Jelang Jatuh Tempo, PBB Gunungkidul Baru Terkumpul Rp21,7 Miliar
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Seorang warga di Kalurahan Ngalang, Gedangsari sedang menjemur gabah di pinggir jalan alternatif Gunungkidul-Sleman. Foto diambil Senin (20/2/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Pembangunan jalan alternatif Gunungkidul-Sleman belum tuntas karena belum sepenuhnya tersambung. Meski demikian, keberadaan jalan baru ini mulai berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.
Khusus di wilayah Gunungkidul masih ada ruas Kedungkandang-Kepil dan Kepil-Bobung yang belum dibangun. Namun, di ruas yang sudah jadi seperti Ngalang dengan Bobung sudah banyak usaha warga mulai dari toko kelontong, bangunan hingga warung makan.
Pada sore hari di jalur di Kalurahan Nglegi saat terang juga terdapat keramaian anak-anak muda yang nongkrong di sepanjang jalan. Keramaian ini dimanfaatkan warga membuka usaha jajanan makanan dan minuman.
Panewu Patuk, Martono Imam Santoso mengatakan, jalur alternatif Gunungkidul-Sleman tak hanya mengurai kepadatan arus kendaraan di jalur utama Jogja-Wonosari. Namun, menurut dia, keberadaannya juga menjadi wilayah pertumbuhan ekonomi baru, khususnya di sisi utara.
Baca juga: Polisi: Dosen UII Ubah Rute Tanpa Pemberitahuan
Ia tidak menampik jalur yang ada belum sepenuhnya terhubung karena masih ada dua ruas belum dibangun. Akan tetapi, Martono mengakui geliat ekonomi di jalan baru sudah terlihat ditandai dengan banyaknya usaha-usaha yang dibuka warga setempat.
“Dari Ngalang sampai Bobung sudah banyak yang berjualan. Pas terang, coba saat sore jalan ke Nglegi sangat ramai karena tidak hanya orang nongkrong, tapi juga ada warga yang berjualan,” kata Martono kepada Harianjogja.com, Senin (20/2/2023).
Menurut dia, adanya keramaian tersebut menandakan geliat usaha di kawasan jalan baru mulai tumbuh. Ia pun menyambut baik dampak positif ini karena sebagai upaya masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
“Mudah-mudahan bisa segera tersambung seluruhnya. Sebab, jika jalannya ramai, maka tidak hanya mendukung pengembangan wisata di kawasan Patuk, tapi warga juga bisa merasakan manfaatnya,” kata mantan Panewu Gedangsari ini.
Salah seorang warga Nglegi Riyanto mengatakan, sering menghabiskan waktu sore di jalan baru. Ia tidak menampik jalur yang ada baru sampai Bobung, tapi keberadaannya sudah dirasakan masyarakat.
“Tentunya akses jadi lebih mudah karena jalannya lebar dan bagus,” katanya.
Menurut dia, keramaian yang ada tidak lepas dari anak-anak muda yang seringkali nongkrong di pinggir jalan guna menghabiskan waktu sore. “Pemandangannnya bagus karena kiri dan kanan ada hamparan sawah. Jadi, suasananya menyenangkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp21,7 miliar menjelang jatuh tempo 30 September 2026. Wajib pajak diminta segera membayar agar terhindar denda.
Basarnas mengerahkan seluruh unsur SAR di Kalteng mencari 64 korban KM Virgo Transport 8. Sebanyak 179 orang telah ditemukan.
Jadwal SIM Keliling Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia di sejumlah lokasi. Cek jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan SIM C.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 29 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jam keberangkatan tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
Pemilih lintas domisili diminta diatur dalam revisi UU Pemilu, termasuk soal representasi politik bagi warga yang mencoblos jauh dari daerah asal.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengingatkan 87 calon lurah untuk menghindari politik uang menjelang Pilur 2026.