Krisis Air di Rongkop, Warga Kemesu Beli Air Rp120.000 per Tangki
Kemarau memicu krisis air di Padukuhan Kemesu, Rongkop. Warga membeli air Rp120.000 per tangki sambil menunggu pasokan PDAM membaik.
Ilustrasi./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul memberikan tip untuk mencegah sapi terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD) atau dikenal dengan penyakit lato-lato.
Cara paling ampuh dengan menjaga kebersihan, maka lalat, nyamuk hingga caplak penyebab penyebaran penyakit ini hilang dari kadang.
Meski demikian, Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti menngakui hal itu sulit direalisasikan karena proses pemeliharaan masuk kategori peternakan rakyat.
Hal ini jauh berbeda dengan peternakan yang masuk kelas indsutri sudah ada petugas khusus yang membersihkan area kandang. Akan tetapi, sambung dia, tak lantas penanggulangan LSD tak bisa dilakukan.
BACA JUGA: Tiga Ekor Sapi di Gunungkidul Mati Karena LSD
Menurut Retno masih ada cara lain dengan mengusir serangga seperti nyamuk, lalat dan caplak yang menjadi penyebab penyakit LSD. Ia tidak menampik, masayarakat sudah terbiasa mengusirnya dengan membuat asap di sekitar kadang.
Hanya saja, dia mengakui cara ini bisa berbahaya karena malah dapat membakar kandang apabila tidak dilakukan dengan benar. “Jangan membakar sampah dengan tujuan membuat asap guna mengusir hewan penyebab LSD. Nanti kalau salah atau lupa mematikan malah bisa membakar kandang,” katanya.
Retno menambahkan, untuk mengusir lalat, caplak atau nyambuk dapat dilakukan dengan penyemprotan insektisida sesuai takaran. “Bisa disemprot dengan pestisida, tapi dosisnya tidak boleh berlebihan,” kata Retno, Rabu (1/3/2023).
Selain cara mandiri, pencegahan juga dilakukan secara massal. Hingga saat ini, dinas peternakan dan kesehatan masih menunggu pengiriman vaksin untuk penanggulangan LSD. “Sudah kami ajukan, tapi vaksinnya belum datang,” katanya.
Disinggung soal perkembangan kasus, hingga sekarang sudah ditemukan 220 sapi yang menderita penyakit lato-lato. Adapun penyebarannya sudah ada 14 kapanewon di Gunungkidul. “Ada yang mati tiga ekor. Untuk kapanewon yang masih belum ada kasus berada di Paliyan, Saptosari, Tanjungsari dan Tepus,” ungkap Retno.
Sebelumnya diberitakan, penyakit lato-lato sudah memberikan dampak terhadap harga jual sapi di pasaran. Salah seorang pedagang sapi, Eko Setiyawan mengatakan, penyakit lato-lato sudah diketemukan di Pasar Hewan Munggi. Kondisi ini mulai memberikan dampak terhadap harga jual di pasaran.
Menurut dia, sepinya aktivitas di pasar membuat harga jual sapi ikut anjlok. Eko mencontohkan, harga sapi di Januari 2023 di kisaran Rp12 juta, sekarang pasarannya di bawah Rp10 juta per ekor. “Memang turun dan kisarannya bisa mencapai Rp3 juta per ekor,” ungkapnya.
Ia berharap penyebaran penyakit lato-lato bisa segera hilang agar kondisi kembali normal seperti sedia kala. “Mudah-mudahan tidak semakin meluas dan kondisi di pasar hewan dapat kembali normal,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau memicu krisis air di Padukuhan Kemesu, Rongkop. Warga membeli air Rp120.000 per tangki sambil menunggu pasokan PDAM membaik.
KPK mengusulkan kampanye akbar ditinjau ulang dan mendorong kampanye digital untuk menekan biaya politik serta mencegah korupsi.
Dispetaru Bantul menyusun SPPR 2026-2030 untuk menyelaraskan program pembangunan lintas OPD dengan RTRW agar pembangunan lebih terarah.
Polisi memeriksa nakhoda dan sembilan ABK KM Nurul Salsa untuk mengungkap penyebab kapal tenggelam. Sebanyak 20 penumpang masih dicari.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 19 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Tarif tetap Rp8.000 dengan 12 perjalanan setiap hari.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 19 Juli 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 dengan 15 perjalanan setiap hari.