Jembatan Garuda Dibangun di 9 Titik di Gunungkidul, Ini Lokasinya
Pembangunan Jembatan Garuda di Gunungkidul bertambah menjadi sembilan titik. Program ini ditargetkan mencapai 11 jembatan pada 2026.
Ilustrasi angin kencang./JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN—Memasuki awal 2024, sejumlah wilayah DIY, termasuk Kabupaten Sleman mulai diguyur hujan deras. Untuk itu, BPBD Sleman mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai adanya potensi terjadinya bencana seperti angin kencang dan tanah longsor.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan setelah sempat menghilang beberapa minggu, hujan kembali turun di awal tahun ini.
Dia mencontohkan, pada Rabu (3/1/2024) siang wilayah Sleman diguyur hujan dengan intesitas sedang. “Untuk kejadian masih dalam pendataan. Nanti, kami informasikan kalau ada peristiwa yang terjadi,” kata Bambang kepada wartawan, Rabu sore.
Mengacu pada kejadian di akhir 2023 lalu, dia meminta kepada masyarakat untuk mewaspadai beberapa potensi bencana alam yang muncul. Sebagai gambaran, lanjut Bambang, mulai akhir November hingga awal Desember mencatat ada empat kejadian angin kencang.
Hal ini pun berdampak terhadap tujuh rumah dilaporkan rusak, 13 pohon tumbang dan adanya kerusakan pada enpat titik jaringan Listrik dan satu instalasi telepon. Total kerugiaan akibat kejadian ini sebesar Rp104,2 juta.
Selain itu, juga ada kejadian tanah longsor di empat titik yang terjadi di akhir tahun dengan kerugian materi Rp126,4 juta. “Ada juga banjir yang sempat menggenani rumah warga. Total dari catatan kami sepanjang akhir 2023, kerugian akibat dampak dari bencana hidrometeorologi sebesar Rp240,6 juta,” katanya.
BACA JUGA: Sempat Hujan Siang Tadi, Begini Prakiraan Cuaca Jogja saat Malam Tahun Baru Nanti
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Makwan mengatakan bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman. Oleh karenanya, ia meminta kepada Masyarakat untuk mewaspadai sehingga dampak dari terjadinya musibah bisa ditekan sekecil mungkin. “Hujan deras dan angin kencang harus diwaspadai. Sebab, bisa menyebabakan longsor maupun pohon atau rumah ambruk,” kata Makwan.
Untuk mengurangi risiko dari ancaman angin kencang, Masyarakat diminta mengecek kondisi rumah. Langkah ini guna memastikan konstruksi kokoh sehingga aman pada saat terjadi angin kencang. “Dahan dan ranting pohon di sekitaran rumah yang sudah rimbun juga bisa dipangkas untuk mengurangi risiko tumbang karena embusan angin kencang,” katanya.
Adapun untuk mengurani risiko banji bisa dilakukan dengan memastikan saluran pembuangan di sekitaran rumah tidak mampet dan lancar. “Jangan sampai ada genangan, jadi, harus dipastikan tidak ada sampah-sampah di saluran pembuangan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pembangunan Jembatan Garuda di Gunungkidul bertambah menjadi sembilan titik. Program ini ditargetkan mencapai 11 jembatan pada 2026.
UAD melantik dekan baru untuk periode kepemimpinan berikutnya guna memperkuat transformasi kampus dan menghadapi akreditasi institusi 2027.
PT Bank Syariah Indonesia (Persero)Tbk (BSI) bersama Danantara Indonesia mempercepat penguatan ekonomi kerakyatan dengan membangun ekosistem pemberdayaan UMKM
BMKG mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dan memilih varietas tahan kering untuk mengurangi risiko gagal panen akibat El Nino.
Warga Desa Kahuman, Klaten, menggelar Sendratari Manusuk Sima untuk mengangkat sejarah Upit, permukiman kuno yang telah berusia 1.160 tahun.
BMKG memprakirakan gelombang laut di perairan selatan Bali mencapai 6 meter pada 5-8 Agustus 2026 akibat aktifnya monsun Australia.