Gunungkidul Krisis Air Saat Kemarau, Sungai Bawah Tanah Jadi Solusi
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
Pengendara melintas di sekitar ikon patung kendang yang ada di Bundaran Siyono, Kalurahan Logandeng, Playen, Senin (12/9/2022). - Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Tobong gamping menjadi pembicaraan di Gunungkidul karena akan menggantikan patung pengendang di Bundaran Siyono di Kalurahan Logandeng, Playen. Meski demikian, aktivitas pembuatan gamping melalui pembakaran di tobong sudah jarang terlihat.
Keberadaan tobong gamping yang masih ada, salah satunya di Kalurahan Piyaman, Wonosari. Produksi gamping masih berlangsung hingga sekarang.
Adapun prosesnya batu kapur yang sudah dipecah dimasuKkan ke tungku pembakaran setinggi lima meter dan lebar empat meter yang dikenal dengan nama tobong. Pebakaran menggunakan kayu dan ban bekas. Agar tidak menimbulkan kebakaran, ada pekerja khusus yang bertugas menyirami kayu-kayu dengan air agar api tidak keluar dari tobong.
Salah seorang pekerja tobong gamping, Supardal, 66, mengatakan, sudah lam bekerja sebagai pembuat gamping di Dusun Pakeljaluk. Usaha ini sudah berlangsung secara turun temurun.
BACA JUGA: WHO Isyaratkan Pandemi Berakhir, Ini Update Capaian Vaksinasi DIY
Namun setelah gempa di 2006 lalu, banyak pengusaha yang gulung tikar. Hal ini tak lepas dengan munculnya pabrik-pabrik penggilingan batu kapur. “Tentunya ada dampaknya karena peminat gamping jadi berkurang. Praktis, usaha produksinya ikut berkurang,” katanya.
Dia menjelaskan, butuh waktu untuk membuat gamping. Batu putih yang sudah dipecah menjadi ukuran kecil ditata dalam tobong dengan posisi mengerucut.
Di bagian bawah ada perpaian untuk membakar, agar api tetap stabil maka prosesnya dibantu menggunakan blower. “Memang tidak sebentar pembakarannya karena butuh waktu sekitar sehari semalam. Tandanya gamping sudah matang akan muncul asap putih di bagian atas tobong,” ungkapnya.
Batu gamping yang dihasilkan biasanya untuk bahan bangunan yang dicampur menggunakan semen dan pasir. Selain itu, dulunnya juga dimanfaatkan dalam proses pengecatan rumah atau pagar.
Salah seorang pemilik tobon gamping, Paliyo mengatakan, sudah mengoperasikan tobong sejak lama. Ia tidak menampik proses ini bisa menimbulkan polusi.
Meski hampir setiap hari menghirup debu baik dari pembakaran maupun gamping, ia mengaku pernapasannya tidak terganggu. “Agar tetap bugar saar sering minum jamu tradisional, salah satunya daun sambiloto yang direbus kemudian diminum supaya badan tetap bugar,” katanya.
Dia mengakui, dari proses produksi gamping, dalam kurun waktu sekitar sepuluh hari dapat meraup keuntungan sebesar Rp500.000. Adapun gamping banyak dijual ke luar daerah karena di Gunungkidul sudah jarang yang membutuhkan.
“Saya tetap bertahan karena kalau tutup maka warga tidak bekerja lagi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendorong optimalisasi sungai bawah tanah sebagai solusi jangka panjang mengatasi krisis air bersih saat kemarau.
BGN menetapkan dua sesi jam kerja wajib kepala SPPG MBG, yakni pukul 17.00-19.00 WIB dan 02.00-08.00 WIB.
Pemkab Bantul merotasi tujuh pejabat PTP. Sejumlah jabatan strategis diisi pejabat baru setelah melalui uji kompetensi dan persetujuan BKN.
Kebakaran melanda lahan penghijauan dekat Tol Semarang-Solo KM 442. Lima mobil damkar dikerahkan untuk memadamkan api.
PANDI menargetkan jumlah domain .id mencapai 2,8 juta pada 2031 seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap domain lokal.
Kemenhaj verifikasi ulang 400.000 data antrean haji yang berpotensi mengurangi daftar tunggu dan memangkas waktu keberangkatan.