Advertisement

Promo Sumpah Pemuda Harjo

Kisah Tukang Tambal Ban Panggilan, Terima Order dari Remaja Klitih saat Dinihari

Sirojul Khafid
Minggu, 26 Maret 2023 - 10:27 WIB
Sunartono
Kisah Tukang Tambal Ban Panggilan, Terima Order dari Remaja Klitih saat Dinihari Muhamad Samani saat sedang menambal ban salah satu konsumennya. Harian Jogja - Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Banyak orang memanggilnya cowok panggilan. Apabila waktu, tempat, dan tarif cocok, Muhamad Sam’ani akan meluncur ke mana pun panggilan itu datang. Tapi bukan panggilan berbau negatf, melainkan berkaitan dengan segala urusan ban motor dan mobil akan dia selesaikan.

Pada suatu dinihari, panggilan telepon yang masuk pukul 03.00 WIB membangunkan Muhamad Sam’ani dari tidurnya. Dari ujung telepon terdengar sayup-sayup suara perempuan meminta bantuan untuk menambal ban motornya yang bocor. Memang Sam, panggilan akrabnya, membuka jasa tambah ban panggilan. Namun orderan jam tiga pagi, baru bangun tidur, ditambah jarak orderan yang hampir satu jam perjalanan, membuatnya nyaris tidak mau meladeni.

Advertisement

Namun dengan niat membantu konsumen yang mungkin sedang kesusahan, membuat Sam menembus dinginnya malam itu. Sayangnya konsumen tidak kooperatif, tidak memberi titik lokasi melalui Google Maps, atau memotret lokasi sekitar. Hanya ada satu ancer-ancer, dekat dengan Bank BRI. Sam sempat ragu, dia takut tidak menemukan keberadaan si perempuan, terlebih sinyal di daerah tujuan yang berada di Minggir, Sleman, agak susah.

BACA JUGA : Viral Tambal Ban Bocor Bertarif Rp600.000, Pihak Bengkel 

Sesampainya di lokasi perjanjian, Sam memberi tahu apabila dia sudah sampai. Centang dua biru sudah terlihat, pesannya sudah terbaca. Namun setelah Sam menelepon, tidak bisa tersambung. Chat berikutnya hanya berakhir centang satu. Kontak Sam sudah diblok orang yang sebelumnya minta tolong.

“Awalnya niatnya bantu tapi malah jadi kesel. Tapi dua hari kemudian malah rame orderannya, mungkin diganti sama Tuhan, udah jauh, capek, kesel, gantinya itu,” kata Sam yang saat ini berusia 35 tahun.

Kejadian sejenis ini sudah sekitar tiga kali. Membangun usaha tambal ban panggilan sejak 2018 tentu banyak cerita yang Sam alami. Kala itu, Sam masih bekerja bersama saudaranya. Barulah pada 2020, Sam memutuskan membangun usaha sendiri. Pekerjaan seakan 24 jam, sesuai permintaan konsumen. Apalagi kala itu dia masih sendiri, belum memiliki karyawan.

Awal-awal, hanya ada sekitar dua orderan dalam sepekan. Semakin dikenal, orderan naik dengan yang paling banyak lima panggilan sehari. Bantuan dari pelanggan berupa membuatkan media sosial, desain logo dan poster, sampai teknik promosi sederhana di grup media sosial membuat orderan Sam dari hari ke hari semakin ramai.

Setahun berjalan, dia merekrut karyawan hingga empat orang. “Tapi enggak semuanya cocok, ada karyawan yang bales chat konsumennya lama, karena masih muda kadang nge-game dulu baru bales chat, akhirnya konsumen kecewa. Saya keluarin semua,” kata Sam, Kamis (16/3/2023).

BACA JUGA : Tambal Ban Unik, Semua Peralatan Serba Pink

Seiring berjalannya waktu, Sam menemukan karyawan yang punya dedikasi yang bagus. Bersama Sam, sekarang ada lima orang yang terbagi dalam dua sift. Siang sampai sore ada dua orang, dan malam sampai dini hari tiga orang. Semua masalah per-ban-an serta ganti oli dan aki bisa mereka selesaikan. Untuk tambal ban, jasanya Rp15.000, ditambah ongkos panggilan di lokasi dalam ringroad Rp15.000. Jarak yang lebih jauh ada tambahan biaya lagi. Sam juga menambal ban mobil.   

Dalam sehari, order terbanyak pernah mencapai 33 tambalan. Waktu paling banyak pukul 20.00 WIB ke atas, terutama saat akhir pekan, saat banyak orang bepergian. Jam-jam itu juga sudah banyak bengkel yang tutup. Banyak testimoni dari konsumen yang merasa terbantu dengan jasa tambal ban panggilan ini. Apabila bocor di rumah, maka tidak perlu mendorong ke bengkel. Begitu juga misal bocor di tengah jalan dan susah mendapat bengkel tambal ban, Sam dan karyawannya yang akan menemui.

“Ini bener-bener dibutuhin buat orang di Jogja,” kata Sam, menirukan salah satu testimoni konsumennya.

Jarak terjauh yang pernah Sam lalui dalam menambal ban berupa perjalanan dari Jalan Kaliurang Kilometer 10 menuju daerah Temon yang lebih jauh dari Yogyakarta International Airport. Banyaknya konsumen yang kaget saat Sam benar-benar datang entah hujan atau jauh, membuat banyak konsumen justru menjadi teman.

Klitih

Teman yang cara bertemunya bisa pagi, siang, sore, malam, bahkan dini hari. Sam tidak jarang membantu pengendara yang bannya bermasalah di waktu-waktu yang random. Pernah suatu kali, saat hendak menghampiri orderan di Sedayu, Sleman, ada orderan lain masuk dari daerah Rumah Sakit Wirosaban sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Sebenarnya Sam ingin menyelesaikan orderan di Sedayu dulu, baru ke Wirosaban. Namun orderan dari Wirosaban meminta datang ke sana dulu karena mendesak.

BACA JUGA : Ini Wajah dan Peran Para Pelaku Klitih Titik Nol Jogja

Sam luluh juga, kasihan. Namun dia sarankan ganti ban dalam agar lebih cepat prosesnya. Sehingga orderan di Sedayu tidak menunggu terlalu lama. Sesampainya di Wirosaban, ada tiga pemuda dengan dua motor yang sudah menunggu. Motornya berjenis Scoopy dan Vario.

Sembari menggarap ban yang bermasalah, salah satu pemuda bertanya pada Sam, “Mas njenengan tiap malem keluar terus enggak takut po? Sama anak muda yang suka iseng [klitih]?”

Sam paham, yang pemuda maksud itu adalah klitih. Sam tentu takut, tapi memang sudah jadi resiko pekerjaan. Pemuda itu kemudian meyakinkan Sam apabila klitih tidak akan mengincar pekerja seperti Sam. Klitih hanya mengincar anak laki-laki yang masih sekolah atau kuliah. Bukan pekerja, bukan juga perempuan.

“Loh kok mas tahu?” tanya Sam.

“Maaf ya mas, tapi jangan takut, saya juga nglitih,” jawabnya.

BACA JUGA : Cegah Klitih saat Ramadan, Kapolda DIY: Kami Patroli 

Memang benar, Sam tidak mendapat ancaman atau perlakuan kasar dari tiga pemuda yang sedang nglitih itu. Dia justru bercerita sudah akan keluar dari kegiatan klitih, karena sudah mau lulus SMA. Usia lulus SMA sudah 18 tahun, dan sudah bukan anak-anak lagi. Sehingga berpotensi lebih berat hukumannya misal tertangkap polisi. Para pemuda klitih pergi setelah membayar jasa mengganti ban dalam. Sam melanjutkan pekerjaannya dengan meluncur ke Sedayu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Komitmen Tertib Administrasi, 4 MPC PP di DIY Diberi SK Kepengurusan

News
| Senin, 02 Oktober 2023, 22:17 WIB

Advertisement

alt

Danau Toba Dikartu Kuning UNESCO, Sandiaga: Ini Jadi Alarm

Wisata
| Senin, 02 Oktober 2023, 21:50 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement