Kelok 23 Dibuka September, Ada 3 Gardu Pandang di JJLS
Kelok 23 JJLS Gunungkidul-Bantul hampir rampung dan bakal dilengkapi tiga gardu pandang untuk menikmati panorama Laut Selatan.
Pengunjung menaiki wahana kereta mini di Desa Wisata Cibuk Kidul di Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman. Foto diambil Rabu (21/12/2023)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman berkomitmen untuk terus mengembangkan sektor pariwisata. Salah satunya dengan mengenalkan potensi wisata-wisata baru sehingga bisa menjadi alternatif kunjungan bagi para wisatawan.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo mengatakan sektor wisata merupakan salah satu unggulan yang dimiliki pemkab. Upaya pengembangan terus dilakukan, khususnya berkaitan dengan desa wisata yang berbasis masyarakat.
Menurut dia, keberadan wisata alternatif ini sangat penting karena bisa memberikan pengalaman baru. Di sisi lain bertujuan agar kunjungan tidak terpusat di objek-objek wisata yang sudah terkenal seperti di kawasan Prambanan dan Kaliurang.
Dia mencontohkan, destinasi wisata alternatif yang dikembangkan adalah Desa Wisata Cibuk Kidul di Kalurahan Margoluwih, Seyegan, Sleman.
Menurut Kustini, di tempat ini sudah ada kelompok Masyarakat yang menggelolanya dengan keunggulan pemandangan alam pedesaan dan dilengkapi dengan wahana atraksi seperti kereta minim, kolam perikanan hingga laboratorium mina padi sebagai tembat wisata edukasi.
“Potensi-potensi ini yang terus digali. Tugas dari pemkab untuk mendampingi dan mempromosikan agar destinasi yang ada bisa dikenal sehingga banyak pengunjung berdatangan,” katanya.
Menurut dia, pengembangan wisata berbasis Masyarakat dapat memberikan dampak yang positif, khususnya untuk upaya mendorong kesejahteraan. “Keberadaan destinasi ini juga untuk menghidupkan wisata di Sleman barat,” katanya.
Tokoh Masyarakat di Padukuhan Cibuk Kidul, Widodo mengatakan, desa wisata yang dikelola bermula dari pengembangan mina padi di 2015 lalu.
Dia tidak menampik program ini mendapatkan pengakuan dari FAO berkaitan dengan program ketahanan pangan yang mengkombinasikan pertanian dengan pertanian. “Mina padi yang dikembangkan mencapai 25 hektare,” katanya.
BACA JUGA: Objek Wisata Lereng Merapi Disebut Masih Aman Dikunjungi Saat Libur Nataru
Menurut dia, setelah pengembangan mina padi, lantas ada program pembuatan laboratorium mina padi. Tempat ini dibangun di lahan seluas 2.800 meter persegi untuk wisata edukasi mina padi.
Guna menarik minat pengunjung di sekitar lokasi juga ada dilengkapi wahana seperti kereta mini. Wahana ini bisa dicoba pengunjung untuk berkeliling di seputaran laboratorium mina padi.
“Selain mina padi juga ada wahana mina kolam, mina kalen dan lain sebagainya. Untuk kunjungan sudah ramai, khususnya saat libur akhir pekan atau saat masa liburan tiba,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 JJLS Gunungkidul-Bantul hampir rampung dan bakal dilengkapi tiga gardu pandang untuk menikmati panorama Laut Selatan.
Komnas HAM meminta BGN menghentikan sementara SPPG di lokasi keracunan MBG dan memperkuat evaluasi serta pengawasan keamanan pangan.
Harga air bersih di Gedangsari Gunungkidul tembus Rp350.000 per tangki. Medan perbukitan dan jauhnya sumber air membuat biaya distribusi mahal.
Kabut asap dari karhutla di Sumatra dan Kalimantan berdampak pada Singapura. PSI wilayah tengah menembus 105 dan masuk kategori tidak sehat.
Bug WhatsApp di sejumlah HP Android bisa membuka galeri saat layar terkunci. Simak perangkat yang terdampak dan cara mengurangi risikonya.
DPRD Kabupaten Kulonprogo resmi menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta Pelarangan Minuman