Kurikulum Baru 2022, Kelas X SMK Sudah Bisa Ikut Magang?

Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto dan Founder GSM Muhammad Nur Rizal (kedua dari kanan) dalam kegiatan Festival Sekolah Menyenangan di Jogja, Senin (20/12/2021). - Ist.
21 Desember 2021 08:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah melalui Kemendikbudristek berencana menerapkan kurikulum baru 2022 secara terbatas melalui ujicoba pada sekolah-sekolah tertentu. Kurikulum ini diklaim lebih fleksibel dan memungkinkan siswa lebih cepat menuntaskan pembelajaran sesuai kompetensi, salah satunya mempercepat kegiatan magang.

Guru dan sekolah yang tergabung di Gerakan Sekolah Menyenangan (GSM) dinilai akan mampu menyesuaikan diri dengan kurikulum baru tersebut. Karena program GSM cenderung tidak kejar tayang materi, melainkan mengedepankan kompetensi, minat bakat dan karakter.

BACA JUGA : Indonesia Bersiap untuk Punya Kurikulum Siber

Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Wikan Sakarinto mengatakan saat ini pemerintah sedang menggodok prototipe kurikulum baru yang lebih adaptif. Pada satuan pendidikan SMK, guru dan kepala sekolah memiliki peran sentral dalam penerapan kurikulum tersebut.

“Nah itu di kurikulum terbaru, [kegiatan magang kelas X] sangat memungkinkan, kurikulum terbaru itu lebih adaptif, fleksibel dan lincah. Jadi kalau dengan guru lincah maka akan dengan mudah beradaptasi,” katanya di sela-sela pelaksanaan Festival Sekolah Menyenangkan dengan tema Titik Balik di Jogja, Senin (20/12/2021).

Kurikulum baru ini lebih diarahkan pada kompetensi dan karakter anak. Sehingga dalam penerapannya butuh guru yang lincah dan proses belajar menggunakan cara-cara yang tidak biasa.

Wikan menilai sekolah yang tergabung dalam GSM memungkinkan lebih cepat mampu beradaptasi dengan kurikulum baru. Karena faktanya GSM menghasilkan banyak guru dan sekolah inspiratif yang dalam proses mengajarnya tidak sekedar kejar tayang materi, tetapi lebih mengedepankan kompetensi, minat bakat siswa.

“Mengapa kami ajak GSM karena kebijakan kami dengan link and match. Kurikulum SMK ada baru, protipe, kalau guru tidak disiapkan, magang tidak disiapkan, kami sangat khawatir ketika dioperasikan nantinya guru mampu menerapkan, maka guru harus dipersiapkan. Kami melihat GSM cukup menghasilkan banyak kepala sekolah dan guru inspiratif,” ujarnya.

Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal menyatakan sekolah yang tergabung dalam GSM sudah banyak melahirkan talenta muda terbaik di kalangan pelajar dan guru serta kepala sekolah inspiratif. Mereka secara ikhlas terus menularkan ilmunya kepada sekolah lain agar bisa maju bersama-sama. “Melalui festival bertajuk titik balik ini kami berusaha untuk menularkan ilmu-ilmu yang selama ini dikembangkan bersama GSM kepada sekolah lain di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia sepakat dengan perubahan kurikulum yang lebih mengedepankan kreativitas siswa. Alasannya melihat kondisi produk pendidikan di Indonesia menurutnya butuh cara yang tidak lazim untuk memperbaikinya.

“Sarjana lulusan kita ketika diuji di Jakarta tertinggal 69 persen di bawah kompetensi minimum bahkan lulusan sarjana literasi di bawah lulusan SMP di Denmark. Sehingga saya sepakat harus ada cara yang tak lazim untuk memperbaiki, kalau cara lazim,” katanya.

Guru SMKN 11 Semarang Diyarko yang tergabung dalam GSM telah membuktikan, bahwa dengan cara yang tidak biasa, mampu mengantarkan siswanya lebih inovatif. Bahkan pada kelas Animasi yang ia bimbing, sudah ada kelas X yang lebih awal mengikuti magang serta mampu menghasilkan karya setara orang profesional.

BACA JUGA : Program Nadiem 2022: Seleksi PPPK hingga Kurikulum Baru

“Sekarang ini bukan zamannya lagi guru mengajar ceramah, tetapi lebih mengarahkan dan memfasilitasi mereka agar sesuai kompetensi dan karakternya. Mulai dari hal kecil, saya meskipun di animasi, siswa tetap saya berikan tantangan bagaimana dia menata tempat tidur, itu karakter,” katanya.