Kronologi Klitih Maut di Kotabaru Jogja, 1 Pelajar Meninggal Dunia
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo saat meninjau lahan pertanian di Kelurahan Patangpuluhan, Kemantren Wirobrajan, pada Kamis (4/9/2025). Ist/ Dok. Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Kota Jogja berencana memperluas pendirian Unit Pupuk Organik (UPO) di setiap kemantren, dengan memanfaatkan bahan baku dari dedaunan dan sisa dapur rumah tangga. Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, menyebut upaya ini penting untuk menekan volume sampah yang menumpuk.
“Kalau di setiap kemantren ada UPO, maka sampah organik tidak lagi dibawa ke depo. Sebaliknya, bisa kembali ke masyarakat dalam bentuk pupuk yang bermanfaat untuk pertanian perkotaan,” ujar Hasto saat meninjau lahan pertanian produktif yang dikelola warga RW 07, Kelurahan Patangpuluhan, Kemantren Wirobrajan, Kamis (4/9/2025).
BACA JUGA: Hasil Armenia vs Portugal: Skor 0-5, Cristiano Ronaldo dan Joao Felix Brace
Lahan pertanian di bantaran Sungai Winongo yang dulunya kumuh kini berubah menjadi area hijau berkat Kelompok Tani Winongo Asri. Menurut Hasto, lokasi bantaran sungai sangat potensial dijadikan titik pengolahan pupuk karena kaya vegetasi.
Daun-daun kering yang berguguran bisa diolah sebagai bahan utama pupuk organik. “Kami sedang mencari lokasi yang tepat, dan salah satunya di bantaran Sungai Winongo ini,” katanya.
Selain dari dedaunan, UPO nantinya juga mengolah sisa dapur rumah tangga. Langkah ini sekaligus menutup celah sampah organik menumpuk di depo. Dengan begitu, manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat melalui hasil pertanian.
Hasto juga mengapresiasi kreativitas warga RW 07 yang sudah lebih dulu memanfaatkan sampah dengan cara budidaya maggot. Upaya tersebut terbukti efektif mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus memberi nilai tambah.
“Saya sangat kagum dengan apa yang dilakukan para anggota KWT Winongo Asri. Budidaya maggot ini bukan hanya sekadar inovasi, tapi bukti nyata kepedulian warga terhadap lingkungan,” ucapnya.
BACA JUGA: Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 7 September 2025: Dari Stasiun Palur ke Lempuyangan dan Tugu
Menurutnya, inisiatif warga merupakan kunci utama pengelolaan lingkungan di Kota Jogja. “Kekuatan utama Jogja ada di warganya. Kalau semangat ini ditularkan ke wilayah lain, saya optimis persoalan sampah bisa diselesaikan,” kata Hasto.
Ketua RW 07 Patangpuluhan, Elly Popika Sari, menambahkan Kelompok Tani Winongo Asri aktif menjaga bantaran Sungai Winongo agar tidak kembali kumuh. Selain bertani sayur mayur, kelompok ini juga fokus pada pemanfaatan sampah organik dan budidaya maggot.
“Dengan kegiatan ini, masyarakat bisa menjaga kebersihan sekaligus meningkatkan ketahanan pangan keluarga,” ujar Elly.
Ia berharap dukungan dari Pemkot Jogja membuat kawasan bantaran sungai terus berkembang sebagai ruang hijau produktif sekaligus model pengelolaan lingkungan berbasis komunitas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.
X batasi unggahan hanya 50 per hari untuk akun gratis. Kebijakan ini dorong pengguna beralih ke layanan berbayar.
Jalan rusak menuju Gua Pindul Gunungkidul dikeluhkan warga. Perbaikan dijadwalkan Juli-Agustus namun belum menyeluruh.
IDAI mengingatkan bahaya heat stroke pada anak saat cuaca panas ekstrem akibat El Nino. Orang tua diminta atur aktivitas dan cairan.
Defisit APBN April 2026 turun ke Rp164,4 triliun, keseimbangan primer kembali surplus Rp28 triliun.