Jejak Flu Spanyol di Bantul & Pembakaran yang Membangkrutkan Pabrik Gula

Komunitas Roemah Toea blusukan mencari puing-puing Pabrik Gula Sedayu di Kalurahan Argorejo, Sedayu, Bantul beberapa waktu lalu. Pabrik itu ditutup setelah ada flu Spanyol - IST/Dok. Roemah Toea
23 Desember 2021 13:47 WIB Lajeng Padmaratri Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Jejak flu Spanyol dan pemberontakan buruh pada awal abad ke-20 tertinggal dalam puing-puing pabrik gula di Bantul. Seabad lalu, Bantul adalah wilayah industri yang kemudian dihantam banyak pembakaran lahan tebu serta pandemi flu Spanyol. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lajeng Padmaratri.

Sekitar 140 tahun lalu, kawasan pemukiman di Kelurahan Argorejo, Sedayu, belum sepadat saat ini. Saat itu, lahan perkebunan tebu dominan di kawasan itu. Bahkan di areal yang saat ini merupakan Kantor Kapanewon Sedayu, pernah berdiri Pabrik Gula Sedayu.

Begitulah semuanya diketahui belakangan oleh Roemah Toea, komunitas anak muda pecinta sejarah di Jogja. Komunitas itu menelusuri keberadaan sejumlah bekas pipa tanah liat yang ada di sana. Di sekitarnya, berdiri puing-puing bangunan yang diprediksi merupakan bekas pabrik gula.

Ketua Komunitas Roemah Toea, Aga Yurista Pambayun, meyakini keberadaan pabrik gula di Sedayu dari temuan tersebut saat ia dan teman-temannya blusukan beberapa waktu lalu. "Identifikasi kami, bekas pipa tanah liat itu menunjukkan keberadaan Pabrik Gula Sedayu. Sebab, pipa tanah liat itu biasanya dipakai untuk membuang limbah pabrik gula yang berupa air panas," kata Aga dalam program Selasa Historia di kanal YouTube Harian Jogja belum lama ini.

Di Argorejo, ia juga menemukan fondasi bekas jembatan lori dengan plakat bertuliskan 1925. Ia meyakini tahun tersebut merupakan tahun renovasi jembatan lori tersebut, lantaran pabrik gula tersebut sudah beroperasi puluhan tahun sebelumnya.

Tak hanya blusukan ke lokasi, Roemah Toea turut mencocokkan data yang mereka miliki dalam arsip sejarah yang kebanyakan berbahasa Belanda. Dari sebuah koran De Locomotief yang terbit pada 26 April 1879, Aga menemukan iklan lowongan kerja tenaga masinis untuk ditempatkan di Pabrik Gula Sedayu. Dari dokumen tersebut, ia memperkirakan Pabrik Gula Sedayu berdiri pada 1880-an.

Sebelum jadi pabrik gula, lahan perkebunan di Sedayu bukannya kosong. Di sana mulanya adalah perkebunan tanaman indigofera yang digunakan sebagai pewarna nila untuk kain.

"Saat itu, pengusaha A. Th Raaf merupakan pemilik perkebunan indigo di Sedayu. Karena permintaan saat itu tinggi, maka banyak perkebunan indigo di Jogja. Memasuki abad ke-20, pasar indigo mulai turun karena muncul pewarna sintetis buatan pabrik yang lebih murah. Banyak perkebunan indigo yang beralih ke komoditas lain, salah satunya gula," ujar Aga.

Sang pemilik pun turut beralih komoditas perkebunan dari indigofera menjadi gula. Hal itu menandai dimulainya perjalanan Pabrik Gula Sedayu. Meski skala pabriknya kecil, hasil produksinya cukup berkualitas.

Aga mengungkapkan pada 1885 hingga 1887, Pabik Gula Sedayu menghasilkan produksi dengan rata-rata 10.000 pikul gula setiap tahun. Saat itu ukuran pikul setara dengan 600 gram. Produksi ini memang tergolong kecil dibandingkan pabrik gula lain di Jogja yang rata-rata produksinya mencapai 3-5 kali lipat. "Pada 1880-an, mereka menambah hasil produksi jadi 17.000 pikul. Saat itu luasan tebu sekitar 146 hektare. Meski begitu, luasan itu masih tergolong kecil dibandingkan pabrik gula lain di Jogja," kata dia.

Berbagai dinamika pun muncul menyertai perjalanan Pabrik Gula Sedayu. Menurut penelusuran dokumen yang dilakukan Roemah Toea, sejak ditinggal pemiliknya meninggal dunia pada 1906, pabrik gula ini diakuisisi Cultuurmaatschappij der Vorstenlanden (CMV). Di bawah kepemimpinan CMV rupanya banyak peristiwa buruk terjadi, salah satunya kebakaran lahan tebu.

Kebakaran di Pabrik Gula Sedayu bahkan tak hanya terjadi sekali, tetapi berkali-kali. Aga mengungkap dokumen koran yang ia temukan pada 31 Mei 1917, 24 Agustus 1917, 8 Agustus 1918, serta 24 Agustus 1918 memberitakan kejadian kebakaran di Pabrik Gula Sedayu. Meskipun luasan yang terdampak hanya beberapa bahu (perbahu yaitu 0,74 hektare) tetapi kerugiannya cukup besar lantaran masa tanamnya cukup lama.

"Sebabnya sabotase, ada perselisihan antara majikan dengan buruh. Di industri tebu zaman dulu, kompensasinya bakar-bakaran [lahan]. Dampaknya besar dan merugikan perusahaan," kata dia.

Lantaran sering kebakaran, CMV pun mewacanakan Pabrik Gula Sedayu ditutup pada 1919.

Skala pabriknya yang kecil dan terus merugi ditambah kondisi ekonomi dunia yang kolaps pada masa tersebut saat Perang Dunia I, bahkan merebaknya Flu Spanyol di Hindia Belanda, membuat operasional pabrik benar-benar dihentikan pada 1921.

Sejak produksi pabrik dihentikan, mesin pabrik pun dijual. Lahan perkebunan tebu itu bahkan ditutup dan dijadikan areal persawahan pada 1934. Hal itu disebabkan krisis ekonomi global yang membuat harga gula anjlok. "Bahkan sisa-sisa Pabrik Gula Sedayu yang sudah lama ditinggalkan itu dijadikan sawah," kata Aga.

Itulah mengapa menurutnya bekas bangunan pabriknya sangat minim. Lahan sawah itu yang akhirnya kini sebagian dijadikan perkampungan dan Kantor Kapanewon Sedayu.

Minimnya dokumen sejarah, khususnya mengenai keberadaan Suikerkultuur atau pabrik gula di Jogja membuat Komunitas Roemah Toea tertarik menelusuri sejak 2015 lalu. Pabrik Gula Sedayu ini merupakan salah satu yang mereka temukan dari 19 pabrik gula yang ada di Jogja. Kini, hanya ada satu pabrik gula yang berdiri di Jogja yaitu Pabrik Gula Madukismo yang berawal dari Pabrik Gula Padokan.

Menurutnya, menelusuri jejak sejarah Suikerkultuur bisa membuka wawasan mengenai potensi komoditas di suatu wilayah. Dari hasil penelusuran belasan pabrik gula ini, komunitasnya pernah menggelar pameran Jogja yang Hilang pada 2018 lalu di Bentara Budaya Jogja. "Pada masa kolonial, ekonomi Jogja hidup karena perkebunan, salah satunya industri gula. Lalu ada juga indigo dan tembakau. Warga Jogja harus tahu Jogja itu potensinya apa. Zaman Belanda, potensi itu dijadikan industri perkebunan yang memberikan keuntungan ekonomi bagi warga Jogja," kata dia.

Berkat penelusuran sejarahnya, Aga memahami potensi di Jogja sangat besar. Ia pun berharap dengan menyampaikan hasil penelusurannya ini, warga Jogja bisa memiliki wawasan mengenai potensi ekonomi di Jogja, salah satunya dari alamnya.

"Dengan melihat ke belakang, kita jadi punya gambaran dan motivasi ke depan potensi apa yang bisa dikembangkan kembali untuk Jogja," ujarnya.