Blue Food Jadi Kunci Ketahanan Pangan Indonesia pada 2050
UGM mendorong penguatan blue food sebagai solusi ketahanan pangan nasional di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan protein hingga 67% pada 2050.
Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Riski Adrian ditemui di Mapolresta Sleman pada Selasa (25/2/2025)./Harian Jogja -- Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus keracunan massal di Tempel dan Mlati bakal memasuki tahap baru. Polisi memastikan adanya kandungan formalin pada sampel makanan yang diambil dia dua lokasi keracunan massal.
Temuan formalin ini dipastikan kepolisian usai melakukan pemeriksaan di laboratorium forensik (labfor). "Dari hasil labfor, kami ada mengambil beberapa sampel, dari berapa tempat itu mengandung formalin," kata Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Riski Adrian ditemui pada Selasa (25/2/2025) di Mapolresta Sleman.
Adrian saat ini belum menerangkan seberapa tinggi kadar formalin yang ditemukan di dalam sampel. Hanya saja Adrian mengatakan kandungan formalin tersebut tak hanya ditemukan pada sampel makanan, namun bahkan ditemukan juga pada sampel muntahan korban keracunan yang diperiksa.
Hanya saja Adrian belum bisa menyampaikan jenis hidangan apa yang mengandung formalin tersebut.
"Ya nanti kami update, yang penting di sampel makanan yang kami duga kuat itu baik dari tempat pembuatannya habis itu dari tempat dua TKP ya dari Tempel maupun [Mlati] itu, itu ada formalin," tegasnya.
Keberadaan kandungan senyawa kimia tersebut diduga menjadi sebab warga mengalami gejala-gejala keracunan.
BACA JUGA: 2 PNS Gunungkidul Diduga Berselingkuh dan Mesum di Toilet Pemkab
"Iya benar. Jadi yang seperti yang pernah saya jelaskan, jadi antara pemeriksaan kami sama pemeriksaan Dinas Kesehatan itu beda, kalau mereka [Dinkes] itu mikrobiologinya kalau kami [Polresta] senyawa kimia," katanya.
Dari temuan ini, Polresta Sleman akan melakukan pemeriksaan ulang terhadap para saksi yang telah dimintai keterangan saat penyelidikan. Adrian menduga kuat ada unsur pidana dalam peristiwa keracunan makanan yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Karena kami duga kuat ada unsur tindak pidana di situ. Mungkin dalam waktu dekat akan update lagi untuk penanganannya," kata Adrian.
Sebelumnya Dinas Kesehatan Sleman juga melakukan pemeriksaan sampel makanan di lokasi keracunan di Tempel dan Mlati. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama menjelaskan ditemukan cemaran sejumlah bakteri pada sampel yang diuji.
"Dari hasil pemeriksaan sampel makanan tersebut beberapa ditemukan adanya cemaran Salmonella sp, Bacillus cereus dan Escherichia coli," terang Cahya.
Cahya melanjutkan bila insiden keracunan makanan di Tempel diduga terjadi karena keberadaan cemaran kontaminasi sejumlah bakteri pada makanan yang disajikan.
"Keracunan makanan yang terjadi diduga karena adanya kontaminasi bakteri Salmonella sp, Bacillus cereus dan E. coli pada makanan yang disajikan," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
UGM mendorong penguatan blue food sebagai solusi ketahanan pangan nasional di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan protein hingga 67% pada 2050.
Jadwal KRL Solo Jogja terbaru hari ini Rabu 29 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Tugu Jogja.
AS melarang impor robot humanoid dan inverter baru asal Tiongkok demi melindungi keamanan nasional serta infrastruktur AI domestik.
Jadwal salat Jogja Rabu 29 Juli 2026 untuk Kota Jogja, Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Gunungkidul berdasarkan Kemenag.
Kasus ISPA di Bantul masih mencapai ribuan hingga Juni 2026. Dinkes mengimbau warga menerapkan PHBS dan memakai masker saat musim kemarau.
Sosiolog UGM menilai dugaan siswa membawa bom rakitan ke sekolah menjadi alarm bagi sistem pendidikan dan pentingnya budaya dialog dengan anak.