Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Wisatawan berfoto dengan latar Air Terjun Kedung Kandang yang bertingkat-tingkat./Instagram @tri_priyanto_
Harianjogja.com, SLEMAN—Musim kemarau panjang di DIY yang masih berlangsung hingga saat ini menyebabkan turunnya permukaan air tanah. Kendati demikian, rupanya kemarau bukanlah satu-satunya faktor penyebabnya.
Pakar manajemen air Universitas Gadjah Mada (UGM), Agus Maryono menerangkan kemarau panjang jelas berpengaruh pada turunnya permukaan air tanah. Suplai dari air hujan yang sudah habis membuat peresapan tanah sangat minim, sehingga air tanah berkurang drastis.
BACA JUGA: Pembongkaran Pohon Hampir Rampung, Konstruksi Tol Jogja-YIA Dimulai November
Faktor kedua, jelas Agus, ialah berkaitan dengan berkurangnya luas permukaan lahan hijau, terutama di daerah perkotaan. Ketika lahan hijau berkurang, maka peresapan air tanah juga akan minim.
Faktor yang ketiga berkaitan dengan kondisi air tanah saat ini yang sudah digunakan secara berlebihan karena bertambahnya jumlah penduduk. "Pemanfaatan air tanah itu meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Orang yg menggunakan air sumur itu terus-menerus bertambah," ujar Agus kepada Harian Jogja, Kamis (12/10/2023).
Kemudian, perkembangan pemukiman yang semakin cepat juga membuat area peresapan di daerah hulu berkurang. Di samping itu, proyek pelurusan sungai dan pembangunan talud yang membuat air di hulu cepat mengalir ke hilir juga menjadi salah satu faktor penurunan permukaan air tanah.
"Kondisi ini bukan baru saja terjadi sekarang, tapi sudah sejak 10 tahun lalu ketika ada isu Jogja Asat. Dipengaruhi el nino juga, ada penurunan drastis sampai di beberapa tempat orang harus menurunkan dasar sumur," kata dia.
Solusinya, lanjut Agus, yaitu pemerintah daerah perlu mewajibkan setiap rumah, terutama di perkotaan, harus punya sumur resapan air hujan. "Bukan cuma sumur resapan saja, tapi sumur resapan air hujan ya," tegasnya.
BACA JUGA: Masalah Penurunan Air Tanah Dimitigasi, Sumur Resapan di Jogja Bertambah Setiap Tahun
Menurutnya, praktik di lapangan selama ini yang diserap oleh sumur resapan bukan air hujan, melainkan air comberan dan air got yang sudah bercampur dengan berbagai zat berbahaya sehingga berpotensi merusak air tanah.
"Solusinya meresapkan air hujan ke sumur penduduk atau sumber resapan, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas air tanah. Jadi, air hujan itu bisa meningkatkan kualitas air tanah asal air hujan itu diresapkan," terangnya.
Ia juga mendorong pemerintah daerah terus melakukan upaya penghijauan dan meminimalisir proyek pelurusan sungai sebagai solusi mengatasi penurunan permukaan air tanah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Imigrasi Sulsel menemukan WNA asal Filipina dan Malaysia memakai KTP Indonesia untuk mengurus paspor RI di sejumlah daerah.
Prabowo Subianto menegaskan pemerintah siap memakai radar dan satelit untuk melacak aset ilegal serta memburu koruptor hingga bungker bawah tanah.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Kamis 21 Mei 2026 melayani rute Jogja dan Sleman dengan tarif Rp80.000 serta konektivitas antarmoda.
Inter Miami dikabarkan selangkah lagi merekrut Casemiro dengan status bebas transfer untuk bermain bersama Lionel Messi di MLS.