Stunting di Kota Jogja Menurun, Kotagede Masih Tertinggi
Prevalensi stunting di Kota Jogja turun menjadi 8,27 persen pada 2026. Kemantren Kotagede masih mencatat angka stunting tertinggi.
Ilustrasi siswa./Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Pada Tahun Ajaran 2024/2025, SMP 2 Veteran Bantul hanya mendapatkan seorang siswa. Akibatnya, sekolah tersebut hanya mengandalkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) yang jumlahnya minim.
Kepala SMP 2 Veteran Bantul, Oktiana Purnomo Wahyu Hidayat yang akrab disapa Purnomo menilai jumlah siswa yang didapat tersebut lantaran dampak dari keberadaan sembilan SMP negeri dan swasta lain di Kapanewon Bambanglipuro.
Dia menuturkan hal itu karena ada penambahan rombongan belajar di sekolah negeri beberapa waktu lalu. Selain itu, menurutnya, ada trend masyarakat menyekolahkan anaknya di sekolah berbasis keagamaan.
Dia menuturkan sejak 2019, jumlah siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut terbilang sedikit. Siswa baru yang mendaftar ke sana ada sekitar 2 orang per tahun, sementara di tahun ini ada satu orang siswa yang mendaftar. “Di sini banyak siswa pindahan, sehingga ketika di akhir [kelas IX] akan bertambah,” katanya, Rabu (17/7/2024).
Minimnya jumlah siswa, kata dia, membuat sekolah mengalami kesulitan untuk membayar gaji guru dan operasional sekolah. Hal itu lantaran sekolah tersebut mengandalkan sumber pembiayaan dari Dana Bantuan Operasional Sekolah Nasional (Bosnas) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda).
“Jumlah siswa yang sedikit itu menjadikan sumber pendanaan sedikit, kita pendanaan tergantung dari BOSNAS dan BOSDA, itu dikali jumlah siswa, kalau siswa sedikit kita dapat [dana] BOS juga sedikit,” katanya.
Dana Bosnas dan Bosda diberikan kepada setiap sekolah sesuai jumlah siswa yang ada. Bagi sekolah yang muridnya terbatas, maka anggaran Bosnas dan Bosda yang dikucurkan pun terbatas.
Menurutnya, peminat yang mendaftar di sekolahnya masih minim, sehingga pihaknya tidak membebankan SPP setiap bulan kepada para siswa, hanya ada uang pangkal bagi siswa baru. “Uang pangkal tergantung kemampuan siswa. Kebanyakan siswa pindahan, sebagai patokan mereka mengganti [dana] BOS saja sekitar Rp1,1 per tahun dan biaya ujian,” katanya.
BACA JUGA: PPDB Rampung, 4 Sekolah Negeri di Kulonprogo Daya Tampungnya Tak Terpenuhi
Dari situ, menurutnya ada lima orang guru tetap yang digaji dari dana Bosnas dan Bosda. Sementara menurutnya, ada insentif bagi para guru dan karyawan yang diberikan setiap tiga bulan sekali sesuai dengan golongannya dengan kisaran Rp250 ribu-Rp650 ribu.
Sementara Kepala Disdikpora Bantul, Nugroho Eko Setyanto menyampaikan pihaknya akan mengevaluasi penyebab sekolah tersebut hanya mendapat satu murid di tahun ini. Meskipun jumlah siswa yang ada masih terbatas, menurut Nugroho pihaknya berupaya memberikan gaji yang layak bagi guru dan karyawan.
“Pembiayaan sekolah dapat dari Bosnas dan Bosda. Itu [Bosnas dan Bosda] dihitung dari jumlah siswa yang ada. Ada pula pemberian insentif bagi guru tidak tetap yayasan dan pegawai tetap yayasan. Pembiayaan sudah kami berikan sesuai kemampuan daerah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prevalensi stunting di Kota Jogja turun menjadi 8,27 persen pada 2026. Kemantren Kotagede masih mencatat angka stunting tertinggi.
Simak rekomendasi AI terbaik untuk bisnis, mulai ChatGPT, Claude, Copilot, Perplexity AI hingga Jasper AI sesuai kebutuhan kerja.
Pemkab Gunungkidul menyiapkan strategi bertahap mengatasi monyet ekor panjang yang merusak lahan pertanian, termasuk menggandeng UGM.
Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia berpeluang menjadi ekonomi terbesar keempat dunia dalam 25 tahun mendatang.
Pemda DIY mengantisipasi dampak El Nino dengan memastikan stok pangan, pengelolaan air, dan mitigasi kekeringan di wilayah rawan.
Penyempurnaan Suzuki Xl7 Resmi Meluncur, Makin Tegas Dengan Fitur Bermakna