Selomartani Kembangkan Pertanian Cerdas IoT, Jadi Percontohan Sleman
Selomartani mulai mengembangkan pertanian cerdas berbasis IoT melalui CSR AAMAI 2026 untuk memperkuat ketahanan pangan dan produktivitas petani.
Warga menunjukkan lubang besar berdiameter sekitar 5 meter dengan kedalaman 10 meter lebih muncul di halaman rumah warga Klepu, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo, Jumat (21/7/2023). - Harian Jogja/Anderas Yuda Pramono
Harianjogja.com, KULONPROGO—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kulonprogo menggandeng ahli dari Universitas Gajah Mada (UGM) untuk mencari sebab munculnya lubang besar di halaman rumah Karyo Dimedjo, Padukuhan Popohan, Banjararum, Kalibawang, Kulonprogo.
Saat ini, Tim Geologi UGM masih melakukan identifikasi tanah di Padukuhan Popohan. Pekan depan hasil identifikasi ditargetkan selesai.
Koordinator Tim Geologi UGM, Wahyu Wilopo, mengatakan munculnya lubang di Padukuhan Popohan merupakan kejadian tidak wajar. Hal tersebut menurut dia karena Kulonprogo memiliki karakteristik tanah yang berbeda dengan Gunungkidul. Menurutnya, tanah di Kulonprogo seharusnya tidak mudah larut.
“Kejadian di Padukuhan Popohan itu menarik karena seharusnya batuan di atas tidak mudah larut. Orang geologi bilang breksi. Tapi runtuh. Berarti kan ada ruang di bawahnya. Ini tidak wajar,” kata Wahyu dihubungi, Jumat (11/8/2023).
Baca juga: Jokowi Sebut Pemerintah Pertimbangkan Hapus Zonasi dalam PPDB
Wahyu menambahkan terdapat dua dugaan mengenai munculnya lubang tersebut. Pertama kendati permukaan tanah merupakan breksi namun di lapisan bagian bawah terdapat batuan gamping yang memiliki karakteristik mudah larut. Ketika larut maka batuan di atasnya runtuh. Kedua adalah adanya struktur besar yang menyebabkan batuan tersebut jointed dan retak-retak. Setelah itu terjadi proses pelapukan dan pengikisan yang berakibat pada munculnya lubang.
“Itu bisa dimungkinkan juga. Soalnya kalau melihat dinding lubang itu kan retak-retak. Kalau kami lihat, lubang itu turun dan miring memotong dan sejajar dengan kontur kemiringan lereng,” katanya.
Wahyu menjelaskan hasil analisis dari survei masih belum selesai. Kata dia, survei di Kulonprogo tersebut telah melibatkan teknologi geo-radar.
“Kami juga melakukan pemetaan permukaan. Di bagian lain kami juga menemukan tanah ambles meski kecil saja. Tanahnya itu semacam mendak. Nah, kalau orang mau ke Popohan kan akan melewati saluran irigasi Kalibawang. Di sekitar sana juga ada jalan ambles sepanjang 50 meter,” ucapnya.
Ia mengatakan saat ini masih ada tim geologi UGM yang melakukan identifikasi atau survei di Padukuhan Popohan Kulonprogo. “Survei kami tidak hanya di sekitar lubang. Lebih luas. Pokoknya di daerah situ [Padukuhan Popohan]. Target kami untuk hasil survei akan selesai pekan ketiga bulan Agustus 2023,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selomartani mulai mengembangkan pertanian cerdas berbasis IoT melalui CSR AAMAI 2026 untuk memperkuat ketahanan pangan dan produktivitas petani.
Harga tiket pesawat ke Jepang diprediksi lebih murah mulai September 2026. ANA dan JAL turunkan biaya tambahan bahan bakar jadi Rp3,69 juta, lebih hemat Rp1,4 j
Sekolah mahal belum tentu menjamin kesuksesan anak. Riset terhadap keluarga pengusaha sukses menemukan lima karakter utama yang justru lebih menentukan masa dep
Bupati Temanggung Agus Setyawan mengajak warga mengawasi revitalisasi sekolah swakelola agar pembangunan sesuai kebutuhan.
Pemerintah mengalokasikan Rp820,9 triliun untuk pendidikan pada RAPBN 2027, termasuk PIP, KIP Kuliah, MBG, dan Sekolah Garuda.
Instagram resmi mengganti logo teks atau wordmark setelah 10 tahun. Desain baru menuai pro dan kontra karena banyak pengguna salah membaca tulisan Instagram men