Advertisement

Mengenal Makna dan Nama Pohon Beringin di Kraton Jogja, Ada Unsur Ketuhanan & Kemanusiaan

Yosef Leon
Selasa, 13 September 2022 - 13:07 WIB
Budi Cahyana
Mengenal Makna dan Nama Pohon Beringin di Kraton Jogja, Ada Unsur Ketuhanan & Kemanusiaan Pengendara melintas di kawasan Alun-Alun Selatan Jogja dengan latar belakang pohon beringin, Selasa (13/9/2022). - Harian Jogja/Yosef Leon

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Sumbu Filosofi Jogja yang membentang dari kawasan Tugu Golong-Gilig, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sampai Panggung Krapyak memuat sejumlah atribut penting yang memuat makna dan nilai pendukung. Salah satu penanda itu adalah pohon beringin yang telah ada sejak Kraton Jogja berdiri. 

Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Widya Budaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat KRT Rintaiswara menjelaskan pohon beringin di Kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat punya sejarah yang panjang sejak era kepemimpinan Sultan Hamengku Buwono I. Cukup banyak ritual yang dilakukan di pohon beringin yang juga dianggap pusaka itu. 

"Ada banyak makna yang tersurat dan tersirat pada keberadaan pohon beringin di Kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kehadirannya jadi makna penting kawasan Sumbu Filosofi," kata KRT Rintaiswara, Selasa (13/9/2022). 

Dia menyebut Kraton Jogja juga memberikan nama dan makna khusus pada pohon beringin tersebut. Dua pohon beringin yang berada di Alun-Alun Utara disebut sebagai Kyai Dewandaru atau Dewatadaru dan Kyai Janandaru atau Wijayandaru. Kyai Dewandari tumbuh di bagian barat, sedangkan Kyai Janandari tumbuh di sebelah timur.

"Itu disebut juga sebagai ringin kurung. Yang Dewatadaru bibitnya dari Majapahit, bermakna ketuhanan. Sedangkan Wijayandaru bibitnya dari Padjajaran, dengan makna kemanusiaan. Jadi secara umum berarti Manunggaling Kawula Gusti," ucapnya. 

Nama pada dua pohon beringin itu berubah karena berbagai hal. Pohon beringin yang berada di sisi barat Alun-alun Utara awalnya dinamai Kyai Dewandaru, kemudian menjadi Dewatadaru. Sementara pohon yang sebelah timur awalnya dinamai Kyai Janandaru, lantaran terbakar bibitnya diganti dan dinamai Wijayandaru. 

"Itu dianggap pusaka dan setiap Sura dibenahi. Cabangnya diperbaiki setiap bulan Sura bersamaan dengan siraman pusaka di dalam Kraton," ujarnya. 

Sementara, di bagian utara Kompleks Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga terdapat pohon beringin lain yang dinamai Wok dan Jenggot, dan pada sisi selatan dinamai Agung dan Binatur. Pohon beringin itu dimaknai sebagai pengayom, persatuan, kekuataan, kewibawaan dan keabadian. 

Di halaman Magangan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga bediri pohon beringin yang disebut dengan Kyai Sri Makutharaja. Kemudian dua beringin di Alun-alun Selatan dinamai Kyai Supiturang. "Sekeliling Alun-Alun juga ada pohon beringin jumlahnya 62 batang. Maknanya sebagai penanda usia Nabi Muhammad SAW berdasarkan penanggalan Jawa," imbuhnya. 

Menurut KRT Rintaiswara, pohon beringin di Alun-alun Selatan sejak dulunya kerap dijadikan lokasi ritual persemayaman raja. Jenazah yang akan dimakamkan di Permakaman Raja-Raja di Imogiri dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan lewat di antara kedua pohon beringin itu sebelum disemayamkan.

Advertisement

BACA JUGA: Tol Jogja-Solo Seksi Kartasura-Purwomartani Selesai Agustus 2023

"Itu sudah tradisi, jenazah raja akan melewati tengah-tengah pohon beringin yang ada di alun-alun selatan sampai ke Plengkung Nirbaya," ungkapnya.

Area ini juga kerap dijadikan tempat favorit bagi wisatawan yang bepelesir di Jogja. Pada malam hari banyak pengunjung di Alun-Alun Selatan yang mencoba tantangan melewati kedua sisi pohon beringin dengan mata tertutup. Jika lolos melewati bagian tengah dengan lancar, mereka percaya keinginan dan cita-cita bakal terkabul. 

Advertisement

"Tapi kembali pada kepercayaan masing-masing. Mangga mawon. Biasanya jarang ada yang berhasil. Banyak dari orang luar Jogja yang mencoba ke sana," pungkasnya.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

TRAGEDI KANJURUHAN: Penggunaan Gas Air Mata oleh Polisi Jadi Sorotan LPSK

News
| Minggu, 02 Oktober 2022, 21:27 WIB

Advertisement

alt

Perhatian! Sewa Jip di Tebing Breksi Bakal Naik Rp50.000 Mulai 1 November 2022

Wisata
| Minggu, 02 Oktober 2022, 18:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement