Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Sejumlah warga terdampak tol Jogja-Solo di wilayah Nglarang dan Karangbajang, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Sleman menolak nominal Uang Ganti Rugi (UGR) dari tim appraisal. Mereka menilai harga yang diberikan di bawah harga pasaran.
Salah satu warga Karangbajang, Anang Wiyadi, menjelaskan nominal UGR yang diberikan dari hasil penilaian tim appraisal menurutnya tidak layak dan adil. Hal ini terlihat dari nilai UGR yang didapat warga Tlogoadi lebih kecil daripada Tirtoadi.
Padahal menurutnya harga pasaran normalnya lebih tinggi Tlogoadi. “Yang terjadi justru tinggi Tirtoadi dibanding Tlogoadi. Kenapa bisa terjadi? Apa ada yang salah dengan aprasialnya? padahal timnya sama,” ujarnya, Rabu (18/1/2023).
Ia mencontohkan seperti di wilayah yang cukup pelosok di Tirtoadi mendapatkan ganti rugi Rp4,1 juta dan Rp4,2 juta. “Dan tanah terendah di sana yang notabene tidak ada akses jalan itu Rp3,8 juta. Ini tim apprasialnya gimana?” katanya.
Sedangkan di Karangbajang, di lahannya sendiri yang lokasinya mangku jalan per meter hanya dihargai Rp2,8 juta. Sementara lahan milik bapaknya dihargai Rp2,6 juta sampai Rp3,3 juta. Ia juga membandingkan harga tanah di Karangbajang yang berbatasan dengan Nglarang pada 2016 harganya sudah mencapai Rp3 juta.
BACA JUGA: Konflik di Pantai Widodaren Tak Kunjung Usai, Ini Harapan Dinas Pariwisata Gunungkidul
Menurutnya nilai yang diberikan oleh tim appraisal rata-rata lebih rendah dibanding harga pasar. Ia pun menyebutkan harga yang layak untuk tanah di wilayah Nglarang setidaknya Rp4 juta sampai Rp4,5 juta. Hal ini mempertimbangkan agar warga bisa mencari lahan pengganti tidak jauh dari lahan yang terdampak tol.
“Bagaimana kita bisa pindah secara layak sedangkan dari harganya kita susah mencari tanah lagi. Belum rumah yang kecil, tanah kecil, tapi keluarga banyak. Mereka mau dikemanakan? Kita sangat mendukung program tol, tapi kita ingin mendapat harga yang layak dan adil,” tegasnya.
Warga Nglarang terdampak tol, Supriadi, menyayangkan hasil penilaian tim appraisal, yang menurutnya tidak punya hati nurani. Senada dengan warga Karangbajang, ia menilai nominal UGR yang ditawarkan di bawah harga pasaran.
“Penunjukan tim apprasial tidak tepat. Di Nglarang dapat Rp2,9 juta per meter. Harga noramal 3 juta. Harga mangkujalan cuma dapet Rp3,3 juta. Harga pasaran paling bagus [mangkujalan] Rp3,5 pun bisa. Saya kira harusnya pikirannya aprasial harusnya punya harti Nurani,” ungkapnya.
Kepala Kanwil BPN DIY, Suwito, mengatakan masih akan menunggu 14 hari untuk memberi waktu warga berdiskusi kembali. Sembari menunggu keputusan warga, pihaknya akan mencoba berkomunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat.
“kami akan tetap menunggu selama 14 hari kedepan, perkembangannya seperti apa. Kami setelah ini akan mencoba berkomunikasi dengan lurah, kadus [dukuh], tokoh-tokoh, nanti seperti apa. Kami tunggu rentang waktu yang tersedia,” ujarnya,
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
BGN menemukan yayasan meminta setoran per ompreng kepada mitra MBG. Sudaryono menyebut praktik tersebut bermula dari kepemimpinan sebelumnya.
Kulonprogo mengintegrasikan data pernikahan dan adminduk melalui Kado Nikah serta Bela Akta Pro untuk mempercepat layanan dokumen warga.
Tiga pos Damkar Sleman sudah berdiri, tetapi Pos Damkar Prambanan belum beroperasi karena terkendala SDM dan sarana prasarana.
Veda Ega Pratama menempati posisi kedelapan sesi latihan Moto3 Jepang di Sirkuit Motegi dengan catatan waktu 1 menit 55,597 detik.
Kejagung mengungkap dugaan peran Budi Utomo dalam pengadaan motor listrik MBG. Dari rencana 21.000 unit, hanya 2.117 unit terealisasi.