Advertisement

Gandeng Seniman Teater, TBY Luncurkan Buku Perjalanan Teater di DIY sejak 1950 sampai Kini

Media Digital
Selasa, 28 November 2023 - 20:07 WIB
Arief Junianto
Gandeng Seniman Teater, TBY Luncurkan Buku Perjalanan Teater di DIY sejak 1950 sampai Kini Suasana peluncuran buku teater Lacak Jejak Teater Yogyakarta di Ruang Seminar TBY, Selasa (28/11/2023). - Harian Jogja/Arief Junianto

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah buku berjudul Lacak Jejak Teater Yogyakarta diluncurkan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Selasa (28/11/2023). Buku ini berisi tentang perkembangan seni teater di DIY dari masa ke masa.

Buku setebal 258 halaman tersebut ditulis oleh lima orang penulis, yakni Budi Sarjono (novelis), Toto Sugiharto (jurnalis), Odi Shalahudin (penulis dan kolektor arsip), Suroso Khocil Birowo (jurnalis), dan Arief Junianto (penulis dan jurnalis).

Advertisement

Salah satu penulis Buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta, Suroso Khocil Birowo menuturkan buku yang merupakan edisi pertama ini berisi tentang perjalanan teater di DIY pada medio 1950-1970.

"Edisi pertama masih teater-teater perjuangan. Berteater itu masih belum tersentuh digital, tata artistik juga masih belum seperti anak-anak sekarang," ujar Khocil saat ditemui di TBY, Selasa (28/11/2023).

Tak hanya itu, dia bersama lima penulis lainnya juga mengajak pembaca untuk mengetahui hal-hal teknis dalam sebuah pementasan teater. Misalnya, siluet yang diciptakan dengan memanfaatkan layar dan lampu.

Perjalanan teater di DIY, lanjut Khocil, tak hanya berhenti di era 1970. Pelan tetapi pasti, teater terus berkembang seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi yang juga semakin canggih.

Ini akan tertuang dalam buku Jejak Lacak Teater Yogyakarta edisi kedua yang akan diluncurkan selanjutnya. "Kami hanya mengambil highlight-nya, tetapi orang akan melihat perkembangan teater dari tahun ke tahun," kata Khocil yang sehari-hari juga berprofesi sebagai jurnalis ini.

Dia menuturkan perencanaan soal pembuatan buku ini telah dilakukan sejak 2021. Saat itu, dia coba berkomunikasi dengan TBY.

Lalu, realisasi baru bisa dilaksanakan pada 2023 ini. Buku ini, lanjutnya, menjadi pelengkap dari literasi tentang teater yang telah ada sebelumnya.

Selain itu, keberadaan buku ini juga turut menguatkan DIY sebagai embrio kesenian teater. Hal ini lantaran banyak seniman teater kondang yang menimba ilmu dan berproses di DIY.

BACA JUGA: Sarasehan Teater TBY, Gandeng Generasi Muda Demi Keberlanjutan Teater di Jogja

Sebut saja misalnya Si Burung Merak, WS. Rendra dan Putu Wijaya yang memang awal karier panggungnya dimulai dari Jogja hingga sejumlah nama-nama lain macam Landung Simatupang, dan Butet Kertaradjasa.

Audio Visual

Tak mau berpuas hati, Kochil berharap akan terus berinovasi. Perjalanan teater di DIY yang telah terdokumentasi dalam sebuah buku ini diharapkan bisa dibentuk kembali dalam audio visual. "Mumpung tokoh-tokohnya masih ada, jadi kesaksian-kesaksian dibikin semacam feature dengan durasi yang tidak perlu panjang-panjang," harapnya.

Kepala TBY, Purwiati mengapresiasi peluncuran buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta. Dia menuturkan para penulis yang merupakan pelaku seni teater ini punya semangat yang patut diacungi jempol.

Dia bahkan tak bisa menampung semua tulisan. Sebagian tulisan yang tak bisa diluncurkan saat ini, akan diluncurkan pada waktu selanjutnya. "Ini menjadi bahan masukan atau edukasi teman-teman generasi muda bahwa seniman, budayawan yang ada di DIY sudah sangat luar biasa dan akhirnya kita wujudkan dalam bentuk buku," ungkapnya.

Dalam peluncuran buku tersebut, digelar diskusi dengan menghadirkan tiga orang narasumber. Dua narasumber merupakan penulis buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta, yakni Budi Sarjono dan Odi Salahudin, serta satu narasumber lainnya, yakni pelaku teater Elyandra Widharta.

Elyandra mengaku buku Lacak Jejak Teater Yogyakarta memiliki peran penting, khususnya bagi dirinya yang merupakan pelaku teater dari kalangan generasi muda. Menurut dia, Lacak Jejak Teater Yogyakarta bisa menjadi pelengkap atas buku serupa yang sudah terbit sebelumnya. 

"Buku ini jelas sangat penting, khususnya bagi orang-orang seperti generasi saya ini, generasi 1990-an. Dengan begitu, kami ini bisa meneladani dan menjaga spirit berteater seperti yang telah dilakukan para pelaku teater sebelum kami," kata aktor sekaligus sutradara kelompok Sedhut Senut itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kasus Pemerkosaan dan Pelecehan Seksual Jadi Kasus Terbanyak di Mahkamah Syariyah di Aceh

News
| Selasa, 05 Maret 2024, 13:07 WIB

Advertisement

alt

Indonesia Bidik Turis Portugal sebagai Pasar Pariwisata

Wisata
| Minggu, 03 Maret 2024, 09:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement