Advertisement
Dampak Kemarau Panjang di 2023, Produktivitas Padi di Sleman Turun
Sejumlah petani di Kalurahan Tamanmartani, Kalasan memulai menanam padi di lahan yang dimiliki, 10 Januari 2024 lalu. - Harian Jogja / David Kurniawan
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Kemarau Panjang yang terjadi di 2023 berdampak terhadap turunnya priduktivitas pertanian di Kabupaten Sleman. Pasalnya, luas tanam menyusut sehingga produktivitas yang dihasilkan juga ikut turun.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Siti Rochayah mengatakan, pertanian di Sleman sangat terdampak terjadinya kemarau Panjang di 2023. Ketersediaan air yang terbatas membuat petani banyak yang memilih menganggurkan lahan, khususnya di masa tanam Agustus sampai Desember 2023.
Advertisement
Sebagai gambaran di masa tanam Januari-April 2023 luasan panen mencapai 17.500 hektare. Empat bulan kemudian atau di masa tanam Mei-Agustus luasanya turun sedikit menjadi 16.523,4 hektare.
Adapun di periode Agustus-Desember atau bertepatan dengan puncak musim kemarau lahan yang bisa ditanami dan dipanen seluas 7.807 hektare. “Kemarau Panjang memang sangat berdampak terhadap para petani,” kata Siti, Minggu (14/1/2024).
Dia menjelaskan, secara akumulasi luas panen juga cenderung turun. Sebagai gambaran di 2022, luasan panen mencapai 42.353 hektare.
Adapun luas panen di 2023 sekitar 41.830 hektare. Turunnya luas panen juga berdampak terhadap produktivitas padi yang dihasilkan.
BACA JUGA: Ribuan Hektare Lahan Pertanian di Sleman Gagal Tanam
BACA JUGA: Kerusakan Lahan di Sleman Menghawatirkan, Mengancam Produktivitas
Tahun lalu gabah kering giling yang dihasilkan mencapai 251.250 ton. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian panen di 2022 seberat 256.708 ton.
“Gabah kering giling yang dihasilkan ada penurunan sekitar 5.000 ton di 2023 karena dampak dari kemarau Panjang yang terjadi,” katanya.
Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono tidak menampik kemarau Panjang di 2023 sangat berpengaruh. Selain Tingkat produktivitas pertanian yang menurun, juga berdampak pada mundurnya masa tanam.
Menurut dia, memasuki Desember seharusnya sudah banyak lahan yang mulai di tanamin. Namun demikian, di 2023 lalu masih banyak lahan yang dibiarkan kosong alias tidak digarap.
“Kami terus memantau di lapangan dan dampak terparah terjadi di Sleman barat mulai dari Minggir, Moyudan, Tempel, Seyegan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Iran Klaim Serang Kapal Induk Abraham Lincoln dan Tembak Jatuh F-35 AS
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








