Advertisement

Masuk Kemarau, BPBD Bantul: Belum Ada Warga Minta Dropping Air

Ujang Hasanudin
Senin, 22 Mei 2023 - 14:17 WIB
Arief Junianto
Masuk Kemarau, BPBD Bantul: Belum Ada Warga Minta Dropping Air Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul menyatakan sampai saat ini belum ada warga yang mengajukan dropping atau suplai air bersih meski sudah memasuki musim kemarau. Meski demikian BPBD tetap mempersiapkan untuk menghadapi bencana kekeringan.

“Sampai saat ini belum ada laporan warga yang mengajukan permintaan dropping air bersih ke kami,” Kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Agus Yuli Herwanta saat dihubungi, Senin (22/5/2023).

Advertisement

Agus mengatakan berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geoisika (BMKG) DIY bahwa kemarau pada tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena itu persiapan menghadapi kekeringan perlu dilakukan, salah satunya kekurangan air bersih.

Ia mengaku sudah menyiapkan anggaran untuk suplai air bersih ke lokasi-lokasi yang rawan kekeringan. Anggaran suplai air bersih sekitar Rp22 juta atau setara dengan 76 tangki air yang setiap tangkinya kapasitas 5.000 liter. “Kami juga akan membuat SK Siaga Darurat Kekeringan apabila dibutuhkan dengan dasar prakiraan cuaca atau pers realease dari BMKG dan berdasarkan kondisi di lapangan,” ujarnya.

BACA JUGA: Waspada! Tahun Ini Ada Puluhan Kecamatan DIY Rawan Kekeringan

Adapun sejumlah wilayah yang rawan kekeringan hampir sama dengan tahun lalu. Wilayah kekeringan paling tinggi atau zona merah kekeringan yang sudah langganan setiap tahun ada di kawasan perbukitan seperti kapanewon Dlingo, Piyungan, dan Pundong.

Kemudian potensi kekeringan sedang atau zona kuning ada di wilayah kapanewon Imogiri, Pleret, dan sebagian kapanewon Pajangan, sebagian kapanewon Kretek, dan sebagian kapanewon Sedayu.“Sementara untuk yang lainnya aman dari bencana kekeringan atau masuk zona hijau kekeringan,” ucapnya.

Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Mlati BMKG DIY, Etik Setiyaningrum mengatakan kemarau 2023 akan lebih panas dan kering daripada tiga tahun sebelumnya karena curah hujan lebih sedikit. “Tiga tahun sebelumnya ada siklus La Nina. Musim kemarau saat itu curah hujan lebih banyak. Sekarang situasinya normal, tidak ada La Nina lagi, jadi akan lebih kering,” katanya.

Etik menyebut musim kemarau sudah terjadi sejak April lalu akhir musim kemarau akan terjadi pada September mendatang. Karena itu kewaspadaan krisis air perlu ditingkatkan pada kemarau ini karena lebih kering dengan curah hujan yang sedikit.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

KPK Gulirkan Pemberantasan Korupsi Lewat Pedesaan

News
| Jum'at, 19 Juli 2024, 08:37 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement