanya berubah pasca refolusi 1998 saat kantornya menawarkan program pensiun dini. Tanpa pikir panjang, ia mengambil tawaran itu. “Salah satu alasan kenapa saya ambil itu [program pensiun dini] adalah omongan klien, dia orang Chinese. Katanya orang itu kalau mau sukses buka usaha, bisa dimulai sebelum umur 35,” kata Alex menirukan omongan kliennya itu.

Dari situ, ia berbulat tekad untuk keluar dari dunia perbankan. Ia tinggalkan pekerjaan tanpa berkonsultasi dengan enam kakaknya yang notabene adalah para pekerja kantoran. “Modal saya hanya pesangon yang bisa untuk bisnis,” katanya.

Ia pun kembali ke Jogja. Ia sempat ditawari mengikuti kursis pengeringan kayu oleh temannya dan langsung diterima. Hanya kursus dua hari, ia langsung berani membuka bisnis dari modal pesangonnya. “Modal nekat, penting nyebur dulu,” kata dia. Saat itu, ia hanya berpiki prospek pengeringan kayu sangat bagus karena pasar luar negeri mengharuskan kayu ekspor dalam kondisi kering.

Ia lantas menyewa tanah di dekat kampus Universitas Ahmad Dahlan Ring Road Selatan seluas 500 meter persegi. Awalnya, bisnis jualan kayu kering laku. Namun saat mencoba merambah bidang mebel, usahanya bangkrut dan benar-benar uangnya nol. “Sempat saya menyesal saat itu kok ya ambil pensiun dini,” keluhnya.

Tak lama kemudian, pertemuan dengan Lionel mengantarkannya bangkit lagi. Warga Belgia itu sama-sama memiliki ketertarikan pada bisnis kayu sehingga keduanya menjalin kerjasama bisnis mebel. Kerjasama keduanya harus berakhir 10 tahun kemudian lantaran Lionel harus pulang ke kampung halaman istrinya di Perancis. “Tapi kami tetap kerjasama. Saya sebagai suplier, dia buyernya,” kata dia.

Pada 2015, Alex ingin memperluas pabriknya di Tamanan, Banguntapan, atau lokasi pabriknya saat ini. Saat itu, ia ingin membeli 1.600 meter persegi tanah yang ada di samping pabriknya. Sayang, ia kesulitan biaya karena biaya yang dibutuhkan sekitar Rp3 miliar. “Saya sudah muter-muter ke bank-bank BUMN, pada enggak mau [meminjamkan uang]. Akhirnya hanya BPD DIY yang bisa,” kata pria yang suka gowes ini.

Ia mengakui, BPD DIY telah menjadi mitra yang benar-benar ingin membantu UMKM berkembang. Tidak semata menghabiskan uang untuk mendapatkan bunga, tetapi BPD DIY membantu mengarahkan agar pinjaman yang diberikan tepat guna. “Kami diarahkan untuk beli mesin canggih juga berkat BPD DIY. Mesin seharga miliaran rupiah yang sudah berbasis komputer. Tinggal pencet, bisa bikin furnitur model apapun,” kata Alex.

Selama berbisnis, pria yang tergabung dalam Forum Kerajinan Mebel dan Seni (Formekers) dan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) ini sudah tiga kali mengajukan pinjaman ke BPD DIY dan semuanya disetujui. Menurut dia BPD DIY sangat membantu UMKM saat pandemi seperti ini. Saat ekspornya tersendat lantaran keberangkatan kapal pengirim barang tertunda dan membuat buyer telat membayar, bank ini memberikan bantuan. “Saya sempat berkeluh kesah [kepada BPD DIY] dan mereka tawarkan dana talangan dalam betuk modal kerja,” katanya.

Kini, Alex tidak ragu untuk terus mengembangkan bisnisnya. Selain bermitra dengan bank, ia juga mengembangkan soft skillnya dengan belajar desain mebel kepada desainer Singapura. Dari bisnisnya, ia tak semata ingin mencari pendapatan finansial, ia juga ingin memberdayakan masyarakat. Buktinya, usaha mebel dan bahkan kuliner Warung Kopi Randu yang berlokasi di Bantul miliknya sudah mempekerjakan 265 karyawan dari DIY.

Dalam mempekerjakan karyawan di masa pandemi Covid-19, Alex tidak lupa untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes) kepada mereka. "Di setiap pintu masuk perusahaan juga disediakan fasilitas cuci tangan, pembagian masker kepada seluruh karyawan, dan penerapan jarak sejauh 1.5 meter pada saat bekerja," kata Alex. Ratusan karyawan itu kini juga sudah divaksin. Alex mengadakan vaksinasi untuk karyawan pada 2 Juli 2021 lalu. Seluruh karyawan juga diberikan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.