Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Ilustrasi pemeriksaan kesehatan sapi./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN — Jumlah sapi yang terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD) di Sleman terus bertambah. Pada Selasa (14/2/2023), tercatat ada sebanyak 210 kasus, meningkat 100% ketimbang pekan sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono, menjelaskan rincian perkembangan LSD di Sleman meliputi total kasus positif sebanyak 210 kasus, dengan suspek 187 ekor sapi dan konfirmasi laboratorium 23 ekor sapi.
Adapun sebaran kasus ada di 14 kapanewon, dengan yang paling banyak adalah Minggir 46 kasus dan Moyudan 45 kasus. Kapanewon lainnya meliputi Berbah empat kasus, Cangkringan 18 kasus, Godean tiga kasus, Kalasan 10 kasus, Mlati tujuh kasus, Ngaglik tiga kasus, Ngemplak satu kasus, Pakem dua kasus, Seyegan 27 kasus, Sleman 29 kasus dan Turi satu kasus.
Dia mengimbau kepada para peternak agar melakukan gerakan gotong royong membersihkan lingkungan kandang agar vektor pembawa virus LSD seperti nyamuk, lalat dan caplak dapat berkurang sehingga LSD bisa terkendali.
BACA JUGA: 2 Ternak Positif LSD, DKPP Bantul Tunggu Kedatangan Vaksin
Dia juga meminta para peternak agar sesegera mungkin melaporkan kepada Puskeswan setempat jika menemukan gejala pada hewan ternaknya. “Bila ternak bergejala LSD, segera laporkan pada Puskeswan terdekat agar bisa diobati,” ujarnya.
Selain pengobatan, upaya untuk mengendalikan LSD di Sleman juga dilakukan dengan vaksinasi. Hingga saat ini, sudah terdistribusi sebanyak 1.284 dosis vaksin kepada para peternak di Sleman. “Kami juga masih menunggu pasokan vaksin [dari Kementerian pertanian],” katanya.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Nawangwulan, mengungkapkan banyaknya kasus di wilayah Minggir dan Moyudan diperkirakan karena di wilayah itu lebih banyak sapi potong daripada sapi perah.
Hal ini berbeda dengan di wilayah Sleman utara yang lebih banyak sapi perah. Kedua jenis peternakan ini menurutnya berpengaruh pada kebersihan kendang. “Sistem pemeliharaan ternak sangat mempengaruhi, seperti kebersihan kandang, pakan,” ujarnya.
Di peternakan sapi perah kebersihan kendang dan kualitas pakan lebih terjaga karena untuk memenuhi produksi susu. Sementara persebaran LSD erat kaitannya dengan kebersihan kendang, sehingga potensinya lebih besar di lingkungan ternak sapi potong.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
KPK mendalami dugaan aliran uang kepada Bupati Tulungagung nonaktif Gatut Sunu Wibowo lewat pemeriksaan sembilan saksi.
Anwar Ibrahim mendesak Israel segera membebaskan aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan saat membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Polresta Sleman kembali membuka peluang restorative justice dalam kasus Shinta Komala terkait dugaan penggelapan iPhone 14.
Kasus kekerasan seksual santri di Lombok Tengah mengungkap penggunaan aplikasi khusus gay oleh tersangka berinisial YMA.
Transformasi ekonomi DIY dinilai tak bisa dipisahkan dari budaya lokal yang menjadi fondasi pengembangan ekonomi kreatif Yogyakarta.