DPRD DIY Ungkap Masalah Serius Sektor Pertanian, Ini Penjelasannya
DPRD DIY ungkap irigasi rusak, petani kesulitan air, hingga alih fungsi lahan yang ancam ketahanan pangan.
Petani membersihkan sampah di Selokan Mataram, Jumat (21/2/2020)./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, JOGJA–Rencana penutupan sementara Selokan Van Der Wijck dan Selokan Mataram pada Oktober 2025 mendatang menuai penolakan dari petani lantaran berpotensi mengganggu aktivitas pertanian. Pasalnya, jadwal penghentian aliran air bertepatan dengan musim tanam padi pada Oktober mendatang.
Sekretaris Aliansi Peduli Petani Sleman, Herman JP Maryanto, menuturkan bahwa kedua saluran air tersebut selama ini menjadi tumpuan utama bagi irigasi sawah, hortikultura, perikanan hingga sumber air sumur warga. Jika aliran benar-benar dihentikan, kata dia, lahan berisiko mengalami kekeringan yang berdampak pada ketahanan pangan.
“Kami tidak menolak adanya perawatan, tapi aliran air harus tetap tersedia agar petani bisa bekerja seperti biasa,” ujar Herman saat mendatangi DPRD DIY, Selasa (26/8/2025).
Herman juga menilai jadwal penutupan tidak sesuai dengan kesepakatan yang pernah dibuat. Dalam rapat koordinasi 25 Oktober 2024 lalu, disepakati bahwa penutupan total selokan baru dilakukan pada November 2029.
Namun, informasi terbaru menyebutkan rencana itu akan dimajukan menjadi Oktober 2025 tanpa ada sosialisasi langsung kepada petani.
Menanggapi kondisi ini, Ketua DPRD DIY, Nuryadi meminta Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) meninjau kembali rencana tersebut agar tidak merugikan masyarakat. Ia menekankan pentingnya komunikasi antara pihak balai, pemerintah daerah, dan petani.
“Kalau hanya pemeliharaan kecil, seharusnya tidak sampai menghentikan aliran. Harus ada mekanisme yang memastikan pemeliharaan berjalan tapi kebutuhan air tetap aman,” tegas Nuryadi.
DPRD juga menyatakan siap menjadi mediator dialog lanjutan antara seluruh pihak demi menemukan solusi yang seimbang antara kebutuhan perawatan saluran bersejarah dengan keberlangsungan pertanian dan ekonomi warga Sleman.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWSSO, Vicky Arianti, menjelaskan bahwa penutupan sementara diperlukan untuk perbaikan saluran yang sudah berusia tua. Menurutnya, proses ini hanya berlangsung sekitar satu hingga dua minggu dengan dukungan teknologi agar lebih cepat selesai.
“Secara teknis aliran memang harus dihentikan lebih dulu, tetapi waktunya masih bisa dimusyawarahkan. Bahkan ke depan kami mengusulkan pemeliharaan terjadwal setiap tahun agar kondisi selokan tetap terjaga dan sesuai dengan jadwal tanam petani,” terangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD DIY ungkap irigasi rusak, petani kesulitan air, hingga alih fungsi lahan yang ancam ketahanan pangan.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.
BMKG DIY memperingatkan potensi El Nino 2026 yang memicu musim kemarau lebih kering dan risiko kekeringan ekstrem mulai Juli hingga Oktober.
Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menyelenggarakan SV Career Days UGM 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM mulai Kamis (21/5/2026)
Gapasdap mengungkap 7 kapal tenggelam di Gilimanuk diduga akibat truk ODOL. Pelanggaran muatan berlebih kini ancam keselamatan pelayaran.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.