Ribuan Peserta Ikuti Dieng Caldera Race 2026
Dari ketinggian 2.330 meter, para pelari tak hanya mengejar garis finis—mereka mengejar harapan baru bagi pariwisata dan ekonomi Jawa Tengah.
Elma Ismiyati, salah satu peserta Program JKN yang dikelola BPJS Kesehatan./ Istimewa
JOGJA—Perkembangan teknologi kian memudahkan kegiatan manusia, termasuk dalam mengurus kesehatan.
Elma Ismiyati sudah merasakan manfaat saat mengurus banyak hal bisa melalui ponselnya. Agar semakin praktis, Elma mengunduh Aplikasi Mobile JKN yang menjadi layanan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Dalam satu aplikasi, banyak fitur yang bisa Elma manfaatkan, termasuk memeriksa jadwal dokter di puskesmas maupun klinik, berpindah fasilitas kesehatan tingkat pertama, membuat temu janji dengan dokter, sampai skrining riwayat kesehatan.
“Bisa juga mengambil antrean saat hendak periksa ke klinik, sehingga waktu yang ada bisa dimanfaatkan untuk kegiatan lain,” kata Elma, Kamis (31/8).
Penyakit yang sedang singgah di tubuh kala itu, bisa lebih cepat mendapat penanganan. Harapannya, semakin cepat penanganan, semakin cepat juga potensi pulihnya.
Sebagai manusia biasa yang masih memungkinkan untuk sakit, Elma merasa perlu adanya jaminan kesehatan. Kini, dia menjadi peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan. Ia menjadi peserta dari fasilitas kantornya. Bekerja sebagai karyawan swasta di Jogja, dengan segala dinamikanya, membuat tubuh kadangkala terserang penyakit.
Dia beberapa kali sakit, dan berobat menggunakan fasilitas JKN. “Pernah akses menggunakan JKN beberapa kali, sekitar setiap dua bulan sekali. Saat periksa di fasilitas kesehatan tingkat pertama menggunakan JKN, di sebuah klinik dokter di daerah Muntilan, Magelang,” kata perempuan berusia 23 tahun asal Magelang ini.
Selama pemeriksaan kesehatan menggunakan penjaminan JKN, Elma merasa puas dengan pelayanannya. Tidak ada perbedaan perlakuan dengan pasien umum atau dengan pasien JKN. Ruang antrean dan ruang tunggu juga sama. Pelayanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang Elma gunakan juga responsif.
BACA JUGA: BPJS Kesehatan Klaim Program JKN Indonesia Menjadi Contoh Banyak Negara
Dia menggunakan akses jaminan JKN untuk berobat jenis sakit ringan seperti pilek, batuk, dan demam. Untungnya tidak setiap sakit harus berlanjut ke rumah sakit. Mayoritas sakit sudah selesai di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Akses layanan JKN cukup membantu, termasuk dari biaya dan rasa aman. Di Aplikasi Mobile JKN juga banyak informasi tentang layanan dan kesehatan yang juga sangat membantu,” katanya.
Meski menjadi pesertaJKN, tetap ada harapan apabila Elma tidak sering-sering memakainya untuk berobat. Artinya dia berharap tubuhnya selalu sehat. Meski tidak dipungkiri, menjadi peserta JKN memberikan rasa aman di badan dan juga pikiran. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dari ketinggian 2.330 meter, para pelari tak hanya mengejar garis finis—mereka mengejar harapan baru bagi pariwisata dan ekonomi Jawa Tengah.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 23 Juni 2026 dari Stasiun Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 per perjalanan.
Mas Marrel serap aspirasi warga Purwosari soal air dan wisata kopi di Menoreh. Infrastruktur dan irigasi jadi perhatian utama.
Pemerintah luncurkan SPHP kedelai subsidi Rp2.000/kg untuk perajin tahu tempe. Kuota awal 250.000 ton dengan anggaran Rp500 miliar.
Revisi UU Hak Cipta diingatkan tak membatasi kreativitas digital. Regulasi harus lindungi kreator tanpa mengancam kebebasan berekspresi.
Ledakan stasiun gas di Ras Laffan Qatar menewaskan 13 orang dan melukai 66 lainnya. Pemerintah pastikan bukan sabotase.