Advertisement

Peneliti UGM Pastikan Nyamuk Aedes Aegypti dengan Wolbachia Aman untuk Manusia dan Lingkungan

Lajeng Padmaratri
Kamis, 30 November 2023 - 18:47 WIB
Arief Junianto
Peneliti UGM Pastikan Nyamuk Aedes Aegypti dengan Wolbachia Aman untuk Manusia dan Lingkungan Tangkapan layar diskusi TropmedTalk on Stage 1 dengan tema Wolbachia, Tak Kenal Maka Tak Sayang di FKKMK UGM, Kamis (30/11/2023). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Sudah 10 tahun sebagian masyarakat di DIY berdampingan dengan nyamuk Aedes aegypti berbakteri Wolbachia. Peneliti UGM yang melakukan riset ini memastikan bahwa nyamuk ber-wolbachia aman untuk manusia.

Peneliti Riset Nyamuk Ber-Wolbachia Eggi Arguni menerangkan bahwa sebelum melepaskan nyamuk ini ke masyarakat, tim dari World Mosquito Program (WMP) di UGM telah memastikan aspek keamanan nyamuk dengan bakteri Wolbachia untuk makhluk hidup lain dan lingkungan.

Advertisement

“Nyamuk ber-wolbachia ini aman, aspek keamanan jadi hal yang sangat kami kedepankan. Sebelum kami lakukan pembuktian di Jogja, sudah ada publikasi ilmiah dari internasional juga yang menyampaikan aspek keamanan ini. Hasilnya, nyamuk ber-wolbachia aman untuk lingkungan sekitar,” ujar Eggi dalam diskusi TropmedTalk on Stage #1 dengan tema Wolbachia, Tak Kenal Maka Tak Sayang di FKKMK UGM, Kamis (30/11/2023).

Ia menerangkan nyamuk ber-wolbachia aman untuk lingkungan biotik dan abiotik. Lingkungan biotik artinya nyamuk ber-wolbachia aman untuk nyamuk lain, hewan lain, dan manusia. Sementara lingkungan abiotik artinya nyamuk ini aman untuk air, tanah, dan udara.

Hal ini disebabkan oleh sifat bakteri Wolbachia yang merupakan bakteri obligat intraseluler atau bakteri yang tidak bisa hidup di luar sel.

“Jika ada nyamuk ber-wolbachia mati, maka selnya ikut mati, sehingga bakterinya juga akan mati. Dia tidak bisa hidup selain di sel serangga. Jadi nggak bisa hidup di sel manusia. Tidak bisa mencemari lingkungan juga,” urainya.

Dengan begitu, keamanan nyamuk ber-wolbachia bisa ia pastikan. Ia juga menyebut bakteri Wolbachia merupakan bakteri yang ditemukan di serangga, jadi bukan rekayasa genetik. “Bukan rekayasa genetik juga,” imbuhnya.

BACA JUGA: Nyamuk Wolbachia Dikabarkan Bawa Virus LGBT, Faktanya Seperti Ini

Eggi juga menerangkan bahwa sebelum koloni nyamuk ini disebar di lingkungan alamiahnya, peneliti sudah melakukan screening terkait kemungkinan terjadinya infeksi dengue, chikungunya, dan zika. “Kami sudah melakukan skrining bahwa nyamuk-nyamuk yang kita lepaskan itu bebas dari infeksi dengue, chikungunya, dan zika. Jadi ini nyamuknya sudah aman,” kata dia.

Nyamuk ber-wolbachia diharapkan dapat menanggulangi demam berdarah dengue yang masih banyak terjadi di masyarakat. Teknologi ini telah terbukti efektif mengurangi 77% kasus dengue dan 86% insidensi perawatan rumah sakit karena dengue di Kota Jogja.

Peneliti Utama Riset Nyamuk Ber-Wolbachia, Prof. Adi Utarini mengatakan bahwa penelitian ini sudah berlangsung sejak lama dan melibatkan banyak pihak. Selain diteliti oleh tim, ada tim independen di luar tim WMP yang melakukan analisis risiko terkait teknologi nyamuk ber-wolbachia ini.

“Tim independen itu menyimpulkan bahwa bahaya yang ditimbulkan dari teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-wolbachia dalam 30 tahun ke depan adalah dapat diabaikan. Dari situ kami berani melepas di seluruh wilayah kota. Jadi ini sama sekali bukan hal yang main-main,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Bertolak ke Melbourne, Jokowi hadiri KTT Asean-Australia

News
| Senin, 04 Maret 2024, 11:47 WIB

Advertisement

alt

Indonesia Bidik Turis Portugal sebagai Pasar Pariwisata

Wisata
| Minggu, 03 Maret 2024, 09:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement