Kali Oya di Semin Mengering Akibat Kemarau Panjang, Warga Hanya Temukan Hamparan Pasir
Kemarau panjang membuat sejumlah titik Kali Oya di Semin Gunungkidul mengering. Debit air menyusut drastis hingga hanya menyisakan pasir dan batuan.
Pemeriksaan PMK di tempat penampungan ternak Dagan, Murtigading, Sanden, Rabu (18/5/2022)./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai penyebaran penyakit cacar sapi atau Lumpy Skin Disesase (LSD) pada sapi peliharaan.
BACA JUGA: Sapi Positif LSD di Sleman Bertambah
Sebab, hingga saat ini total ada 178 kasus dan tiga ekor sapi dinyatakan mati karena penyakit ini.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan, penyakit cacar sapi masih menjadi ancaman karena potensi penambahan kasus masih sangat mungkin terjadi. Terlebih lagi, penyakit ini juga bisa menular ke sesama sapi.
Oleh karena itu, ia meminta kepada para peternak untuk mewaspadai penyebaran LSD terhadap sapi peliharaan. Menurut dia, hingga sekarang sudah ada 178 kasus sapi yang terjangkit.
“Sudah ada laporan tiga sapi mati karena penyakit ini,” kata Wibawanti kepada wartawan, Senin (27/2/2023).
Ia menjelaskan, kasus cacar sapi ini sudah ditemukan di 13 kapanewon di Gunungkidul. Adapun kapanewon yang masih nihil kasus ada lima meliputi Saptosari, Tanjungsari, Tepus, Playen dan Paliyan.
“Penyebarannya hampir di seluruh wilayah, karena dari 18 kapanewon kasusnya sudah diketemukan di 13 kapanewon,” katanya.
Menurutnya, upaya penanggulangan terus dilakukan agar jumlah kasus tidak terus bertambah. Meski demikian, ia mengingatkan didalam pencegahan juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat sehingga hasilnya dapat dimaksimalkan.
“Partisipasi warga ini sangat penting agar laju penyebaran bisa ditekan,” katanya.
Salah satu upaya pencegahan yang dilakukan dinas peternakan dan kesehatan hewan bekerjasama dengan dinas kesehatan. Kerja sama dilaksanakan untuk memastikan keamanan di pasar hewan.
“Ada petugas di pasar hewan. Kalau ada ternak yang sakit akan diobati dan diminta untuk dibawa pulang terlebih dahulu,” imbuh Wibawanti.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Retno Widiastuti menjelaskan, tanda klinis dari penyakit cacar sapi terlihat di bagian kulit dengan munculnya benjolan-benjolan.
“Biasanya ditemukan leher, kaki, kepala hingga ekor,” katanya.
Menurutnya, untuk pencegahan sudah dilakukan dengan pengobatan terhadap sapi yang terjangkit. Selain itu, juga ada upaya mengajukan bantuan vaksin LSD ke Pemerintah Pusat.
“Penyakit ini disebabkan oleh gigitan nyamuk, lalat dan caplak. Jadi, untuk antisipasinya para peternak diminta menjaga kebersihan di lingkungan kandang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau panjang membuat sejumlah titik Kali Oya di Semin Gunungkidul mengering. Debit air menyusut drastis hingga hanya menyisakan pasir dan batuan.
Lima tokoh disebut masuk bursa Ketum PBNU 2026-2031. Simak profil, pengalaman, dan gagasan para kandidat dalam Muktamar ke-35 NU.
YOT VI di GOR UNY diikuti 5.200 karateka. Ajang ini menjadi wadah pembinaan atlet usia dini hingga kompetisi tingkat internasional.
Tiga karya budaya Sleman resmi ditetapkan sebagai WBTb nasional 2025, yakni Reog Keprajuritan, Sruntul, dan Bebek Bacem Nglengis.
Gus Rozin menghormati mekanisme AHWA dalam pemilihan Ketum PBNU dan mengajak warga NU menjaga persatuan setelah keputusan Muktamar ke-35.
Komisi III DPR RI merumuskan 13 jenis tindak pidana yang menjadi sasaran RUU Perampasan Aset. Simak daftar lengkapnya.