Advertisement
10 Ton Salak Sleman Diekspor ke Kamboja
Salak / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 10 ton salak asal Kabupaten Sleman, DIY, diekspor ke Kamboja.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengaku ekspor ini menjadi bukti bahwa Bumi Sembada siap bersaing di kancah global dalam pertanian salak.
Advertisement
BACA JUGA: Produksi Salak di Sleman Capai 30.000 Ton Sepanjang 2024
Danang mengatakan ekspor salak oleh CV. Mitra Turindo menjadi bukti bahwa pertanian dapat menjadi pilar ketahanan pangan, penggerak ekonomi rakyat apabila dikelola dengan baik. Dia berharap juga ekspor salah dapat menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia.
“Ekspor salak ke luar negeri adalah cita-cita yang selama ini kita bangun bersama. Kita ingin petani salak Sleman tidak hanya menjual buah di pasar tradisional, tetapi juga menembus pasar internasional,” kata Danang dalam keterangan tertulis.
Danang menambahkan penguatan kualitas salak sebagai komoditas ekspor unggulan perlu ditingkatkan. Peningkatan kualitas akan diiringi dengan peningkatan nilai tambah produk pertanian lokal. Sebab itu, dia berterima kasih kepada Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY yang telah memberikan fasilitas pendukung ekspor buah salak.
“Dengan demikian, salak pondoh tidak hanya dikenal karena keunikan rasanya, tetapi juga bermutu tinggi, standar ekspor yang terpenuhi, serta ketepatan dalam pengiriman dan penyimpanan,” katanya.
Ketua Paguyuban CV. Mitra Turindo, Suroto, mengatakan pihaknya mengekspor sebanyak 10 ton salak ke Kamboja pada Kamis (31/7/2025). Ekspor ke negeri Angkor Wat ini telah dilakukan sejak 2017. Selain ke Kamboja, Suroto juga mengekspor salak hingga China.
Suroto dan petani salak semakin bersemangat lantaran ada kemudahan dalam pengelolaan dan pengolahan salak setelah mendapat bantuan dari Bank Indonesia.
Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY, Sri Darmadi Sudibyo, mengatakan bahwa ekspor memiliki peran penting untuk menyumbang devisa negara. Ekspor menurutnya juga berperan dalam memperluas lapangan kerja serta menjadi tumpuan ekonomi di Sleman, dan Indonesia pada umumnya.
“Bank Indonesia merasa bangga dengan peran para petani salak di Sleman ini. Ini adalah hal strategis yang perlu kita tumbuhkembangkan bersama. Dengan fasilitas yang kami serahkan ini harapannya dapat mendukung produktivitas petani salak di Sleman ini," kata Darmadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Fee 5 Persen dan Ancaman Mutasi Terkuak di Sidang Abdul Wahid
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Libur Lebaran Ramai, Kamar Hotel DIY Justru Banyak Kosong
- Catat, Ini Lokasi dan Tarif Parkir Resmi Kota Jogja Tahun 2026
- Pengolahan Mandiri Efektif, Sampah Residu di Demangan Jogja Berkurang
- Kelelahan, Polisi Kapospam Tugu Jogja Meninggal Dunia Saat Bertugas
- Posko THR Bantul Terima 20 Aduan, 5 Kasus Dilimpahkan ke Provinsi
Advertisement
Advertisement







