RS Saras Adyatma Bantul Layani Pemeriksaan Kesehatan Calon Jemaah Haji 2027
Rumah Sakit Saras Adyatma Bantul mulai melayani pemeriksaan kesehatan penunjang bagi calon jemaah haji Kabupaten Bantul untuk keberangkatan 2027.
Suasana Kongres Perempuan di Dalem Jayadipuran, duduk di tengah R.A. Soekanto dan disisi kirinya yang sedang menulis sekretarisnya St. Soekaptinah. Istimewa
JOGJA—Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY terus menjaga tempat Kongres Perempuan I pada 1928. Tempat yang saat diselenggarakannya Kongres Perempuan I disebut Dalem Jayadipuran tersebut sejak 1980an menjadi aset Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) lalu digunakan BPNB DIY sebagai kantornya.
Kelestarian bangunan bersejarah yang melahirkan Hari Ibu tersebut masih banyak menyimpan keasliannya. Terbukti dari foto Kongres Perempuan I yang memperlihatkan bangunan Dalem Jayadipuran masih sama seperti sekarang saat digunakan BPNB DIY sebagai kantor. Begitu Juga kondisi bangsal di depan pendopo yang dulunya jadi tempat belajar sekolah Boedi Oetomo yang kini dijadikan tempat latihan Bale Nyinden Sore dan Bale Nggamel Sore, salah satu kegiatan pelatihan karawitan dan nyinden bagi masyarakat umum yang diselenggarakan gratis oleh BPNB DIY.
Pelaksanaan Kongres Perempuan I di Dalem Jayadipuran tersebut terselenggara pada 22-25 Desember 1928. Ada 30 organisasi yang mengikuti kongres tersebut. Dalam berbagai catatan yang sudah dikaji BPNB DIY ada banyak kondisi yang melatar belakangi kongres tersebut, khususnya kondisi perempuan pada zaman itu yang kerap kali mengalami penindasan.
Pamong Budaya Sejarah BPNB DIY Indra Fibiona menjelaskan dari penelitiannya lewat arsip koran-koran masa kolonial pada 1928 banyak kasus kekerasan perempuan terutama kelompok buruh. “Dulu itu sekitar November 1928 ada kasus cukup gempar di Jogja yaitu kekerasan seorang pemilik toko dari Jepang di Malioboro yang melakukan kekerasan ke pegawai perempuannya yang pribumi, itu jadi salah satu momen para perempuan pergerakan waktu itu untuk mengadakan Kongres Perempuan I,” jelasnya, Rabu (21/12/2022).
Indra menyebut ada beberapa poin bahasan dalam Kongres Perempuan I, dari tuntutan pemenuhan hak pendidikan perempuan, kerja layak, hingga pelarangan kawin anak perempuan. “Isu yang dibahas waktu itu sangat menjunjung tinggi harkat martabat perempuan, jadi Hari Ibu ini sangat penting jika melihat konteks munculnya Kongres Perempuan I,” katanya.
Hari Ibu yang tiap tahun dirayakan pada 22 Desember, jelas Indra, adalah lahir dari kelompok perempuan zaman kolonial yang memperjuangkan haknya. “Jadi harus dimaknai dengan baik Hari Ibu ini, mengingat sejarahnya yang tak mudah maka penting untuk selalu jadi momen reflektif kita bersama sebagai bangsa yang menghormati sejarahnya,” tegasnya.
Bagian dari memaknai Hari Ibu, lanjut Indra, dengan tepat yang dilakukan BPNB DIY adalah dengan terus merawat artefak bangunan Kongres Perempuan I. “Sebagai saksi bisu yang menyaksikan terjadinya kongres tersebut penting juga tentunya merawat bangunan ini agar terus lestari dan asli sebagai bagian merawat sejarah,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rumah Sakit Saras Adyatma Bantul mulai melayani pemeriksaan kesehatan penunjang bagi calon jemaah haji Kabupaten Bantul untuk keberangkatan 2027.
Jadwal SIM Keliling Sleman November 2026 tersedia di MPP, Sleman City Hall dan lokasi SIMMADE. Simak jam layanan serta persyaratannya.
AHY mengecam dugaan penyadapan ilegal yang dinilai mengancam demokrasi, keamanan negara, dan privasi masyarakat.
Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi mengungkap kerentanan jaringan 2G dan pentingnya pengawasan sistem LIMS untuk mencegah penyadapan ilegal.
Satpom Lanud Adisutjipto mengajak masyarakat tidak takut melapor jika menghadapi persoalan yang melibatkan anggota TNI AU.
Kemenkes mendistribusikan 3,8 juta masker, oksigen, obat-obatan, dan tenaga kesehatan untuk tujuh provinsi terdampak kabut asap karhutla.