Jelang Pilur Bantul, Warga Diingatkan Tak Mudah Percaya Hoaks di Media Sosial
Jelang pencoblosan Pilur Bantul 4 Oktober 2026, warga diminta cermat menyaring informasi media sosial dan tidak mudah percaya hoaks.
Petugas menyalin minyak goreng curah ke sejumlah jeriken milik pedagang dalam operasi pasar yang digelar di Pasar Beringharjo, Sabtu (26/3/2022). - Harian Jogja/Yosef Leon
Harianjogja.com, JOGJA—Pelaku usaha yang mengandalkan minyak goreng (migor) di Kota Jogja mengaku masih susah memperoleh komoditas itu di pasaran.
Fenomena yang sudah berlarut-larut ini diharapkan cepat diatasi terlebih menjelang masuknya bulan puasa. “Masih susah, sekarang cari di grosir juga kadang ada, kadang enggak. Kalaupun ada ya mesti antre,” kata Zainal Fanani, 45, salah seorang penjual gorengan di Pasar Beringharjo, Jogja, Sabtu (26/3/2022).
Kalaupun tersedia pembelian minyak goreng di sejumlah grosir juga kerap dibatasi. Konsumen hanya diperbolehkan membeli komoditas itu dengan batas tertentu dan diwajibkan menyertakan kartu tanda penduduk.
"Grosir yang dekat rumah saya itu ya maksimal beli hanya satu liter. Makanya pedagang seperti saya juga keliling ke grosir lain, kadang dapat, kadang juga kosong,” ujar Zainal.
Kondisi ini membuat pelaku usaha yang mengandalkan komoditas minyak goreng sepertinya harus memutar otak. Meski situasi sulit, namun dirinya belum menaikkan harga jual kepada para konsumen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jelang pencoblosan Pilur Bantul 4 Oktober 2026, warga diminta cermat menyaring informasi media sosial dan tidak mudah percaya hoaks.
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional 2026 Tahap 6 dibuka hingga 14 Oktober. Simak jadwal seleksi, pengumuman, dan pelatihannya.
Pemuda Mojosongo Solo YD diduga ditangkap Densus 88. Keluarga mempertanyakan perkara dan meminta penjelasan terkait proses hukum.
APBN 2027 memang memangkas subsidi energi Rp11,44 triliun. Namun, klaim gas langka dan harga pasti naik belum terbukti.
Disertasi Jejen Hendar di UII menyoroti pengelolaan TJSP yang masih formalitas dan mendorong regulasi berbasis keadilan sosial.
Menag Nasaruddin Umar mengajak ASN Kemenag, guru, tokoh agama, dan santri menjadi agen Perlinsos untuk membantu pendataan penerima bansos.