Advertisement

Kisah Pensiunan Satpol PP Lestarikan Pakaian Adat Jogja dengan Menyewakan Busana

Anisatul Umah
Sabtu, 25 Maret 2023 - 11:27 WIB
Sunartono
Kisah Pensiunan Satpol PP Lestarikan Pakaian Adat Jogja dengan Menyewakan Busana Kegiatan di Pokoke Blangkon Malioboro anggota sedang menata baju. - Harian Jogja/Anisatul Ummah.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah tren busana yang berkembang cepat dewasa ini, pakaian adat Jawa Jogja masih tetap relevan dipakai dari masa ke masa. Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro yang menawarkan jasa sewa pakaian adat, rias, dan fotografi laris manis diantri pelanggan. 

Lokasi Pokoke Blangkon Malioboro cukup mudah dicari. Di Jalan Malioboro sebelum Benteng Vredeburg, ada tulisan kawasan wisata Pajeksan. Masuk saja ke jalan tersebut sekitar 50 meter, ketemu gang pertama ambil kanan. Lokasinya memang di dalam gang, tapi pelanggannya mencapai ratusan setiap harinya.

Advertisement

Tidak ada ruang tunggu ber-AC, semuanya sederhana, pelanggan bisa menunggu di kursi-kursi depan tempat penyewaan. Ada ratusan pakaian adat Jawa Jogjakarta yang siap disewa. Baju-baju tertata dan blangkon didisplay agar mudah dipilih.

BACA JUGA : Alasan Warga Jogja Harus Berpakaian Adat saat Kamis

Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 WIB, buku tamu di Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro di Pajeksan, Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja sudah sampai nomor 51. Pertanda jasa sewa pakaian adat, rias, dan fotografi sudah dipesan ratusan orang,  karena dalam satu daftar presensi bisa dua hingga belasan orang yang akan menggunakan pakaian.

Di hari libur buku tamu Pokoke Blangkon Malioboro mencapai nomor 101 daftar prsensi. Ada yang sewa untuk dua orang, hingga 24 orang. Jika dipukul rata dua orang saja sudah 200 lebih penyewa pakaian adat Jawa Jogja di Pokoke Blangkon Malioboro dalam sehari.

Sewa pakaian adat Jawa Jogja tidak hanya dari masyarakat sekitar Jogja, banyak juga yang berasal dari luar kota, pulau, hingga bule. Alisa dari Boyolali datang bersama tiga temannya ke Pajeksan sengaja untuk sewa baju adat.

"Saya datang bertiga dengan teman. Memang lagi liburan ke Jogja. Tahu soal penyewaan baju Pokoke Blangkon ini dari tiktok," ucapnya, Sabtu (18/3/2023).

Tamu lain yang baru saja mengisi buku tamu Puji dari Jakarta. Dia datang bertiga bersama keluarganya dan sudah booking jauh-jauh hari. Dia juga tahu info tentang sewa pakaian adat ini dari tiktok.

"Lagi liburan ke Jogja sama keluarga. Aslinya saya Jakarta. Pas liburan yaudah sekalian aja ke sini. Sama sih tahunya juga dari tiktok."

BACA JUGA : Sepi Pembeli, Pembuat Kostum Pentas Seni di Kulonprogo 

Usai dirias dan memakai pakaian adat Jawa Jogja, tamu-tamu ini akan di antar menggunakan becak ke kawasan Malioboro. Di sana sudah ada fotografer yang menunggu dan melayani pelanggan. Selepas berfoto, file langsung dikirim dan pelanggan kembali diantarkan ke tempat rias untuk berganti pakaian lagi.

Pensiunan

Tekattono, 64 adalah sosok dibalik terbentuknya Koperasi Pokoke Blangkon Malioboro. Dia merupakan pensiunan Satpol PP Kota Jogja. Kepada Harian Jogja, pria yang biasa disapa Pak T antusias bercerita sejarah berdirinya koperasi ini.

Sebelum penataan kawasan pedestrian Malioboro dia punya lapak di pintu gerbang Kantor Gubernur DIY sisi utara. Berjualan ubarampe pakaian adat Jawa. Setiap ada yang beli dia beri bonus rias. Misalnya beli blangkon dia akan merias lengkap dengan baju hingga slop gratis.

Kadang ada pelanggan yang selfie, ada yang minta difotokan. Makin lama karena pelanggan banyak, dia kerepotan untuk memfoto. Setelah merasa kerepotan dia mengajak fotografer di kawasan Malioboro untuk kerjasama, sekitar 2018 lalu.  

"Akhirnya pada 12 Juli 2022 pas hari ulang tahun koperasi kami ke notaris membentuk koperasi resmi. Kami dibantu Bappeda, dan kampus-kampus. Khususnya dari ISI dan kampus lain UNY, UPN, UII," jelasnya.

Menurutanya jasa yang ditawarkan Pokoke Blangkon ke depan akan terus dikembangkan. Misalnya, lokasi foto tidak hanya di Malioboro, tapi ke tempat-tempat perjuangan seperti Ki Hajar Dewantara. Pelanggan akan diajak kesana menggunakan pakaian di era tersebut. Sehingga ada nilai yang dikemas dalam sejarah.

Contoh lainnya di Benteng Vredeburg, di sana bernuansa Portugis, Belanda jadi pakaiannya akan disesuaikan dengan lokasi tersebut untuk mengingat sejarahnya.

"Koperasi ini nantinya akan didaftarkan hak kekayaan intelektual [HKI], baru diurus. Dari bidang fotografi, busana, mau tak kembangkan lagi misalnya produk kaos yang berkaitan dengan budaya. Semua akan bercirikan budaya," ungkapnya.

BACA JUGA : Sembari Berbisnis, Perempuan Ini Kenalkan Beragam Profesi

Saat ini anggota dari koperasi mencapai 46 orang. Terdiri dari perias, tukang becak pengantar pelanggan, dan juga fotografer. Blangkon yang menjadi nama koperasi berasal dari kata bakal dilakoni. Termasuk mau berfoto dengan anggun berkebaya, ada proses yang harus dijalani.

Bagi Pak T siapa yang memakai baju adat Jawa maka akan mengikuti pakaiannya. Artinya orang yang mungkin biasa jalan ugal-ugalan saat memakai kebaya maka akan menyesuaikan cara jalannya, menjadi lebih pelan dan anggun.

"Pakaian Jawa kan enggak seksi, tapi anggun, kaya lagune Waljinah lakune koyo macan luwe. Pelan-pelan, enggak ada orang pakai baju busana yak yak an [tidak pakai aturan]."

Dinihari

Pokoke Blangkon Malioboro tidak hanya melayani pelanggan di siang hari. Namun bisa menyesuaikan permintaan pelanggan di jam berapapun. Jika ada yang mau pre wedding dini hari di Malioboro maka akan dilayani dengan booking terlebih dahulu.

Misalnya pukul 03.00 WIB saat Malioboro sedang sepi atau pukul 08.00 WIB di Taman Sari. Saking paginya ke Taman Sari, kadang Pokoke Blangkon Malioboro harus menghubungi petugas kebersihan agar bisa dibuka pagi-pagi. Selain itu, ada juga pelanggan yang minta foto di Candi Sambisari, Candi Ijo, Gunung Merapi, dan Pantai.

"Taman Sari bukanya jam 08.00 WIB, ya menghubungi tukang sapu mruput [pagi-pagi buta]. Di Merapi sudah sering jam 02.00 pagi sudah stand by di hotel. Ada juga yang minta di Kulonprogo, mereka nanya spot mana yang paling bagus."

BACA JUGA : Simak, Ini Jadwal Penggunaan Pakaian Tradisional di DIY 

Pelanggan bisa memesan terlebih dahulu melalui sosial media dengan menghubungi nomor yang tertera, atau bisa juga datang langsung. Namun di hari-hari libur pelanggan mesti bersabar karena antriannya panjang, bahkan sampai ada beberapa yang dibatalkan.

"Kalau enggak mampu kami tolak, kalau mampu kami akan atur jadwal. Kadang-kadang wisatawan waktunya terbatas. Saat antrian banyak bisa menunggu paling lama tiga jam. Sehingga jika waktu tidak memungkinkan maka akan dibatalkan," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Mendaku Gantikan Twitter, Elaelo Kini Justru Kena Suspend

News
| Senin, 17 Juni 2024, 21:07 WIB

Advertisement

alt

Mantap, Hidupkan Laguna Pengklik, Pemuda di Srigading Bikin Wisata Kano

Wisata
| Minggu, 16 Juni 2024, 20:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement