630 Personel TNI-Polri Dikerahkan Amankan Pemilihan Lurah Serentak di Gunungkidul
Sebanyak 630 personel TNI-Polri dan 321 Linmas disiapkan untuk mengamankan Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul.
Kekeringan - Ilustrasi StockCake
Harianjogja.com, SLEMAN—BPBD Sleman memastikan adanya perpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 30 November 2024. Siaga kali ini difokuskan untuk menghadapi masalah kekeringan karena dampak dari musim kemarau.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, siaga darurat bencana hidrometeorologi sudah ditetapkan sejak 1 Desember 2023. Kebijakan ini diperpanjang setiap tiga bulan sekali, sesuai dengan ketentuan dari pemberlakuan status tersebut.
Dia menjelaskan, status siaga darurat harusnya berakhir pada 31 Agustus 2024. Namun, berdasarkan kajian yang telah dilakukan maka diputuskan untuk kembali diperpanjang.
BACA JUGA : Siaga Darurat Kekeringan di Gunungkidul Diperpanjang hingga Oktober 2024
“Berlakunya memang selama tiga bulan dan hingga sekarang statusnya di Sleman terus diperpanjang hingga akhir 2024,” kata Bambang, Rabu (11/9/2024).
Bambang mengungkapkan, dampak dari bencana hidrometeorologi ada beberapa potensi seperti banjir, tanah longsor, kebakaran lahan, kekeringan, angin kencang dan lainnya. Khusus untuk perpanjangan kali ini, ia mengakui difokuskan terhadap masalah kekeringan.
“Ya namanya siaga, maka kami berjaga-jaga sehingga saat terjadi peristiwa atau kejadian langsung bisa melakukan penanganan,” katanya.
Bambang menambahkan, fokus siaga mengenai kekeringan tak lepas dari potensi kerawanan saat musim kemarau. Di sisi lain, adanya kebijakan pematian Selokan Mataram dan Van Der Wijck pada Oktober mendatang diperkirakan akan memberikan dampak, khususnya yang berada di wilayah Sleman Barat. “Makanya tetap disiagakan,” katanya.
BACA JUGA : 13 Titik Terdampak Kekeringan, BPBD Bantul Ajukan Siaga Darurat Kekeringan
Ketua Pelaksana BPBD Sleman, Makwan mengatakan, perpanjangan status siaga darurat bencana hidrometeorologi sebagai bagian dari mitigasi bencana. Terlebih lagi, saat sekarang sering terjadi anomaly cuaca yang berdampak terjadinya musibah atau bencana alam.
“Potensi di musim kemarau kemarau tetap ada, makanya harus diwaspadai dengan adanya mitigasi bencana,” katanya.
Makwan memastikan seluruh personel yang dimiliki bersama dengan para relawan terus siaga dan siap diterjunkan pada saat terjadi peristiwa. “Semua kami siagakan untuk menghadapi ancaman dari bencana hidrometeorologi. Jadi, sewaktu-waktu dibutuhkan siap meluncur ke lokasi yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Disinggung mengenai dampak dari musim kemarau, ia mengakui hingga sekarang belum ada warga yang mengajukan permintaan bantuan air bersih. “Masih aman terkendali dan kami sudah mengalokasikan bantuan yang siap disalurkan ke Masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 630 personel TNI-Polri dan 321 Linmas disiapkan untuk mengamankan Pilur serentak di 31 kalurahan Gunungkidul.
Alex Marquez mengungkap rem depan Ducati sempat terkunci saat kecelakaan di Practice MotoGP Austria. Ia tak cedera dan berhasil lolos ke Q2.
Anak lebih rentan tertular influenza tipe A dan B. Simak penjelasan IDAI tentang kelompok berisiko, gejala, dan upaya pencegahannya.
Threads menghadirkan parental supervision melalui Family Center. Orang tua bisa memantau aktivitas, membatasi waktu penggunaan, dan mengatur jam tidur remaja.
Sisa lem stiker di kaca mobil sulit dibersihkan? Simak lima cara mengatasinya menggunakan pembersih kaca, WD-40, alkohol, dan bahan lainnya.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen menghapus kelaparan dan kemiskinan serta memastikan anak Indonesia tidak kekurangan gizi.