Advertisement

Uang Ganti Rugi Tol Jogja Solo Beda-Beda, Warga Sleman Protes

Lugas Subarkah
Rabu, 18 Januari 2023 - 18:37 WIB
Bhekti Suryani
Uang Ganti Rugi Tol Jogja Solo Beda-Beda, Warga Sleman Protes Ilustrasi. - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Sejumlah warga terdampak tol Jogja-Solo di wilayah Nglarang dan Karangbajang, Kalurahan Tlogoadi, Kapanewon Mlati, Sleman menolak nominal Uang Ganti Rugi (UGR) dari tim appraisal. Mereka menilai harga yang diberikan di bawah harga pasaran. 

Salah satu warga Karangbajang, Anang Wiyadi, menjelaskan nominal UGR yang diberikan dari hasil penilaian tim appraisal menurutnya tidak layak dan adil. Hal ini terlihat dari nilai UGR yang didapat warga Tlogoadi lebih kecil daripada Tirtoadi.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Padahal menurutnya harga pasaran normalnya lebih tinggi Tlogoadi. “Yang terjadi justru tinggi Tirtoadi dibanding Tlogoadi. Kenapa bisa terjadi? Apa ada yang salah dengan aprasialnya? padahal timnya sama,” ujarnya, Rabu (18/1/2023).

Ia mencontohkan seperti di wilayah yang cukup pelosok di Tirtoadi mendapatkan ganti rugi Rp4,1 juta dan Rp4,2 juta. “Dan tanah terendah di sana yang notabene tidak ada akses jalan itu Rp3,8 juta. Ini tim apprasialnya gimana?” katanya.

Sedangkan di Karangbajang, di lahannya sendiri yang lokasinya mangku jalan per meter hanya dihargai Rp2,8 juta. Sementara lahan milik bapaknya dihargai Rp2,6 juta sampai Rp3,3 juta. Ia juga membandingkan harga tanah di Karangbajang yang berbatasan dengan Nglarang pada 2016 harganya sudah mencapai Rp3 juta.

BACA JUGA: Konflik di Pantai Widodaren Tak Kunjung Usai, Ini Harapan Dinas Pariwisata Gunungkidul

Menurutnya nilai yang diberikan oleh tim appraisal rata-rata lebih rendah dibanding harga pasar. Ia pun menyebutkan harga yang layak untuk tanah di wilayah Nglarang setidaknya Rp4 juta sampai Rp4,5 juta. Hal ini mempertimbangkan agar warga bisa mencari lahan pengganti tidak jauh dari lahan yang terdampak tol.

“Bagaimana kita bisa pindah secara layak sedangkan dari harganya kita susah mencari tanah lagi. Belum rumah yang kecil, tanah kecil, tapi keluarga banyak. Mereka mau dikemanakan? Kita sangat mendukung program tol, tapi kita ingin mendapat harga yang layak dan adil,” tegasnya.

Warga Nglarang terdampak tol, Supriadi, menyayangkan hasil penilaian tim appraisal, yang menurutnya tidak punya hati nurani. Senada dengan warga Karangbajang, ia menilai nominal UGR yang ditawarkan di bawah harga pasaran.

“Penunjukan tim apprasial tidak tepat. Di Nglarang dapat Rp2,9 juta per meter. Harga noramal 3 juta. Harga mangkujalan cuma dapet Rp3,3 juta. Harga pasaran paling bagus [mangkujalan] Rp3,5 pun bisa. Saya kira harusnya pikirannya aprasial harusnya punya harti Nurani,” ungkapnya.

Kepala Kanwil BPN DIY, Suwito, mengatakan masih akan menunggu 14 hari untuk memberi waktu warga berdiskusi kembali. Sembari menunggu keputusan warga, pihaknya akan mencoba berkomunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat.

“kami akan tetap menunggu selama 14 hari kedepan, perkembangannya seperti apa. Kami setelah ini akan mencoba berkomunikasi dengan lurah, kadus [dukuh], tokoh-tokoh, nanti seperti apa. Kami tunggu rentang waktu yang tersedia,” ujarnya,

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jasad Pasutri asal Karanganyar Ditemukan Mengapung di Sungai Bengawan

News
| Senin, 30 Januari 2023, 00:27 WIB

Advertisement

alt

Tanggal Tua tapi Pengin Piknik? Bisa kok

Wisata
| Minggu, 29 Januari 2023, 07:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement