Wamenkeu Juda Agung Ungkap Arah Fiskal 2027 dan Target 6 Persen
Kebijakan fiskal 2027 tetap pro-growth dengan target pertumbuhan 6% dan defisit 2,4% PDB, namun pemerintah menjaga kehati-hatian fiskal.
Ilustrasi. /ANTARA FOTO-Aloysius Jarot Nugroho
Harianjogja.com, JOGJA--Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengimbau para guru berbagai jenjang pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memasukkan nilai-nilai moderasi beragama dalam materi pelajaran untuk mencegah bibit radikalisme di sekolah.
"Kami mendorong bapak, ibu guru dari berbagai macam tingkat pendidikan mengembangkan strategi pembelajaran dengan memasukkan nilai-nilai moderasi beragama," kata Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT Kolonel Czi Rahmad Suhendro di Yogyakarta, Rabu (23/11/2022).
Rahmad mengatakan hal itu saat membuka acara "Internalisasi Nilai-nilai Agama, Sosial, Ekonomi, Budaya melalui Training Of Trainer menjadi Guru Pelopor Moderasi Beragama" di Gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Yogyakarta, Rabu.
Menurut Rahmad, nilai-nilai moderasi beragama yang dapat disisipkan dalam materi pelajaran meliputi toleransi, semangat kebangsaan, saling menghormati, dan menghargai keragaman atau kebinekaan.
Sebagai lembaga negara yang mendapat mandat untuk menanggulangi terorisme, BNPT selama ini berusaha keras tidak hanya melalui penindakan tegas namun juga menggelar program-program dengan pendekatan bersifat lunak.
Kegiatan itu merupakan salah satu bentuk penanggulangan terorisme secara lunak dengan melibatkan berbagai komponen bangsa, khususnya melalui partisipasi aktif pemangku kepentingan di bidang pendidikan.
BACA JUGA: Bocah 4 Tahun Korban Gempa Cianjur Selamat Setelah Tertimbun 3 Hari
"BNPT yakin bahwa dalam konteks pencegahan radikalisme dan terorisme, pendekatan lunak adalah pilihan yang paling tepat. Kami tentunya sangat ingin mencegah paham radikal dan terorisme tanpa harus menimbulkan dendam berkepanjangan," jelas Rahmad.
Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DIY Bambang Wisnu Handoyo mengatakan kegiatan training of trainer itu diikuti sebanyak 100 guru dari berbagai jenjang pendidikan, mulai pendidikan anak usia dini (PAUD), TK, SD, SMP, hingga SMA.
Bambang berharap para pendidik mampu melakukan pelatihan serupa dalam menepis bibit radikalisme di lembaga pendidikan, khususnya di Yogyakarta.
"Paling sederhana menangkal intoleransi sama radikalisme. Kami butuh itu. Misalnya, jangan sampai ada sekolah yang untuk menjadi ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) harus muslim," katanya.
Selain mampu mengajarkan nilai moderasi beragama, Bambang berharap para guru memberikan contoh melalui sikap dan perilaku yang moderat di hadapan siswa.
"Kadang-kadang, tanpa sengaja intoleransi diciptakan oleh kelompok-kelompok elit sendiri. Misalnya, guru-guru yang tidak sengaja melakukan hal yang intoleran, mereka lupa kalau murid itu mengawasi," ujar Bambang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Kebijakan fiskal 2027 tetap pro-growth dengan target pertumbuhan 6% dan defisit 2,4% PDB, namun pemerintah menjaga kehati-hatian fiskal.
Sebanyak 45 warga binaan berisiko tinggi dari Jawa Timur dipindahkan ke Nusakambangan, termasuk tiga warga binaan kasus narkoba dari Lapas Madiun.
Cahya Supriadi antusias menghadapi mantan klubnya, Persija Jakarta. PSIM Jogja membidik kemenangan di Stadion Sultan Agung pada 10 Oktober 2026.
Pemkab Bantul menjadwalkan pelantikan lurah terpilih hasil Pilur serentak pada 5 November 2026. DPMKal belum menerima sanggahan hasil pemilihan.
Menkeu Suahasil Nazara menjelaskan defisit APBN Rp319 triliun per September 2026 sesuai desain anggaran dan masih dalam koridor proyeksi pemerintah.
Raperda RPPLH Sleman 2026–2056 memuat tujuh isu lingkungan, mulai dari penurunan kuantitas air hingga peningkatan emisi gas rumah kaca.