Malam Tahun Baru, Begini Kondisi Lautan Manusia di Tengah Kota Jogja

Pengunjung berkumpul di kawasan Titik Nol KM, Jogja, Sabtu (1/1/2021) dini hari. - Tangkapan layar CCTV Jogja
01 Januari 2022 02:37 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjoga.com, JOGJA–Ribuan orang memadati kawasan Malioboro pada malam pergantian tahun. Pengunjung berbondong-bondong menuju Malioboro sejak Jumat sore (31/12/2021). Menjelang pergantian tahun menuju 2022 sekitar pukul 00.00 WIB, pengunjung memadati Titik Nol Km. 

Lalu lintas sempat lumpuh total selama beberapa waktu lantaran masyarakat memenuhi area jalan raya.

Menurut perkiraan Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya (UPT PKCB) Jogja, Ekwanto, ada 10.000 orang yang berada di seluruh kawasan Malioboro. “Di hari biasa, sebelum pandemi Covid-19, [saat pergantian tahun baru] jumlah pengunjung sekitar 15.000. ini hampir seperti waktu normal,” kata Ekwanto saat memantau di kawasan Malioboro, Jogja, Jumat malam.

Seluruh petugas keamanan dari UPT PKCB Jogja terjun mengamankan kawasan Malioboro. Dari yang biasanya petugas pengamanan sekitar 36 orang, kini ada sekitar 100 orang. Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi mengatakan selain petugas dari UPT PKCB Jogja, petugas dari kepolisian, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja, Dinas Perhubungan, dan lainnya juga berjaga.

“[Jumlah pengunjung saat ini dibanding dengan] liburan Natal sebelumnya masih lebih sedikit sekarang. [Di ujung-ujung Malioboro memang] kelihatan padat, tapi di tengah agak longgar,” kata Heroe.

Kepadatan ini cukup mengkhawatirkan sekaligus juga perkembangan baik. Muncul kecemasan karena kerumunan ini terjadi di masa pandemi. Namun padatnya wisatawan yang kebanyakan dari luar Jogja juga menggerakkan perekonomian. Banyak hotel yang penuh oleh penginap.

“Tapi kami berdoa agar semua sehat. Antusiasme orang dan kemudian kunjungan orang menggembirakan, tapi kami juga tetap khawatir,” kata Heroe.

Menjelang malam pergantian tahun, terpantau beberapa kali kembang api menyala. Namun itu berasal dari individu-individu dengan jumlah kembang api yang sedikit. Pemerintah Kota Jogja melalui kemantren mengantisipasi pesta kembang api dengan melarang penjualannya.

“Dari setiap kemantren sudah kami minta untuk di wilayahnya tidak ada yang berjualan kembang api, dan itu sudah bergerak. Kalau tetap masih ada yang menjual, mungkin itu simpanan lama. Akan kami tertibkan kembang api, meski kalau nyari susah. Karena kami bisanya menghentikan yang jual, tapi kalau [perorangan] yang bawa kami tidak tahu,” katanya.