Advertisement

Berkarya Bersama, Komunitas Ini Terus Berusaha Bikin Orang Tertawa

Sirojul Khafid
Sabtu, 07 Januari 2023 - 06:37 WIB
Arief Junianto
Berkarya Bersama, Komunitas Ini Terus Berusaha Bikin Orang Tertawa Salah seorang komika Standupindo Jogja tampil di acara Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA — Titik kelucuan seorang komedian tunggal (stand-up comedian) bisa dipelajari. Komunitas Standupindo Jogja menjadi salah satu tempat menempa diri bagi mereka yang ingin melucu tanpa harus didampingi pelawak lainnya di atas panggung.

Mamat Alkatiri mendapatkan golden ticket dalam audisi Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) Season 6.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Hanya perlu menunggu satu panggilan telepon dari pihak penyelenggara, dia bisa berangkat ke audisi tahap berikutnya di Jakarta. Sayangnya panitia SUCI merasa Mamat perlu persiapan lebih. Terutama lantaran dia belum bergabung dengan komunitas komedi tunggal (stand-up comedy).

Tanpa memiliki dasar-dasar teknik komedi tunggal yang umumnya bisa dipelajari di komunitas, panitia memprediksi Mamat hanya bisa bertahan satu atau dua pekan saja di kompetisi.

SUCI 6 belum menjadi milik Mamat. Saat itulah, dia akhirnya bergabung dalam Standupindo Jogja.

Hanya perlu waktu enam bulan belajar teori dan praktik, dia sudah bisa menjadi opener pertunjukan Pandji Pragiwaksono, salah satu komika (sebutan untuk komedian tunggal) nasional. Bahkan dalam SUCI 7, audisi yang dia kembali ikuti, Mamat tampil sebagai pemenang II.

BACA JUGA: Kota Jogja Gelar Lomba Stand-Up Comedy Bahasa Jawa

Mamat mungkin contoh orang yang memang memiliki bakat melucu. Namun, contoh baik dari kerja keras juga terlihat pada Coki Anwar. Sekitar dua sampai tiga tahun Coki dianggap tidak lucu.

Namun, dia tetap konsisten berlatih. Baru setelah memperoleh pola yang cocok, progres Coki akhirnya terlihat. Dalam audisi SUCI 7, dia menjadi pemenang V.

Meski dua kisah sukses komika nasional ini tentu tidak terjadi pada semua orang. Anggota Standupindo Jogja,

Sandi Prastowo, sudah melihat pola ini sejak dia bergabung pada 2012. Cukup banyak anggota yang sudah menyerah pada tahun pertama, bahkan pada percobaan tampil pertama.

“Misal saat Jumat jadwalnya open mic, yang nonton 50-70 orang. Misal saat itu tidak lucu, kemudian menganggap kalau dia orang paling tidak lucu se-Jogja. Padahal yang menonton cuma segitu aja, pekan depan yang nonton bakal beda orang lagi,” kata Sanpras, panggilan akrabnya, saat ditemui di Zippy Café, Sleman, Selasa (27/12/2022).

Kegiatan Jambore Standupindo./Istimewa

Bertahan atau tidaknya anggota ini bisa terlihat dari niat awal. Apabila sedari awal ingin terkenal, maka diarahkan ke kegiatan lain.

Anggota yang seperti ini biasanya melihat apabila menjadi komika sebagai jalan tercepat untuk terkenal.

Banyak komika yang kemudian bermain film dan sebagainya. Padahal komedi tunggal tidak semudah itu. Niat awal untuk menjadi terkenal juga gampang membuat kecewa apabila gagal melucu.

Pola seperti ini cukup sering terjadi. Apabila dihitung anggota Standupindo Jogja yang hanya datang sekali kemudian hilang, mungkin ada sekitar 1.000 orang.

Namun, bagi mereka yang konsisten datang sharing materi di hari Selasa dan open mic di hari Jumat, jumlahnya saat ini sekitar 50-60 orang.

Sebelum tampil pada Jumat, komika akan saling sharing dan mengoreksi materi pada Selasa-nya. Ini agar penampil lebih siap.

Tempat sharing dan open mic beberapa kali berpindah. Saat ini sharing berlangsung di Zippy Cafe, sementara open mic di Tilasawa Cafe.

Freedom of Nggambleh

Awalnya, sharing dan open mic digelar di Djendelo Koffie, Sleman. Di sini pula salah satu tonggak terbentuknya Standupindo Jogja.

Sekitar 2011, ada acara Freedom of Nggambleh, acara yang diinisiasi oleh Djendelo Koffie. Salah satu pengisi acaranya stand-up comedy, dan salah satu pengisinya kala itu adalah Sigit Haryo Seno.

Acara ini juga semakin kuat dengan adanya program Selososelo yang digawangi Anang Batas, Awangizm, dan Alit Jabang Bayi di Geronimo. “Tonggaknya ada di dua acara itu,” kata pria asal Gunungkidul itu.

“Jumlah komika awal-awal kurang lebih 20 orang. Di tahun yang sama, mulai ada komunitas kampus. Masuk 2014, komunitas kampus banyak banget. Pernah di suatu masa, sepekan full ada acara stand-up comedy. Akhirnya dijadwal biar enggak tubrukan,” imbuh komika berusia 27 tahun tersebut.

Saat awal-awal terbentuknya komunitasnya ini, usia komedi tunggal secara nasional juga masih seumur jagung. Artinya secara teori dan praktik masih meraba-raba.

Berbeda dengan saat ini, sudah banyak senior yang bisa membimbing dari segi penulisan, praktik, sampai evaluasi.

Sanpras menganggap titik lucu dalam komedi tungga bisa dipelejari. Di Standupindo Jogja misalnya, yang memang punya bakat serta yang memang belajar dari awal, perbandingannya 60:40.

Ada yang bakatnya dalam berbicara, tapi pembuatan materinya lemah, dan sebaliknya. “Paling banyak di tongkrongan enggak lucu, ngobrol enggak lucu, di keluarga juga enggak lucu, nah ini gimana caranya bisa ngolah. Ada teori dan triknya,” kata lulusan Teknik Informatika UNY ini. “Adilnya stand-up comedy, saat di panggung semua sama. Penonton enggak tahu kamu siapa, dinilai oleh penampilannmu malam itu,” ucap dia.

Ibarat sebuah kendaraan, Standupindo Jogja merupakan bengkel. Mereka berupaya memperbaiki di beberapa sisi. Namun hasilnya bisa berbeda-beda.

“Dalam sebulan dua bulan bisa kelihatan, ada yang berprogres, ada yang stuck. Ada yang mau ndengerin masukan saat evaluasi, ada juga yang bebal,” kata Sanpras.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Satgas BLBI Keok Lagi! Kali Ini Lawan Konglomerat Trijono Gondokusumo

News
| Jum'at, 03 Februari 2023, 22:27 WIB

Advertisement

alt

Pemugaran Candi Perwara Prambanan Bakal Tambah Daya Tarik Wisatawan

Wisata
| Jum'at, 03 Februari 2023, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement