Berikut 5 Poin Piagam Klaten Hasil ICHC ke-35
Penyelenggaraan 35th International Cycling History Conference (ICHC) menghasilkan Piagam Klaten.
Balai Pelestari Nilai Budaya (BPNB) DIY menampilkan peserta kursus Sinden dan Karawitan Sore, Jumat (19/8/2022)/Ist
Harianjogja.com, JOGJA--Balai Pelestari Nilai Budaya (BPNB) DIY menampilkan peserta kursus Sinden dan Karawitan Sore, Jumat (19/8/2022). Penampilan tersebut sebagai bentuk hasil akhir pembelajaran siswa.
Kepala BPNB DIY Dwi Ratna Nurhajarin menyebut program Sinden dan Karawitan Sore sebagai program tahunannya. Tujuannya untuk regenerasi pelaku pelestari seni budaya. “Karena untuk ikut jadi peserta Sinden dan Karawitan Sore ada batasan umurnya,” ujarnya, Jumat siang.
Ratna menyebut batas umur peserta tersebut adalah 20 sampai 40 tahun. Untuk Karawitan Sore, jelas Ratna, sudah meluluskan dua kelompok belajar, sedangkan Sinden Sore tahun ini dilakukan yang pertama.
“Tahun depan akan kami lanjutkan programnya, bahkan ada usulan untuk membuat kelas dengan klasifikasi tahapan berikutnya artinya semacam kelas mahirnya,” jelasnya. Sinden dan Karawitan Sore, lanjut Ratna, pada dasarnya mengajarkan seni sinden dan karawitan pada tahap dasar.
“Kelas ini memang ditujukan untuk yang awam dan belajar dari dasar, nah rencananya tahun depan ada kelas serupa untuk yang kalsifikasi mahir sebagai proses pengayaan belajar bagi yang sudah mengikuti kelas dasar ini,” tutur Ratna.
Ratna menjelaskan peminat dua kelas tersebut cukup banyak. “Masyarakat cukup antusias setiap kali kami buka pendaftaran Sinden dan Karawitan Sore,” katanya.
Pembina Seni Budaya BNPB DIY Warsito menyebut ada 24 pertemuan yang sudah dilangsungkan dalam proses pembelajaran Sinden dan Karawitan Sore. “Dalam seminggu ada satu pertemuan, untuk sinden tiap Kamis lalu karawitan tiap Rabu,” jelasnya.
Sehingga proses pembelajaran Sinden dan Karawitan Sore berlangsung selama enam bulan. “Kurang lebih enam bulan sampai mereka (peserta) benar-benar bisa mempraktekkannya secara minimal dasar,” katanya.
Pengajar Sinden dan Karawitan Sore, jelas Warsito, juga berasal dari profesional. “Selain dari internal BPNB DIY, kami juga meminta khusus pada dosen ISI Jogja untuk mengajar jadi lebih terarah dan terjamin kualitasnya,” ujarnya.
Ke depan, Warsito berencana tak hanya mengadakan pembelajaran sinden dan karawitan. “Harapannya ada penambahan kesenian lain yang juga diadakan di ini, misalnya wayang uwong karena itu juga sudah mulai sedikit peminatnya,” jelasnya. Semakin beragam pembelajaran kesenian yang diberikan, lanjut Warsito, semakin lestari seni tradisi dan nilai-nilainya. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penyelenggaraan 35th International Cycling History Conference (ICHC) menghasilkan Piagam Klaten.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.
Aktivis Global Sumud Flotilla mengaku mengalami sengatan listrik dan kekerasan fisik saat ditahan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.
Tingkat pengangguran DIY turun menjadi 3,05% pada Februari 2026. Pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif jadi penyerap tenaga kerja utama.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp57.650 per kg menurut data PIHPS Kamis pagi. Telur ayam ras dijual Rp32.500 per kg.
Revisi UU HAM disiapkan untuk melindungi aktivis dan pembela HAM dari kriminalisasi serta memperkuat hak digital dan lingkungan hidup.