Bantuan Air Bersih Sudah Menjangkau 8 Kapanewon di Gunungkidul
Bantuan air bersih sudah disalurkan ke delapan kapanewon di Gunungkidul. BPBD mengalokasikan 1.150 tangki untuk warga terdampak kekeringan.
Ilustrasi monyet/Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Petani di pesisir selatan Gunungkidul masih resah dengan serangan monyet ekor panjang. Pasalnya, hingga sekarang lahan-lahan pertanian yang ada banyak dijarah kawanan primata ini.
Salah satu serangan terjadi di wilayah Kalurahan Purwodadi, Tepus. Hasil pendataan yang dilakukan kalurahan, serangan sudah terjadi di 11 dusun dari 19 dusun di wilayah tersebut.
Ulu-ulu di Kalurahan Purwodadi, Suroyo mengatakan, upaya pencegahan terhadpa serangan monyet ekor panjang sudah dilakukan oleh para petani. Meski demikian, hasilnya belum maksimal.
Hingga sekarang, serangan masih terus terjadi dan kawanan ini merusak tanaman milik warga. “Yang diserang rata-rata lokasinya berada di dekat pantai. Hampir setiap tanaman pangan yang ditanam dirusak, salah satunya ketela dicabuti dan isinya dimakan,” kata Suroyo, Kamis (14/7/2022).
Dia menjelaskan, untuk serangan sudah hampir merata di seluruh wilayah. Pasalnya, dari 19 dusun, penjarahan kawanan monyet terlihat di Dusun Sureng 1, Sureng 2, Winangun, Duwet, Gesing, Ngandong dan Danggolo. Total hampir ada 11 dusun yang dilaporkan ada serangan monyet di area lahan pertanian,” ungkapnya.
Suroyo mengungkapkan, adanya serangan ini sangat berdampak ke petani karena berpotensi mengalami gagal panen. Tanaman yang dijarah mengalami kerusakan sehingga tak bisa dimanfaatkan lagi.
“Isinya sudah habis dijarah,” katanya.
BACA JUGA: Dapat Rp2,4 Miliar Ganti Rugi Tol Jogja Solo, Pria Ini Ingin Kembangkan Pesantren
Ia berharap kepada pemerintah ada tindakan untuk pencegahan sehingga serangan tidak semakin meluas. “Pengennya petani tetap bisa memanen apa yang ditanam,” katanya.
Serangan monyet ekor panjang juga terjadi di Kalurahan Plajan, Saptosari. Hal ini disampaikan oleh Carik Planjan, Budi Setiyanto.
Menurut dia, potensi serangan hampir terjadi setiap tahun dan ancaman meningkat pada saat musim kemarau. “Serangan sudah ada di Dawung, Alangsari dan Wuluh,” katanya.
Budi mengungkapkan, warga sudah mulai putus asa dengan serangan monyet panjang. Upaya pencegahan sudah dilakukan, tapi hasilnya belum maksimal. “Ternyata hingga sekarang ancaman masih ada dan membuat petani resah,” katanya.
Ia tidak menampik sekarang ada petani yang membiarkan lahannya terbengkalai dan tidak ditanami karena takut terjadi kegagalan panen. “Mau panen bagaimana, wong sudah keduluan kawanan monyet,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bantuan air bersih sudah disalurkan ke delapan kapanewon di Gunungkidul. BPBD mengalokasikan 1.150 tangki untuk warga terdampak kekeringan.
DPUPRKP Gunungkidul mencopot bando Selamat Datang Wonosari di Logandeng, Playen karena dinilai membahayakan setelah berusia lebih dari 10 tahun.
Pemprov DIY menetapkan empat kalurahan sebagai percontohan revitalisasi Lumbung Mataraman untuk memperkuat ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 31 Juli 2026 tersedia 15 perjalanan. Tarif tetap Rp8.000 dengan layanan dari Yogyakarta hingga Palur.
Pemkab Kulon Progo dan BBWS Serayu Opak mengeruk Sungai Serang untuk mitigasi banjir sekaligus memanfaatkan sedimen bagi infrastruktur Porda DIY 2027.
DPC PDIP Sleman menggelar sarasehan dan nobar film Kudatuli di Minggir sebagai pendidikan politik serta penguatan soliditas kader menuju Pemilu 2029.