Pasar Sentul dan Terban Sepi, Dewan Minta Intervensi Pemkot Jogja
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. Antara/Hery Sidik
Harianjogja.com, BANTUL–Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul mencatat terjadi penurunan kunjungan wisatawan ke Bantul selama libur Lebaran 2025. Karena itu, hingga akhir Maret 2025, pendapatan asli daerah (PAD) pariwisata Bantul baru mendapatkan belasan persen.
Subkoordinator Kelompok Substansi Promosi Kepariwisataan Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi menyampaikan kunjungan wisatawan selama libur Lebaran di Bantul menurun 25% dibandingkan dengan tahun lalu. Tercatat, kunjungan pada 28 Maret-6 April 2025 mencapai 139.446 orang. Dengan jumlah tersebut, PAD yang didapat mencapai Rp1,98 miliar.
BACA JUGA: 507 Sukarelawan di Bantul Telah Dikover Asuransi
Dia menilai jumlah tersebut masih jauh dibandingkan dengan target PAD Bantul tahun ini yang mencapai Rp49 miliar. Dari catatan Dispar, pada Januari hingga 31 Maret 2025, PAD pariwisata yang didapat Pemkab Bantul mencapai Rp5,4 miliar atau 11% dari target.
Setelah Lebaran, Markus menilai masih ada beberapa momen libur sekolah pada pertengahan tahun dan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) di akhir tahun yang diharapkan mampu mendulang wisatawan. Berkaca dari tahun sebelumnya, pada momen tersebut, wisatawan yang berkunjung ke Bantul diperkirakan akan mencapai ratusan ribu.
Selain itu, Dipar juga telah menyiapkan beberapa event untuk mendongkrak kunjungan wisatawan di hari biasa. Beberapa event yang disediakan antara lain Keroncong Pesisiran Mataram yang akan digelar pada Juni, festival kuliner pada Juli, dan festival lampion pad Oktober 2025.
Markus mengaku pihaknya tidak banyak berharap dengan kunjungan wisatawan pada hari biasa. Hal itu lantaran rata-rata kunjungan wisatawan per bulan berkisar ratusan ribu orang. "Rata-rata PAD per bulan ketemu sekitar Rp4 miliar," katanya, Senin (7/4/2025).
Markus menambahkan pihaknya juga mengkhawatirkan terjadi penurunan kunjungan wisatawan per bulan dengan adanya larangan studi tour di beberapa daerah. Menurut Markus, wisatawan yang berkunjung ke Bantul mencapai 90% yang berasal dari kalangan pelajar. Karena itu, dia khawatir larangan studi tour akan berpengaruh pada jumlah kunjungan wisata.
Markus mengaku sebagian besar kunjungan wisatawan ke Bantul masih berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Daerah Istimewa Jakarta. Karena itu, ketika larangan studi tour berasal dari sana, maka akan sangat berdampak pada kunjungan ke Bantul.
Markus mengaku pihaknya juga telah berupaya menarik wisatawan dari luar Jawa. "Hal kami lakukan untuk mengantisipasi penurunan ini dengan mempromosikan [potensi wisata Bantul] secara langsung kepada pelaku usaha biro perjalanan di luar Jawa yang mempunyai penerbangan langsung ke Yogyakarta Internasional Airport [YIA]," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kota Jogja meminta Pemkot segera menghidupkan Pasar Sentul dan Terban yang masih sepi melalui strategi pengelolaan dan penataan pasar.
Prabowo mengajukan Aida S. Budiman, Solikin M. Juhro, dan Anwar Bashori sebagai calon pimpinan Bank Indonesia. Ini rekam jejaknya.
Garuda Indonesia ditargetkan mulai mencetak laba pada awal 2027. Rugi GIAA kuartal I/2026 menyusut 45,2% menjadi US$41,6 juta.
Pemerintah menyiapkan insentif bagi pengusaha logistik untuk meredam dampak zero ODOL yang berpotensi menaikkan biaya logistik 3,3%.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo mengajak masyarakat memperkuat gotong royong, persatuan, serta kemandirian ekonomi dan teknologi.
Pembangunan kawasan yudikatif IKN terus dikebut dan ditargetkan rampung 2027, dengan progres Gedung MA 12,5 persen.