Advertisement

Warga Keluhkan Debu hingga Sumur Keruh akibat Konstruksi Tol

Lugas Subarkah
Jum'at, 13 Januari 2023 - 16:37 WIB
Arief Junianto
Warga Keluhkan Debu hingga Sumur Keruh akibat Konstruksi Tol Sejumlah truk melewati jalan di dekat pengerjaan konstruksi tol, di Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Jumat (13/1/2023) - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN — Pengerjaan konstruksi jalan tol Jogja-Bawen yang sudah berlangsung sekitar setahun di beberapa titik di Sleman bagian barat dikeluhkan warga di sekitarnya. Pasalnya pengerjaan itu berdampak ke warga, mulai dari debu, tembok retak hingga sumur tercemar.

Salah satu warga Pundong 3, Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Pekik, menjelaskan pengerjaan tol berdampak yang terasa sampai saat ini seperti getaran yang merusak bangunan. “Getaran bikin bangunan jadi retak-retak, terus debu itu kan juga memengaruhi kesehatan,” ujarnya, Jumat (13/1/2023).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Kemudian saat hujan, air hujan bisa mengalir ke lingkungan warga sehingga menyebabkan air sumur keruh. Hal ini menurutnya disebabkan tanah urug dalam pembangunan tol itu diambil dari gunung sehingga jika terkena air hujan menjadi seperti lempung dan mencemari lingkungan.

“Kalau kena hujan itu airnya keruh sekali, warnanya jadi kecokelatan. Dampak seperti itu yang dirasakan warga. sampai sumur pun ada yang ga bisa dipakai karena kena itu. Karena sumurnya kan ada yang memang di luar,” kata dia.

BACA JUGA: Tol Terpanjang Kedua di Indonesia Tersambung Tol Jogja Solo dan Jogja Cilacap, Ini Jalurnya

Pihak tol menurutnya pernah menjanjikan akan memberi kompensasi kepada warga yang terdampak dari pengerjaan konstruksi ini. Namun sampai saat ini kompensasi tersebut belum terrealisasi dan belum ada informasi lagi terkait kompensasi tersebut.

“Iya [dijanjikan kompensasi], pernah didata juga. Sudah didata kok ga ada kejelasan. Katanya kok mundur lagi gitu. Di lingkungan tol ini kan didata, dengan jarak 50 meter dari pembangunan, warganya siapa saja, itu sudah didata semua di Tirtoadi,” ungkapnya.

Dampak pembangunan tol juga dirasakan warga Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel. Salah satu warga, Denny Tidar Jannu, mengatakan konstruksi tol yang berlokasi dekat dengan tempat usahanya berjualan akuarium, menimbulkan debu sepanjang hari.

Bahkan di malam hari, pengerjaan tol yang masih berlanjut menimbulkan kebisingan yang mengganggu warga. Dampak getaran juga dia rasakan, yang sampai membuat salah satu akuariumnya pecah.

“Kalau malem waktu pengeboran itu berisiknya minta ampun. Lalu debunya bikin dagangan saya banyak yang berdebu jadi saya harus ngebersihin dagangan saya, blum lagi kan saya jualan aquarium, dampak dari getaran truk besar-besar lewat itu sempet ada aquarium palud yang pecah,” ungkapnya.

Saking berdebunya, ia juga harus mengeluarkan pompa air untuk menyirami jalan di depan tempat usahanya. Penyiraman ini tidak cukup sekali, karena tidak sampai satu jam setelah disiram jalanan akan kembali berdebu.

Karena cukup merugikan, ia berharap berbagai dampak negatif dari pengerjaan konstruksi tol ini dapat ditanggulangi pihak yang berwenang. “Kami pengusaha kecil di sekelilingnya sangat merasakan dampak buruk,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Tiga Kelas BPJS Dihapus, Menkes Tegaskan Tak Ada Perubahan Tarif

News
| Kamis, 09 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

alt

Buyer Terkesan saat Membuat Ecoprint & Jalan-jalan ke Tamansari

Wisata
| Kamis, 09 Februari 2023, 06:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement