Advertisement

Warga Titip Sampah ke Pasar di Kulonprogo, Volume Melonjak 20 Persen

Khairul Ma'arif
Senin, 05 Januari 2026 - 19:17 WIB
Sunartono
Warga Titip Sampah ke Pasar di Kulonprogo, Volume Melonjak 20 Persen Ilustrasi sampah/ Harian Jogja.

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kulonprogo menemukan kebiasaan masyarakat yang selalu membawa sampah ke pasar lalu membuangnya ke depo sampah yang ada di pasar. Kebiasaan ini membuat makin bertambah banyaknya volume sampah yang bersumber dari pasar.

Kepala UPT Persampahan dan Pertamanan DLH Kulonprogo, Budi Purwanta menyampaikan, fenomena sampah titipan semacam itu didasari karena masyarakat yang tidak berlangganan pengelolaan sampah. Sehingga saat hendak menuju pasar sambil membawa sampah dari rumah untuk dibuang ke depo sampah pasar. Menurutnya, selama momen natal dan tahun baru ini ada kenaikan volume sampah.

Advertisement

​"Informasi dari pengelola pasar, [kenaikan] itu bukan dari aktivitas perdagangannya, tapi dari masyarakat yang ke pasar sambil membawa sampah rumah tangga," ujar Budi kepada wartawan, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, pemicu utama kenaikan volume sampah ini justru bukan berasal dari aktivitas perdagangan di dalam pasar, melainkan perilaku masyarakat sekitar. Pengelola mengungkapkan adanya tren di mana warga yang pergi ke pasar turut membawa sampah rumah tangga mereka untuk dibuang di depo atau kontainer pasar.

Budi mencontohkan itu terjadi di Pasar Bendungan, di mana hanya dalam waktu lima hari, satu kontainer sampah sudah terisi penuh oleh sampah titipan warga. "Tentunya rentang waktu ini sangat begitu cepat penuh dibanding jika sampahnya dari pasar saja bukan dari titipan masyarakat," ucapnya.

​Secara komposisi, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banyuroto, Nanggulan masih didominasi oleh sampah rumah tangga dengan jenis organik, seperti sisa makanan, kulit buah, dan potongan sayur. Sementara itu, sampah plastik diperkirakan menyumbang kurang dari 30 persen dari total berat timbangan.

​Meskipun plastik terlihat mendominasi secara visual karena volumenya yang besar dan sulit dipadatkan, namun secara berat tonase, sampah organik tetap yang paling signifikan. ​"Mayoritas sampah kita masih dari pasar tradisional dan rumah tangga," katanya.

Budi mengatakan, volume sampah yang masuk ke TPA Banyuroto mengalami lonjakan signifikan selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pihak pengelola mencatat kenaikan tonase sampah mencapai sekitar 20 persen dibandingkan hari-hari biasa.

​Jika pada kondisi normal sampah yang masuk rata-rata berada di angka 33 ton per hari, selama puncak libur Nataru angka tersebut membengkak hingga menyentuh 39 hingga 40 ton per hari. "Lonjakan ini terpantau mulai terlihat pada tanggal 2 dan 3 Januari, atau sesaat setelah puncak perayaan tahun baru," ungkap Budi.

​Terkait kebijakan mengenai pembatasan kantong belanja plastik yang dimulai Januari ini, Budi menilai dampaknya belum akan terlihat secara instan di TPA Banyuroto. Hal ini dikarenakan sasaran utama kebijakan tersebut baru mencakup toko modern, yang selama ini kontribusi sampahnya relatif kecil dan sudah terkelola melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

​"Jadi kalau untuk langsung mengurangi sampah di TPA secara signifikan, sepertinya belum sejauh itu, tapi secara edukasi ini langkah awal yang baik," katanya.

Budi berharap volume sampah dapat kembali melandai dan stabil di angka 33 ton per hari pada pekan ini. Untuk menekan angka tersebut di masa depan, masyarakat dan pengelola TPS 3R (Reuse, Reduce, Recycle) didorong untuk lebih mandiri dalam mengolah sampah organik.

DLH mengajak warga dan pengelola TPS 3R lebih proaktif dalam kelola sampah organik. Edukasi dan kebijakan kantong plastik diharapkan menekan sampah di masa depan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Mentan Copot 192 Pejabat, 2.300 Izin Distributor Pupuk Dicabut

Mentan Copot 192 Pejabat, 2.300 Izin Distributor Pupuk Dicabut

News
| Rabu, 07 Januari 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Kelas Menengah Jadi Penopang Utama Wisata Nasional

Wisata
| Rabu, 07 Januari 2026, 14:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement