Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Depo Sampah Mandala Krida ditutup, Minggu (21/4/2024) - Harian Jogja/ Alfi Annissa Karin
Harianjogja.com, JOGJA—Pemkot Jogja mendorong pengelolaan sampah rumah tangga mandiri oleh masyarakat. Guna mewujudkan hal itu, diperlukan fasilitas dukungan dari Pemkot Jogja, salah satunya pendamping di tingkat RW.
Anggota Komisi C DPRD Kota Jogja, Cahyo Wibowo, menjelaskan sampah rumah tangga merupakan yang paling banyak dihasilkaan di Kota Jogja, dengan jumlah lebih dari 180 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sebesar 50% merupakan sampah organik, kemudian baru sampah anorganik 30% dan residu 20%.
Maka sampah rumah tangga terutama yang jenis organik menjadi kunci penyelesaian persoalan sampah. “Kalau sampah organik beres, pengelolaan anorganik dan residu lebih mudah. Yang selama ini menimbulkan bau juga sampah organik,” ujarnya beberapa waktu lalu.
BACA JUGA : 60 Ton Sampah Kota Jogja Akan Diolah di Bantul
Meski demikian, pada praktiknya pengelolaan sampah mandiri masih sulit dilakukan karena kemauan dari masyarakat belum ada. Pemkot Jogja harus hadir untuk memberi dukungan, salah satunya dengan pendampingan di wilayah.
Ia mengusulkan di fasilitas pendamping ini didistribusikan untuk setiap RW di seluruh Kota Jogja, agar mendapatkan hasil yang maksimal. “Komunitas [pengelola sampah] yang sudah ada harus di-support. Pengurus RW juga harus serius di-support. Satu RW diberikan satu pendamping,” katanya.
Pendamping ini selain mengedukasi, juga perlu mendata setiap rumah setiap hari, memastikan pengelolaan sampah sudah berjalan. Dengan metode ini, menurutnya akan lebih banyak masyarakat yang tergerak untuk mengelola sampah.
Pendamping pun harus mendapat upah layak dari Pemkot Jogja. Dengan asumsi gaji sesuai Upah Minimum Kota (UMK) Jogja sebesar Rp2,5 juta, ia telah menghitung dan hasilnya masih mungkin untuk dianggarkan Pemkot Jogja. “Rp2,5 juta kali 600 RW, ketemu sekian miliar, Pemkot masih mampu. Masih masuk akal,” ungkapnya.
Selain pendamping, peralatan untuk mengelola sampah rumah tangga organik juga perlu difasilitasi Pemkot Jogja. Ia mencontohkan seperti alat biopori, ember tumpuk, komposter dan sebagainya, perlu difasilitasi untuk warga.
“Edukasi juga perlu terus dilakukan. Kami di kota jogja sering menyampaikan infrasturktur Kota Jogja sudah bagus. Sudah saatnya mindset Pemkot untuk pembangunaya tidak melulu infrastruktur tapi masuk pembangunan SDM. Butuh penganggaran dialihkan ke sana,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Data WINA menempatkan Indonesia dalam tiga besar negara dengan konsumsi mi instan terbanyak. Simak peringkat total dan konsumsi per kapita.
Empat musisi, termasuk Finneas dan Lukas Graham, mundur dari tur Ed Sheeran setelah Macklemore dikeluarkan menyusul pernyataannya soal Palestina.
Gempa M2,7 mengguncang Kabupaten Bandung pada Kamis pagi. Getaran dirasakan di Pangalengan, Talegong, dan Cisewu. BMKG menjelaskan aktivitas sesar aktif.
Apple Reference Image di iPhone 18 Pro dan 18 Pro Max memungkinkan pengguna memverifikasi keaslian foto. Simak cara kerja dan cara menggunakannya.
Liverpool vs Chelsea menjadi duel besar babak keempat Carabao Cup 2026/2027. Arsenal menghadapi Fleetwood Town dari League Two.