Advertisement

Kisah Fotografer Persalinan, Merekam Tangis Haru dalam Bidikan Lensa

Triyo Handoko
Rabu, 19 Oktober 2022 - 07:47 WIB
Arief Junianto
Kisah Fotografer Persalinan, Merekam Tangis Haru dalam Bidikan Lensa Potret hasil karya Galuh Permathasari saat momen persalinan di sebuah rumah sakit di Jogja. - Istimewa/Dok. Pribadi

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA - Keterampilan fotografi saja tak cukup bagi seseorang jadi fotografer persalinan. Empati jadi kunci utama profesi yang mengabadikan momen bersejarah seorang ibu.

Suatu hari pada 2018, Galuh Permathasari tak menyangka akan jadi pendamping persalinan seseorang yang tak begitu ia kenal. Lebih mengejutkan lagi, Galuh hanya seorang diri sebagai pendamping. Si perempuan saat itu tak ditemani suami dan keluarganya saat persalinan.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Galuh seketika merasa bingung, cemas, dan deg-degan menghadapi situasi itu. Ketika itu, dia belum menikah dan belum pernah mengalami persalinan. “Ke ruang operasi saja belum pernah,” katanya, Kamis (13/10/2022). 

Haru sontak menggelayuti batin Galuh seusai persalinan tersebut. Dia merasa perjuangan perempuan untuk melahirkan buah hatinya bukan hal sederhana. “Saya jadi merasa kalau ibu dulu melahirkan saya pasti juga berat,” katanya lirih.

Sebenarnya keberadaan Galuh pada persalinan tersebut adalah sebagai fotografer, bukan pendamping sang ibu hamil. Tanggung jawab yang diembannya untuk mengabadikan momen penting perempuan tersebut. 

“Sebenarnya sudah dikabari sebelumnya kalau dia bersalin tanpa pendampingan pasangan dan keluarga, tetapi saat di ruang persalinan tetap saja saya bingung dan cemas,” jelasnya.

Waktu itu, Galuh baru memulai profesi sebagai salah satu fotografer persalinan di Jogja. “Baru mulai, jadi masih minim pengalaman dan juga baru banyak-banyaknya belajar soal persalinan juga, waktu itu juga belum banyak yang khusus fotografer persalinan di Jogja” ujarnya.

Seiring waktu, Galuh mulai belajar banyak soal persalinan. Dari hari perkiraan lahir (HPL), proses persalinan mulai bukaan sampai pasca kelahiran, hingga model-model persalinan. “Akhirnya jadi terbiasa dengan darah juga,” katanya setengah terkekeh.

Advertisement

Darah saat persalinan sudah jadi hal biasa bagi ibu satu anak tersebut. “Awalnya memang takut tetapi lama-lama biasa karena memang itu bagian yang normal,” ucap dia.

Menumbuhkan Empati

Sebelum memutuskan terjun ke profesi fotografi persalinan, Galuh berprofesi sebagai guru fotografi. Lulusan ISI Jogja ini sempat mengajar di SMP dan SMK untuk pelajaran fotografi. “Awalnya referensi utama saya itu Ayudia Bing Slamet, dia salah satu fotografer persalinan gelombang pertama di Indonesia,” kata Galuh.

Advertisement

Waktu itu 2018 awal, Galuh masih banyak melakukan riset model seperti apa yang hendak ditawarkannya. Bermodal keberanian dan jejaring lamanya dalam dunia fotografi, Galuh memutuskan terjun langsung dengan nama unit Menanti Dinanti.

Ciri khas foto karyanya adalah foto bercerita. “Jadi saya memang lebih suka foto bercerita, di mana antara satu foto dengan lainnya punya hubungan cerita dan urutan yang jelas,” ucap Galuh.

Lantaran pilihannya adalah foto bercerita, ucap Galuh, diskusi dengan klien pun jadi hal penting. “Diskusinya dari apa yang hendak diceritakan, bagian apa yang ditonjolkan, sampai detail-detail lainnya,” ujarnya.

Para pendamping ibu melahirkan, keluarganya, dan dokter yang menanganinya yang dipotret Galuh Permathasari./Istimewa

Advertisement

Dari diskusi tersebut, Galuh menyebut mendengar dan berempati jadi hal yang penting dilakukan. Tanpa dua hal tersebut sulit mewujudkan permintaan klien dan menjembatani antara keinginan dengan realitas lapangan saat sesi pengambilan foto.

“Kebanyakan memang klien menyerahkan semuanya ke saya, tapi saya juga mencoba memahami apa yang diinginkan klien,” katanya. Empati juga penting terutama ketika menghadapi situasi ruang operasi yang bisa berubah setiap saat.

“Biasanya kalau bukaan lahirannya lama, ibu hamil akan kehabisan energi dan lepas kontrol lalu dengan mudah bisa marah-marah, nah itu kami haru tahu kondisinya,” ucapnya.

Advertisement

Tanpa empati, jelas Galuh, sulit untuk dapat konsisten di fotografi persalinan. “Karena setiap lahiran ibu hamil bisa berbeda-beda situasi dan emosinya, jadi harus pandai menyesuaikan kondisi yang ada,” jelasnya kalem.

Keterampilan Nomor Sekian

Rizka Anggreani pemilik Nafas Pertama, sebuah unit fotografi persalinan di Jakarta juga mengamini empati jadi hal mutlak dibanding keterampilan dalam fotografi persalinan. “Mental dan terutama empati jadi yang sangat harus dimiliki fotografer persalinan,” tegasnya, Senin (17/10/2022). 

Cerita paling mengesankan soal menghadapi klien yang psikisnya berubah saat persalinan diperoleh Rizka saat menangani persalinan penyanyi Prastiwi Dwiarti atau Tiwi T2. “Waktu persiapan sebelum persalinan, saat diskusi bahkan sampai bukaan kelima itu Tiwi masih biasa-biasa saja,” ujarnya. 

Advertisement

Namun, saat bukaan kelima menuju ketujuh, lanjut Rizka, karena prosesnya lama dan memakan banyak energi maka psikisnya menurun dan lepas kontrol. “Ya enggak cuma saya saja yang dimarahi, semua orang di ruangan itu diomelin sama dia padahal enggak ada yang salah,” kenangnya.

Untungnya, Tiwi setelah persalinan menyadari emosi tersebut dan meminta maaf ke Rizka. “Sebenarnya tanpa minta maaf pun kami tahu kalau memang kondisinya seperti itu bisa ditoleransi,” ujarnya setengah tertawa mengenang momen tersebut. 

Prinsip empati yang dipegang Rizka tersebut membawa unit usahanya terus berkembang. Kini, Nafas Pertama memiliki 14 fotografer dan melayani pemotretan hingga luar Jakarta. “Kami ada di Semarang, Solo, Malang, dan Bandung, sama sebenarnya bisa request,” katanya.

Selain sebagai modal utama, empati bagi Rizka juga bisa jadi kemampuan untuk mempertajam kerja. “Jika punya empati yang tepat maka karyanya pasti lebih bermakna dan berarti, karena tahu mana yang tepat untuk dipotret dan yang tidak,” jelasnya.

Advertisement

Keterampilan memotret, lanjut Rizka, memang penting dan wajib dimiliki fotografer persalinan. “Tetapi kalau terampil saja tanpa empati hasilnya akan sangat kaku, tetapi kalau sudah ada empati maka keterampilan bisa diasah pelan-pelan,” terangnya.

Jadi Momen Reflektif 

Baik Rizka dan Galuh menyebut pengalamannya sebagai fotografer persalinan meningkatkan kepercayaan mereka bahwa perempuan memiliki keberdayaan yang kuat. Setiap pemotretan, mereka selalu mendapat momen reflektif masing-masing sebagai perempuan ketika menghadapi persalinan. 

Rizka misalnya menceritakan pengalamannya dalam pemotretan persalinan seorang ibu yang sudah menunggu momongan lebih dari 13 tahun.

“Saat itu saya benar-benar terharu melihat bagaimana kuat dan berusahanya ibu ini untuk dapat momongan, karena saya sendiri dua bulan saja langsung hamil setelah pernikahan ini juga momen reflektif saya,” jelasnya.

Rasa terharu Rizka bukannya tanpa dasar, waktu itu sang bapak yang menemani istrinya melahirkan saat bayi sudah lahir langsung diazani sambil menangis. “Bapak ini mengazani anaknya sambil menangis bahagia karena sudah 13 tahun menunggu momen itu, ini kan sangat mengharukan sekali,” ujarnya.

Alih-alih darah yang banyak menggenang, momen tersebut lah yang lebih membuat Rizka bergetar. “Ada banyak momen sebenarnya yang mengesankan itu, tetapi hampir semuanya menunjukan ke saya kalau perempuan itu kuat menghadapi apa saja dan itu secara tidak langsung juga menginternalisasi saya untuk jadi kuat juga,” ucap dia.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Piala Dunia 2022

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Dubes AS Kritik KUHP Soal Zina: Bisa Pengaruhi Hubungan RI-AS

News
| Kamis, 08 Desember 2022, 04:27 WIB

Advertisement

alt

Jalan Layang Paling Membingungkan di Dunia, Perlu 10 Menit Keluar Kalau Salah Jalur

Wisata
| Rabu, 07 Desember 2022, 23:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement