Advertisement

Tahun Depan, 6 Kalurahan di Kulonprogo Dapat Bantuan EWS

Andreas Yuda Pramono
Rabu, 06 Desember 2023 - 18:57 WIB
Arief Junianto
Tahun Depan, 6 Kalurahan di Kulonprogo Dapat Bantuan EWS Early Warning System - Ist/OPI

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Tahun depan Kabupaten Kulonprogo akan mendapat bantuan Early Warning System (EWS) melalui Proyek Prakarsa Ketangguhan Bencana Indonesia atau Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) yang difasilitasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kulonprogo, Budi Prastawa mengatakan ada enam kalurahan yang mendapat bantuan EWS pada 2024. Keenam kalurahan tersebut masing-masing adalah Bugel, Karangwuni, Glagah, Jangkaran, Karangsewu, dan Banaran.

Advertisement

“Sebenarnya ada 10 kalurahan yang mendapat bantuan EWS. Tetapi karena ada keterbatasan anggaran maka baru diprioritaskan enam kalurahan yang bersentuhan langsung dengan pantai,” kata Budi, Rabu (6/12/2023).

Budi menambahkan sebenarnya kalurahan tersebut telah mendapat bantuan EWS. Hanya saja air laut membuat EWS cepat rusak sehingga tidak dapat digunakan lagi. Hanya EWS milik BMKG di Kalurahan Glagah saja yang berfungsi. “Apalagi kalau ada ombak besar kan ada titik-titik air atau kremun yang kemudian terbawa angin. Sudah ada tujuh EWS yang rusak,” katanya.

Sebelumnya, Mantan Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Joko Satyo Agus Nahrowi mengatakan Kulonprogo membutuhkan 25 EWS dengan mengandaikan tiap satu kilometer satu EWS di sepanjang pantai di Kulonprogo.

Pengadaan EWS melalui APBD, kata dia, sulit dilakukan karena harganya yang mahal.

Sementara itu Lurah Glagah, Sigit Pramono mengaku EWS Tsunami beberapa bulan belakangan mengalami kendala. “Dulu setiap tanggal 26 [EWS] bunyi. Nah, ponsel-ponsel pejabat Pemerintah Kalurahan pasti bunyi kalau ada potensi tsunami. Berhubung itu [EWS] error, [notifikasi] ponsel juga error,” kata Sigit.

BACA JUGA: BPBD Sleman Maksimalkan Pengecekan EWS di Musim Hujan

Sigit menambahkan Kalurahan Glagah memiliki garis pantai sepanjang tiga kilometer. Dari garis pantai ke utara atau di dusun-dusun daerah pesisir, Pemkal telah membuat peta evakuasi apabila terjadi tsunami. “Ada tiga titik kumpul apabila terjadi tsunami yaitu di Balai Desa, SDN 3 Glagah, dan Gedung Admin Bandara YIA,” katanya.

Dari tiga titik kumpul tersebut, warga akan diarahkan ke Makam Girigondo, Kaligintung, Temon sebagai zona aman. Evakuasi ini penting untuk dipahami, pasalnya ada sekitar 2.900 kepala keluarga (KK) yang terancam tsunami di Kalurahan Glagah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Gibran Enggan Beberkan Hasil Pembahasan Kementerian Baru dengan Prabowo di Kartanegara

News
| Sabtu, 24 Februari 2024, 08:27 WIB

Advertisement

alt

Pelancong Masuk ke Thailand Diwajibkan Bawa Uang Tunai Minimal Rp6,7 Juta

Wisata
| Jum'at, 23 Februari 2024, 17:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement