Advertisement

Ada Puluhan Ribu Ternak di Sleman, Jatah Vaksin Baru 1.000 Dosis

Abdul Hamied Razak
Selasa, 14 Juni 2022 - 16:47 WIB
Arief Junianto
Ada Puluhan Ribu Ternak di Sleman, Jatah Vaksin Baru 1.000 Dosis Ilustrasi dokter hewan Puskeswan Sanden, Bantul memeriksa kondisi sapi positif PMK, Senin (13/6/2022). - Harian Jogja/Lugas Subarkah

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN--Pemkab Sleman melalui Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) mengajukan 97.050 ternak untuk mendapatkan vaksin Penyakit Mulut dan Kuku dari Pemerintah Pusat. Akan tetapi, realisasinya, sejauh ini Pemkab Sleman baru mendapatkan 1.000 dosis vaksin. 

Plt Kepala DP3 Sleman Suparmono menjelaskan sejatinya DP3 Sleman mengajukan sebanyak 97.050 ekor ternak untuk mendapatkan vaksin PMK ke Pemerintah Pusat. Jumlah hewan ternak yang diusulkan masih dibawah populasi hewan ternak berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba sebanyak 103.000 ekor.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

"Tadi pagi [kemarin] kami ditelepon pak Direktur Pakan Kementan [Kementerian Pertanian] yang menyampaikan jatah vaksin di Sleman [untuk tahap awal] sebanyak 1.000 dosis," kata pria yang akrab disapa Pram tersebut kepada Harianjogja.com, Selasa (14/6/2022).

BACA JUGA: Parah! Jembatan di Sleman Ambles, Akses ke Sekolah dan Pasar Terganggu

Kementan, lanjut Pram, meminta DP3 Sleman untuk mengidentifikasi ternak-ternak yang akan menjadi sasaran vaksinasi. Sesuai arahan Kementan, sasaran vaksin PMK tahap awal ini diprioritaskan untuk sapi perah.

Padahal populasi sapi perah di Sleman tercatat sebanyak 3.419 ekor. "Kami diminta 1.000 dosis vaksin PMK diprioritaskan untuk sapi perah dulu. Untuk teknis pemberian vaksinnya kami akan koordinasi lebih detial tentang itu," ujar Pram.

Sesuai arahan dari Kementan, lanjut Pram, skema penggunaan vaksin akan disuntikkan pada hewan sehat yang belum terkena PMK, tetapi berada di wilayah zona merah atau tertular. Khususnya di sumber pembibitan ternak, sapi perah milik rakyat dan koperasi susu, serta ternak sapi potong di daerah berisiko tinggi. "Untuk Sleman [vaksin PMK] diprioritaskan khusus untuk sapi perah dulu," katanya.

Pram belum mengetahui kapan vaksin PMK yang dikirim Pusat tersebut tiba di Sleman. Namun berdasarkan informasi yang dia terima dari Kementan, vaksin PMK tersebut telah tiba di Tanah Air.

Sesuai jadwal, kegiatan vaksinasi akan segera kita mulai pada pekan kedua bulan ini. "Informasi dari Kementan, vaksin PMK gelombang pertama ini telah datang 10.000 dosis dan akan datang 800.000 dosis lagi," katanya.

Vaksin-vaksin tersebut akan didistribusikan sesuai kebutuhan daerah dengan memperhatikan peta sebaran penyakit yang terjadi saat ini.

Kasus PMK di Sleman merupakan yang tertinggi di DIY. Per 13 Juni, ada 1.377 kasus PMK ditemukan di Bumi Sembada. Dari jumlah tersebut sebanyak 13 tenak sembuh dan tiga ternak lainnya mati.

"Perlu kami sampaikan yang mati itu masih berusia cempe dan pedet serta tidak ada ternak yang dipotong dengan syarat," katanya.

BACA JUGA: Unisa Yogyakarta Gelar Baitul Arqam untuk Seluruh Dosen

Sejatinya, kata Pram, Dinas mengusulkan sebanyak 97.050 ekor ke Kementerian Pertanian. Pihaknya juga mengajukan tambahan obat-obatan sebanyak 1,4 juta dosis, vitamin 846.000 dosis, desinfektan 900 liter dan APD 500 set. Hal tersebut dilakukan karena stoknya mulai menipis.

"Kalau 75 persen dari 103.000 populasi hewan ternak berkuku belah seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba di Sleman mendapat vaksin PMK itu sudah bagus," katanya.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan DP3 Sleman, Sri Rahayu Saddyahsih Nawang Wulan mengatakan kasus PMK ditemukan di 12 kapanewon. Meliputi, Kapanewon Moyudan, Gamping, Tempel, Mlati, Sleman, Ngaglik, Pakem, Ngemplak, Cangkringan, Berbah, Prambanan, dan Kalasan.

"Banyak kasus PMK yang kami temukan karena sejumlah faktor. Salah satunya, kami gencar melakukan pemeriksaan hewan ternak sehingga ditemukan banyak kasus PMK," katanya.

Kecepatan respons dan penelusuran oleh petugas teknis kesehatan hewan, lanjut Nawang juga didukung oleh ketersediaan sumber daya manusia dan pusat kesehatan hewan. Karenanya, Pemkab terus berupaya melakukan penanganan PMK. Koordinasi dengan sejumlah pihak terus dilakukan. "Kami juga meningkatkan pengawasan lalu lintas hewan menjelang Idul Adha," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Siswi SMP di Klaten Jadi Korban Kekerasan Seksual hingga Ratusan Kali

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 17:47 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement