Advertisement

The Origin of Hasoe, Mengintip Perjalanan Hasoe dan Para Angel lewat Pameran

Lugas Subarkah
Minggu, 03 Desember 2023 - 22:37 WIB
Maya Herawati
The Origin of Hasoe, Mengintip Perjalanan Hasoe dan Para Angel lewat Pameran Pengunjung mendatangi pameran Hasoe Tenan: The Origin of Hasoe, saat pembukaan pameran, di Galeri RJ Katamsi, Jumat (1/12 - 2023).

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Hadi Soesanto atau yang kini dikenal dengan Hasoe kariernya mentereng di dunia hiburan musik dangdut, dengan gaya eksentrik dan biduan atau angels yang mengelilinginya. Tak banyak yang tahu, Hasoe memiliki perjalanan seni yang cukup panjang. Kiprah seni Hasoe dipresentasikan dalam pameran Hasoe Tenan: The Origin of Hasoe.

Hasoe Tenan: The Origin of Hasoe, berlangsung di lantai 3 galeri RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, digelar selama lima hari, 1-5 Desember 2023. Pameran ini diselenggarakan oleh Jurusan Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta yang menampilkan arsip, pemberitaan media, kostum, dan sejumlah karya Hasoe.

Advertisement

Generasi saat ini lebih mengenal Hasoe dengan angels yang menampilkan pertunjukan dangdut. Hasoe memiliki kebiasaan unik ketika merayakan ulang tahunnya, yakni mengadakan pentas bersama para angel-nya dengan jumlah angels yang disesuaikan dengan usianya.

Hal ini seperti yang dilakukan Hasoe ketika berulang tahun yang ke-54 pada 25 Mei 2022 lalu. Waktu itu, ia mengadakan Hasoe Angels party dengan menggandeng 54 angels.

Pria yang menyematkan gelar Sarjana Electone (SE) di belakang namanya ini memiliki ciri khas gaya eksentrik, yakni kumis palsu, kacamata berbentuk unik, topi dan baju dengan warna mencolok dan kelap-kelip serta sepatu menyala.

Beberapa kostum yang hingga saat ini masih dipakai Hasoe itu dipajang dalam pameran ini. Selain itu beberapa karya lukisan, foto-foto Hasoe beserta angels ketika pentas dan linimasa yang menceritakan perjalanan hidup dan kekaryaan Hasoe juga dipamerkan dengan rapi.

Dalam linimasa tersebut tercantum Hasoe lulus dari kuliah di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta pada 1987. Di situ terlihat Hasoe mengenakan toga berfoto bersama keluarga. Di sampingnya, ada foto Hasoe di masa itu dengan rambut mulet panjang yang berpose dengan sepeda yang juga tak kalah unik.

BACA JUGA: Hingga Hari Ini Bawaslu DIY Temukan 5 Kampanye Terselubung Tanpa Pemberitahuan

Pada 2000, Hasoe menjadi finalis Indonesia Art Award VII. Pada tahun yang sama, Hasoe menggelar pameran solo bertajuk Aku Ingin Hamil. Hamil merupakan akronim dari Hanya Mikir Lukisan, di Bentara Budaya Yogyakarta. Pada titik linimasa ini, diperlihatkan foto Hasoe mengenakan riasan perempuan Jawa.

Meloncat pada 2019, Hasoe yang produktif dalam melukis, salah satu karyanya dalam Blirik Seris dibeli oleh Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani. Lukisan tersebut menggambarkan beberapa teko motif blirik dari beberapa sudut pandang.

Lalu pada 2020, di tengah pandemi Covid-19, Hasoe menunjukkan kepedulian pada kemanusiaan. Kala itu ia melukis orang yang dibalut rapat pakaian alat pelindung diri (APD) warna putih, lengkap dengan masker gas dan sarung tangan karet, membawa teko brilik yang melayang di dadanya.

Lukisan tersebut diberi judul New Hope, yang kemudian disumbangkan untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY yang waktu itu merupakan garda terdepan dalam menangani Covid-19. Lukisan ini adalah bentuk apresiasinya kepada mereka yang bertaruh nyawa selama pandemi.

Dosen Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, Tambak Sihno, menjelaskan pameran ini merupakan tugas kelompok dalam mata kuliah Kurasi Arsip. Kegiatan ini bertujuan memberi pelajaran kepada mahasiswa soal pengelolaan arsip seni. “Tahun ini ada MBKM [Merdeka Belajar Kampus Merdeka], diikuti mahasiswa dari luar Tata Kelola Seni, ada Sejarah, Teater, Seni Murni,” ujarnya Minggu (3/12).

Dalam tugas ini, mahasiswa dibagi dalam beberapa kelompok yang kemudian mengerjakan pengelolaan arsip dari seniman yang mereka pilih sendiri, yang kemudian dipamerkan. “Pemilihan seniman bebas, yang penting memenuhi kualifikasi misalnya memiliki arsip yang cukup untuk dipamerkan,” katanya.

Hasoe memenuhi kriteria tersebut, karena tergolong dalam seniman senior yang arsip seninya melimpah dan terdokumentasi dengan baik di beberapa media masa. Menurutnya, para mahasiswa mengerjakan tugas ini sekitar dua sampai tiga bulan untuk mengumpulkan arsip, mengkurasi dan men-display.

Hadi Soesanto pun mengapresiasi diselenggarakannya pameran yang menyorot arsip seninya ini. “Mereka sebulan lebih bekerja, kadang saya tinggal ke luar negeri, show, pertemuannya enggak intens, komunikasi by WA [Whatsapp]. Ternyata luar biasa. Pamerannya apik, tertata rapi,” ungkapnya.

Melalui pameran ini, menurutnya orang-orang jadi lebih tahu kiprahnya sebagai seniman yang selama ini jarang diketahui. Ia mencontohkan seperti tembang Jawa Pak Rebo yang ia nyanyikan di awal kariernya dalam dunia hiburan.

Videonya menyanyikan lagu Pak Rebo juga ditampilkan dalam pameran ini.

“Kadang aku kondang nyanyi Pak Rebo, orang ga tahu kalau itu aku. Mungkin mereka lihat di Youtube Pak Rebo pas kuliah. Lalu pas tua baru tahu kalau itu aku,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Tahun Ini Bagi-Bagi Rice Cooker Gratis Bakal Ada Lagi, Kementerian ESDM: Anggaran Sudah Ada

News
| Kamis, 29 Februari 2024, 15:07 WIB

Advertisement

alt

Kegiatan Spiritual dan Keagamaan Jadi Daya Tarik Wisata di Candi Prambanan

Wisata
| Kamis, 29 Februari 2024, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement