Advertisement
Dampak Cuaca Ekstrem, Tanaman Padi Milik Petani Paliyan Gunungkidul Rata dengan Tanah

Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini mulai berdampak di sektor pertanian. Dilaporkan, sejumlah petani di Kalurahan Pampang, Paliyan mengeluh karena padi yang ditanam rata dengan tanah akibat embusan angin kencang.
Salah seorang petani di Padukuhan Polaman, Pampang, Paliyan, Wadiyanto mengatakan, akhir-akhir ini sering terjadi hujan yang disertai angin kencang. Kondisi tersebut berdampak terhadap padi yang ditanamnya karena roboh rata dengan tanah.
Advertisement
“Hujannya deras dengan angin kencang, padi yang siap panen pun pada ambruk semua,” kata Wadiyanto, Selasa (25/2/2025).
Ia berharap peristiwa ini tidak sampai membuat petani rugi dan masih bisa dipanen. Meski demikian, ia mengakui upaya penanganan tidak semudah saat padi tumbuh normal.
“Panen tinggal dua hari, tapi padinya sudah rata dengan tanah. Jadi, butuh tenaga tambahan untuk bisa memanen padi-padi ini,” katanya.
Menurut Wadiyanto, proses pemeliharan tanaman padi berjalan dengan baik karena permasalahan hanya muncul saat akan panen. “Ini dampak dari cuaca buruk yang terjadi akhir-akhir ini,” katanya.
Disinggung mengenai area terdampak, ia mengakui lahan milik petani lain juga mengalami hal yang sama. “Kami hanya berharap masih bisa dipanen dan hasilnya juga bagus,” katanya.
Terpisah, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengaku sudah mendapatkan informasi terkait dengan robohnya tanaman padi milik petani di Kalurahan Pampang, Paliyan. Menurut dia, area terdampak relative kecil dan tanamannya masih dapat dipanen.
“Bukan masalah karena tetap bisa dipanen,” katanya.
Menurut Raharjo, proses panen raya padi di Gunungkidul masih berlangsung. Salah satunya berlokasi di lahan di Kalurahan Siraman, Wonosari.
Hasil pengubinan yang dilakukan, sambung dia, dari hasil panen tersebut mampu menghasilkan seberat 7,47 ton per hektarenya. Ia mengakui hasil panen ini termasuk bagus sehingga harapannya bisa ikut menyejahterakan para petani.
“Panen raya masih akan berlangsung hingga Maret mendatang,” katanya.
Raharjo menambahkan, di masa panen raya ini juga ada kabar bagus karena Bulog sudah membeli gabah milik petani Gunungkidul. “Sudah ada penyerapan gabah dari petani. Untuk harganya Rp6.500 per kilogram,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Wagub DKI Jakarta Rano Karno Pastikan Berangkat Malam Ini untuk Ikut Retreat di Magelang
Advertisement

Sempat Ditutup Akibat Cuaca Ekstrem, Ranu Regulo di Kawasan Bromo Tengger Semeru Dibuka Kembali
Advertisement
Berita Populer
- Terungkap! Ayla Putih Berlubang Bekas Tembakan Ternyata Milik Pelaku Penggelapan, Sempat Kejar-kejaran dengan Polisi
- Hanya Ada Calon Tunggal, Pemilihan Ketua Hipmi DIY di Musda XVI Digelar Aklamasi
- 2 PNS Gunungkidul Diduga Berselingkuh dan Mesum di Toilet Pemkab
- Antisipasi Kepadatan Saat Lebaran, Dishub DIY Fokus Arus Lalu Lintas di Kalasan
- Menjaga Daya Beli Warga, Pemkab Kulonprogo Jadwalkan Pasar Murah 14 Kali
Advertisement
Advertisement