Penerima Bansos di Gunungkidul Diminta Hindari Judol dan Game Online
Sebanyak 9.921 penerima bansos Gunungkidul terindikasi judi online. Dinsos mengingatkan game online dengan top up juga berisiko.
Pengendara melintas di sekitar ikon patung kendang yang ada di Bundaran Siyono, Kalurahan Logandeng, Playen, Senin (12/9/2022). - Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Tobong gamping menjadi pembicaraan di Gunungkidul karena akan menggantikan patung pengendang di Bundaran Siyono di Kalurahan Logandeng, Playen. Meski demikian, aktivitas pembuatan gamping melalui pembakaran di tobong sudah jarang terlihat.
Keberadaan tobong gamping yang masih ada, salah satunya di Kalurahan Piyaman, Wonosari. Produksi gamping masih berlangsung hingga sekarang.
Adapun prosesnya batu kapur yang sudah dipecah dimasuKkan ke tungku pembakaran setinggi lima meter dan lebar empat meter yang dikenal dengan nama tobong. Pebakaran menggunakan kayu dan ban bekas. Agar tidak menimbulkan kebakaran, ada pekerja khusus yang bertugas menyirami kayu-kayu dengan air agar api tidak keluar dari tobong.
Salah seorang pekerja tobong gamping, Supardal, 66, mengatakan, sudah lam bekerja sebagai pembuat gamping di Dusun Pakeljaluk. Usaha ini sudah berlangsung secara turun temurun.
BACA JUGA: WHO Isyaratkan Pandemi Berakhir, Ini Update Capaian Vaksinasi DIY
Namun setelah gempa di 2006 lalu, banyak pengusaha yang gulung tikar. Hal ini tak lepas dengan munculnya pabrik-pabrik penggilingan batu kapur. “Tentunya ada dampaknya karena peminat gamping jadi berkurang. Praktis, usaha produksinya ikut berkurang,” katanya.
Dia menjelaskan, butuh waktu untuk membuat gamping. Batu putih yang sudah dipecah menjadi ukuran kecil ditata dalam tobong dengan posisi mengerucut.
Di bagian bawah ada perpaian untuk membakar, agar api tetap stabil maka prosesnya dibantu menggunakan blower. “Memang tidak sebentar pembakarannya karena butuh waktu sekitar sehari semalam. Tandanya gamping sudah matang akan muncul asap putih di bagian atas tobong,” ungkapnya.
Batu gamping yang dihasilkan biasanya untuk bahan bangunan yang dicampur menggunakan semen dan pasir. Selain itu, dulunnya juga dimanfaatkan dalam proses pengecatan rumah atau pagar.
Salah seorang pemilik tobon gamping, Paliyo mengatakan, sudah mengoperasikan tobong sejak lama. Ia tidak menampik proses ini bisa menimbulkan polusi.
Meski hampir setiap hari menghirup debu baik dari pembakaran maupun gamping, ia mengaku pernapasannya tidak terganggu. “Agar tetap bugar saar sering minum jamu tradisional, salah satunya daun sambiloto yang direbus kemudian diminum supaya badan tetap bugar,” katanya.
Dia mengakui, dari proses produksi gamping, dalam kurun waktu sekitar sepuluh hari dapat meraup keuntungan sebesar Rp500.000. Adapun gamping banyak dijual ke luar daerah karena di Gunungkidul sudah jarang yang membutuhkan.
“Saya tetap bertahan karena kalau tutup maka warga tidak bekerja lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 9.921 penerima bansos Gunungkidul terindikasi judi online. Dinsos mengingatkan game online dengan top up juga berisiko.
Kemensos mendorong transformasi Puskesos Sleman menjadi pusat layanan dan pemberdayaan sosial. Sumberejo dipilih sebagai lokasi percontohan.
Pemerintah menyiapkan SPP TDLN untuk memungut PPN transaksi digital luar negeri. Sistem tersebut kini memasuki tahap akhir sebelum beroperasi.
KPK menduga sejumlah Kantah di Jatim menyetor uang ke oknum Kanwil BPN Jatim setelah penyidik menemukan uang ratusan juta rupiah.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.