Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan sapi./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN — Jumlah sapi yang terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD) di Sleman terus bertambah. Pada Selasa (14/2/2023), tercatat ada sebanyak 210 kasus, meningkat 100% ketimbang pekan sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono, menjelaskan rincian perkembangan LSD di Sleman meliputi total kasus positif sebanyak 210 kasus, dengan suspek 187 ekor sapi dan konfirmasi laboratorium 23 ekor sapi.
Adapun sebaran kasus ada di 14 kapanewon, dengan yang paling banyak adalah Minggir 46 kasus dan Moyudan 45 kasus. Kapanewon lainnya meliputi Berbah empat kasus, Cangkringan 18 kasus, Godean tiga kasus, Kalasan 10 kasus, Mlati tujuh kasus, Ngaglik tiga kasus, Ngemplak satu kasus, Pakem dua kasus, Seyegan 27 kasus, Sleman 29 kasus dan Turi satu kasus.
Dia mengimbau kepada para peternak agar melakukan gerakan gotong royong membersihkan lingkungan kandang agar vektor pembawa virus LSD seperti nyamuk, lalat dan caplak dapat berkurang sehingga LSD bisa terkendali.
BACA JUGA: 2 Ternak Positif LSD, DKPP Bantul Tunggu Kedatangan Vaksin
Dia juga meminta para peternak agar sesegera mungkin melaporkan kepada Puskeswan setempat jika menemukan gejala pada hewan ternaknya. “Bila ternak bergejala LSD, segera laporkan pada Puskeswan terdekat agar bisa diobati,” ujarnya.
Selain pengobatan, upaya untuk mengendalikan LSD di Sleman juga dilakukan dengan vaksinasi. Hingga saat ini, sudah terdistribusi sebanyak 1.284 dosis vaksin kepada para peternak di Sleman. “Kami juga masih menunggu pasokan vaksin [dari Kementerian pertanian],” katanya.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Nawangwulan, mengungkapkan banyaknya kasus di wilayah Minggir dan Moyudan diperkirakan karena di wilayah itu lebih banyak sapi potong daripada sapi perah.
Hal ini berbeda dengan di wilayah Sleman utara yang lebih banyak sapi perah. Kedua jenis peternakan ini menurutnya berpengaruh pada kebersihan kendang. “Sistem pemeliharaan ternak sangat mempengaruhi, seperti kebersihan kandang, pakan,” ujarnya.
Di peternakan sapi perah kebersihan kendang dan kualitas pakan lebih terjaga karena untuk memenuhi produksi susu. Sementara persebaran LSD erat kaitannya dengan kebersihan kendang, sehingga potensinya lebih besar di lingkungan ternak sapi potong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.
3 pelaku pembacokan pelajar di SMAN 3 Jogja ditangkap di Cilacap. Polisi masih memburu 3 pelaku lain terkait konflik geng.
Dua kakak beradik tewas dalam kecelakaan melibatkan dua truk di Ngawi. Polisi masih selidiki identitas kendaraan.
Polres Bantul perketat patroli malam untuk tekan klitih dan kejahatan jalanan. Orang tua diminta awasi anak sebelum jam 22.00 WIB.