Perbankan di DIY Tetap Solid, Kredit Malah Turun di Awal 2026
Perbankan DIY tetap stabil Maret 2026. Aset dan DPK tumbuh, tapi kredit justru turun 1,48%.
Pedagang baju bekas impor alias awul-awul di XT Square, Jogja, Jumat (17/3/2023)./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, JOGJA—Membeli barang-barang impor bekas bekas khususnya baju alias awul-awul atau yang disebut ngethrift, dewasa ini sudah menjadi tren di kalangan anak muda. Selain dijadikan event, ngethrift juga dilakukan oleh wisatawan yang berkunjung ke Jogja.
Salah satu karyawan toko baju bekas impor di XT Square, Alpen, mengatakan baju-baju bekas didatangkan dari berbagai negara. Dia menyebut Amerika, Yunani, Rusia, Korea, Jepang dan negara lainnya. Barang masuk ke Sumatera lalu di bawa ke Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Baju bekas tersebut dibeli hitungannya per bal atau 100 kg. Soal harga belinya dia mengaku tidak tahu. Menurutnya yang tahu para pengusaha baju bekas. Setelah kulakan baju-baju tersebut dipilah, dicuci, diberi pengharum, dan disetrika.
"Dari Senen gimana prosesnya, bos yang tahu. Kalau dari Medan lewat Bea Cukai, kami di sini hanya karyawan. Harga jualnya ada yang Rp15.000, Rp25.000, bahkan ada yang Rp500.000 ke atas," ucapnya, Jumat (17/3/2023).
Baca juga: Sederet Tempat Wisata Gratis Jogja yang Cocok untuk Buka Puasa
Menurutnya kebanyakan pelanggan baju bekas adalah mahasiswa. Ada juga wisatawan yang kebetulan lewat di sekitaran XT Square mampir dan belanja baju bekas. "Banyak juga wisatawan yang beli. Sejak buka antara 2021 atau 2022 sekitar Rp2-3 juta per hari [penjualan]. Sekarang agak turun mungkin karena ada resesi global," ucapnya.
Dia menjelaskan meski bekas, tapi barang yang dijual bisa dipastikan bersih dan wangi. Tidak bau dan tidak nampak kumuh. "Kami barang masuk harus bersih, kalau enggak ya enggak boleh masuk ke sini [XT Square]," katanya.
Karyawan baju bekas impor lain di XT Square, Putra mengaku jualannya cukup laris. Harga jualnya sekitar Rp25.000 hingga Rp50.000 rata-rata. "Banyak juga wisatawan, bus-bus datang ke sekitar sini langsung mampir ke sini," paparnya.
Pedagang baju produksi dalam negeri, Nuryani mengatakan setiap ada pameran baju impor bekas jualannya jadi sepi. Tren ngethrift cukup berdampak karena anak muda sekarang lebih suka beli baju bekas impor.
"Sekarang pada lebih suka beli bekas daripada produk Indonesia. Kalau baju bekas kan gak semua bisa dijual, ada yang sobek dan lainnya jadi sampah."
BACA JUGA: Pakaian Awul-Awul Rp20 Miliar Dimusnahkan
Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core), Piter Abdullah mengatakan impor baju bekas adalah isu lama. Sejak dulu sudah banyak beredar baju bekas impor. Baju bekas impor jadi solusi bagi masyarakat bawah yang membutuhkan sandang murah.
"Tetapi keberadaan baju bekas impor ini berdampak negatif terhadap industri tekstil kita. Menggerus pasar yang pada ujungnya industri tekstil dan pakaian jadi tidak bisa maksimal," jelasnya.
Selain itu penyerapan tenaga kerja juga tidak maksimal. Kontribusi industri tekstil terhadap pertumbuhan ekonomi juga menjadi terbatas. Impor baju bekas, kata Piter, juga membuat citra Indonesia di mata internasional menjadi tidak bagus.
"Saya kira kebijakan pelarangan itu sudah tepat. Tetapi tidak cukup. Kalau hanya dilarang tanpa ada solusi tersedianya sandang murah bagi masyarakat bawah fenomena impor baju bekas akan terus berlanjut," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Perbankan DIY tetap stabil Maret 2026. Aset dan DPK tumbuh, tapi kredit justru turun 1,48%.
Sebanyak 1.021 warga Sleman gagal donor darah awal 2026, mayoritas karena Hb rendah. PMI pastikan stok aman.
Keributan misa GMS Bantul dipicu izin belum lengkap. Polisi mediasi kedua pihak, situasi kini kondusif dan tetap jaga toleransi.
Tawuran remaja di Magelang dipicu tantangan Instagram. Dua pelajar luka parah, lima pelaku diamankan polisi.
Polemik GMS Bantul berujung kesepakatan. Ibadah tetap boleh, namun wajib lengkapi izin. Polisi siap tindak pelaku intimidasi.
Survei Abacus Data: 80% warga Kanada nilai AS di jalur salah. Faktor Trump dan kondisi global jadi pemicu kekhawatiran.